My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 109 - Are We Lose? (4)


__ADS_3

"Belum mati," gumam orang tersebut.


Shella spontan menggigit bibir bawahnya dan mengerutkan hidungnya, lalu tiba-tiba saja sebuah belaian lembut mendarat di rambut halusnya. Pelecehan. Rasa takut itu menyeruak memenuhi seluruh bagian tubuhnya hingga kedua tangannya yang sedang digenggam erat oleh orang itu bergetar hebat.


Shella kemudian dapat merasakan tubuhnya disentakkan ke arah belakang dengan lembut, sebelum punggungnya terantuk ke sebuah batang pohon. Apa ia akan dibanting ke pohon ini?


Lalu, sebuah tangan kekar terasa mengelus pelan wajahnya seraya mengecup perlahan keningnya. Namun, Shella malah menyatukan kedua alisnya heran. Napas yang terasa berat dan hangat itu menerpa wajahnya, seolah-olah orang itu sudah berada dalam jarak yang amat dekat dengannya.


Siapa ini?


Pertanyaan itu akhirnya menyeruak masuk ke dalam benaknya, tapi dalam keadaan berbahaya seperti ini, Shella masih memejamkan kedua matanya dengan erat tanpa memutuskan untuk membukanya sampai kapanpun.


"Hei." Sebuah usapan yang lembut mendarat di punggungnya, dimana membuat Shella semakin takut dan ingin memberontak saat itu juga.


"Aku bukan orang jahat. Kau tidak usah memejamkan matanya dengan erat seperti itu." Suara bariton itu kembali terdengar dengan terselip sedikit nada kekehan geli di dalam sana.


Shella akhirnya sedikit membuka mata. Kata 'bukan orang jahat' tadi membuat ia nyaris menghembuskan napas lega karena berpikir bahwa ada seseorang yang telah menemukannya dan menyelamatkannya. Rasa takut yang tadinya menyusup ke dalam dirinya berangsur-angsur menghilang dengan perlahan.


Akhirnya, bayangan orang itu terbentuk secara perlahan saat Shella mulai berhasil menangkap pandangannya. Pria dengan wajah yang telihat tidak asing tersebut tampak tengah tersenyum dengan jarak yang lumayan dekat darinya.


Tapi, di detik selanjutnya, Shella malah tertegun. Tubuhnya terpaku dengan lidah yang terasa kelu untuk berujar. Mata birunya sedikit terbelalak, seakan-akan tidak percaya dengan penglihatannya saat ini.

__ADS_1


Plak.


Tanpa berpikir panjang, tangan mungil milik Shella langsung terayun dengan cepat menuju ke pipi pria itu begitu saja. Suara tamparan terdengar nyaring, bertepatan dengan wajah tersebut yang sontak terpaling ke kiri akibat aksinya, sebelum tangan pria itu sendiri memegangi pipinya dengan rasa yang tidak percaya.


"Hei, Shella! Apa yang kau lakukan!" raung pria tersebut, seakan-akan meminta belas kasihan dari gadis yang berada di depannya. "Apa salahku!"


Mata biru milik Shella langsung membulat besar dengan sebelah tangan yang menutup bibir merahnya yang setengah terbuka. Gadis itu semakin terkejut.


"Ma--maaf. Aku tidak bisa mencegah gerakan refleksku tadi," ujarnya seraya menatap khawatir ke arah pria yang sudah terlihat tampak sangat kesakitan itu. Aduh, Shella bodoh! Shella hanya semakin panik saat ringisan sakit itu terus terdengar meraung-raung di dalam telinganya.


Namun, pria itu kemudian tampak menoleh ke arahnya, sebelum tiba-tiba saja tersenyum lebar, seakan-akan kejadian tadi bukanlah masalah apa-apa. Ia lalu bergerak mengambil Shella dan menghempaskan gadis itu ke dalam pelukannya yang terasa hangat.


"Syukurlah kau selamat," seru pria tersebut dengan nada yang terselip penuh semangat. Tangan kekarnya bergerak mengelus punggung Shella, seolah-olah ia sedang berusaha untuk menurunkan semua rasa ketakutannya.


"Andrew adalah temanku juga. Kau pasti mengenalnya, bukan? Dialah yang memberitahuku semuanya selain kepada Zavier," ujar Christian dengan lembut. Ia mengecup puncak kepala Shella dengan penuh rasa kasih sayang.


Jadi, selama ini Andrew adalah teman Christian juga?


Namun, seakan-akan teringat dengan sesuatu, rasa takut itu kembali menjalar ke seluruh bagian tubuh Shella. Ia mengangkat kepalanya, membuat Christian hanya menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Bibirnya merahnya terbuka, ingin mengatakan sesuatu yang penting kepada pria itu sesegera mungkin.


"Mereka semua dalam bahaya," ujar Shella yang tampak panik di tempat.

__ADS_1


Christian sedikit melonggarkan pelukannya. "Siapa?" tanyanya dengan tatapan yang berubah menjadi tajam.


"Andrew, kakakmu, seorang gadis dan mantan pacarku," tutur Shella dengan cepat dan menyadari bahwa raut wajah Christian sudah sepenuhnya berubah menjadi marah.


Ini bukanlah Christian yang biasa dikenal oleh Shella. Kali ini, pria itu terlihat sedikit lebih menyeramkan dan menakutkan.


"Aku akan menolong mereka. Kau lebih baik segera mencari pertolongan dan keluar dari sini. Aku pasti akan menyusulmu dari belakang," seru Christian dan segera beranjak dari tempatnya. Namun, gerakannya berhenti kala tangan Shella menahan tubuhnya.


"Aku tidak tahu bagaimana caranya mencari pertolongan," balas gadis tersebut, membuat pria itu hanya mendesah panjang. Sebenarnya, Christian tidak ingin meninggalkan Shella seperti ini, tapi keadaan menyempit yang menderanya membuat ia tidak mempunyai pilihan yang lain selain ini.


"Apa kau memiliki ponsel? Kau bisa menelepon polisi dan mengirimkan lokasi ini."


Shella menggelengkan kepalanya dengan pelan. Gadis itu tidak tahu dimana letak tasnya semenjak kejadian aksi penculikan tersebut. "Aku tidak memiliki ponsel." Mata birunya kemudian menatap nanar ke arah Christian.


Christian lalu mengacak-acak rambutnya dengan frustasi, sebelum kembali melirik ke arah Shella. "Kita tidak bisa keluar dari hutan ini. Jaraknya berpuluh-puluh kilometer untuk menemukan jalanan aspal dan menemukan penyelamat, serta itu sudah pasti akan membutuhkan waktu yang lama," serunya dengan nada yang tercekat. Ia menghembuskan napas.


"Kalau begitu, aku ikut," balas Shella dengan cepat. Gadis itu bangkit dari tanah dan menatap ke arah Christian dengan tatapan yang bersinar-sinar penuh terang.


Pria itu melebarkan matanya. "Tidak, itu berbahaya. Kau lebih baik--"


Shella kembali menggeleng pelan yang dipenuhi dengan harapan yang besar. "Aku bisa membantumu. Aku tahu dimana letak rumah itu dan seluk beluk bagian tempatnya. Aku tidak lemah karena aku pernah belajar ilmu bela diri," selanya seraya menggenggam erat sebelah tangan kekar milik Christian.

__ADS_1


Shella tahu bahwa mungkin ini adalah bagian rencana yang paling buruk, tapi membiarkan Chrisitan pergi menyelamatkan mereka semua seorang diri? No way, ia akan turut membantu karena dirinya sudah ikut turun ke dalam masalah ini.


__ADS_2