
Di detik selanjutnya, suara pintu yang dibuka terdengar, bersamaan dengan suara pistol yang ditembakkan ke arah mereka berdua.
Mata Andrew bergerak liar dan menatap ke sekeliling, berusaha untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa melindungi mereka berdua. Hingga akhirnya, ia menemukan sebuah meja besar yang terletak tak jauh dari tempatnya.
Andrew kemudian melirik ke arah Shella yang masih dibopongnya dengan kedua tangan, sebelum ia langsung menuju ke arah meja itu secepat kilat.
Setelah berada di belakang benda itu, ia sedikit menghela napas lega karena Shella tidak tertembak sedikit pun. Lalu, Andrew langsung membalikkan papan meja itu ke arahnya sebagai sebuah tameng, guna untuk melindungi
mereka berdua dari tembakan-tembakan tersebut.
"Kuharap kau bisa diam dan jangan pernah bergerak keluar dari papan meja ini. Harus diketahui jika aku tidak bisa menjagamu setiap saat," ujar Andrew dengan nada yang mulai gusar.
Pria itu menurunkan tubuh mungil tersebut ke atas lantai dengan hati-hati, lalu memberikan pistol yang diggenggam oleh Shella tadi.
"Pakai jika perlu," ujar Andrew.
Belum sempat Shella kembali bertanya, suara tembakan yang dituju ke arah mereka kembali terdengar, membuat gadis itu langsung memekik terkejut.
"Jangan membuat Zavier memarahiku," tambah Andrew lagi, lalu sepersekian detik setelahnya, dirinya langsung melesat keluar dari meja tersebut.
Shella hanya mengerjap, bingung dengan semua perkataan Andrew barusan. Namun, gadis itu langsung terkesiap begitu dirinya mendengar suara pistol yang ditembakkan, disusul dengan suara keributan yang lain.
Panik. Itulah yang ia rasakan. Shella akhirnya memutuskan untuk sedikit mengintip dari samping meja dengan kedua tangan yang tetap memegang sebuah pistol.
Oh, astaga. Ia benar-benar sudah sangat takut sekarang. Selama seumur hidupnya ini, Shella tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan memegang sebuah senjata api yang mematikan.
__ADS_1
Melalui sudut matanya, Andrew terlihat sangat tenang dan santai dalam menghabisi semua anak buah Franklin. Bahkan dari pandangan Shella, pria itu tampak seperti ******** yang haus darah.
Bukan hanya itu, Andrew juga terlihat sangat gesit dalam menginjak perut lawannya dan membuatnya tumbang seketika, seakan-akan semua ini adalah hal yang paling sepele di dalam hidupnya.
Apakah pria ini adalah seorang mafia?
Tak butuh waktu yang lama, Andrew terlihat sudah selesai menghabisi semuanya. Shella mengerjap takut saat terlihat darah yang sudah berceceran di atas lantai dengan tubuh yang sudah menjadi mayat dalam sekejap. Oh my goddness sake...
Suara tembakan-tembakan yang tadinya berlomba-lomba untuk masuk ke dalam telinga Shella langsung menghilang begitu saja, menyisahkan helaan napas lelah dari seseorang.
Pria ini benar-benar manusia atau monster? Bagaimana bisa dia menghabisi lawannya yang memiliki jumlah yang banyak itu dalam waktu sesingkat mungkin?
"Nice, pintu sudah terbuka dengan sendirinya tanpa perlu repot-repot untuk membukanya lagi," seru Andrew dan menghela napasnya.
Shella hanya menatap ngeri ke arah darah yang berada di depannya, kemudian menggeleng pelan. "Kau membunuh mereka?"
What the hell? Bagaimana bisa pria itu...?
Andrew mengangkat kedua alisnya ke atas seraya menatap mayat-mayat yang berada di atas lantai. Ia mendesah pelan, menyadari bahwa Shella pasti akan takut dengannya. "Tidak, mereka hanya pingsan."
Berbohong.
"Apa kau akan membunuh Zavier?" tanya Shella lagi. Kali ini, ia beranjak keluar dari meja itu dengan tatapan yang sedikit horor.
Aish, bau amis dimana-mana membuat ia harus menahan napasnya untuk sejenak.
__ADS_1
"Zavier? Kenapa kau begitu yakin kalau aku akan membunuh Zavier?" tanya Andrew dan melipat kedua tangannya di depan dada. Setelah pria itu melihat Shella yang berjalan sampai di tempatnya, ia langsung mengkode Shella untuk segera keluar dari sini.
"Ya, kau yang menculikku dan membawaku hingga sampai disini. Kalau tidak salah, dari perkataanmu waktu itu, aku adalah orang yang akan dijadikan umpan untuk memancing Zavier. Entah apapun maksudnya itu..."
Andrew terkekeh. "Aku tidak mengatakannya. Tapi, pacarku-lah yang mengatakan kalimat sialan itu."
Shella menoleh ke arah pria tersebut dan menghunuskan tatapan tajamnya tanpa sebab. Mereka tetap melangkah ke depan tanpa Shella tahu-menahu kemana mereka akan pergi. "Siapa kau?"
Andrew menyunggingkan senyumannya, membuat ketampanannya semakin terlihat dan jantung Shella nyaris membludak keluar karena hal itu. "Apa kau telah begitu penasaran?"
"Ya."
"Baiklah, aku akan mengatakannya padamu," sahut Andrew, sebelum matanya tampak bergerak ke sana ke mari, seperti sedang mengawasi sesuatu. Dan setelah ia merasa tempat ini aman, pria itu kembali melanjutkan perkataannya.
"Kau bisa memanggilku dengan Andrew dan aku adalah teman dari Zavier, pacar sialanmu itu."
Shella sontak menatap ke arah Andrew dengan tatapan kagetnya, membuat pria itu hanya menoleh ke arahnya dengan senyuman tipis.
"Kenapa kau disini? Dan, tunggu, aku tidak mengerti. Kalau kau adalah teman Zavier, kenapa pula kau menyekapku disini?" tanya Shella lagi, namun dengan tatapan yang berubah menjadi curiga.
"Itu, yah... aku minta maaf mengenai hal itu. Aku diharuskan untuk melakukannya, atau identitasku akan terbongkar di hadapan Franklin."
"Franklin? Ayah Lina?"
Andrew menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Franklin tidak pernah mempunyai anak."
__ADS_1