
Shella mengarahkan jari tengahnya ke arah Zavier, kemudian menjerit keras kepada sosok pria yang telah keluar dari kamarnya tersebut. "**** you, jerk," umpatnya dengan keras dan kesal walaupun Zavier tidak dapat mendengarnya lagi.
Ia benar-benar akan membunuh pria itu dalam waktu yang dekat.
Tiba-tiba seakan teringat sesuatu, Shella kembali membuka ponselnya. Ia langsung mengetik sebuah pesan singkat dengan cepat.
You fucking jerk.
Send.
Beberapa menit kemudian, Shella sontak menggenggam ponselnya dengan erat ketika pria itu hanya membaca pesannya tanpa memiliki niat untuk membalasnya sedikit pun. Sekali lagi, ia kembali mengetik cepat dengan amarah yang mulai meletup-letup.
Aku bersumpah akan membunuhmu jika aku melihat wajahmu lagi untuk yang terakhir kalinya. CAMKAN ITU.
Send.
Kau tidak mau membalas pesanku? FineđĄ
Send.
Sialan kau bedebah, aku ingin sekali mengulitimu hidup-hidup.
Send.
Hell, pria itu benar-benar hanya membaca seluruh pesannya, bahkan tidak ada satupun balasan yang ia dapat dari Zavier. Pria ini sungguh kelewatan.
Baru saja ia hendak kembali merutuki pria itu, sebuah pesan yang masuk membuat kegiatannya spontan berhenti.
__ADS_1
Aku sedang berada dalam perjalanan menuju ke kampus, jangan terus menggangguku babyđ¶
Tanpa sadar, ia langsung menjatuhkan ponselnya begitu saja di atas ranjang setelah membaca pesan itu. Sesuatu yang berat tiba-tiba menghantam ke kepalanya, membuatnya tersadar dan teringat akan kegiatannya pada dunia nyata.
Astaga, ia baru sadar jika hari ini ia memiliki jadwal di kampus. Dan yang lebih sialnya ia tidak mengatakan apa-apa kepada Christina tentang dirinya yang tidak bisa datang hari ini. Tidak mungkin ia tidak meminta izin dan tidak mengabsen begitu saja.
Oh... Yang benar saja. Demi Tuhan.
Namun di tengah kegelisahannya itu, pikiran Shella justru tiba-tiba terarah kepada Zavier. Ia juga baru sadar jika pria itu merupakan dosen baru yang mengajarinya di kampus.
Berarti, apa ia akan memiliki kesempatan untuk meminta tolong sedikit kepadanya?
Jadi bagaimana dengan kegiatan di kampusku hari ini? Aku masih sakit. Bisakah kau memberikan izin padaku hanya untuk hari ini? Please?đ
Send.
Ah, tentu saja. Kenapa tidak? Sebagai seorang pria yang mencintai dan melindungi pacarnya dengan segenap hati, memang seharusnya aku mengizinkanmuđ
Gadis itu memelototi pesan tersebut dengan lama, tertegun dengan apa yang diketik oleh Zavier barusan. Ia memang sedikit lega karena pria itu langsung mengizinkannya tanpa banyak bertingkah. Namun, sebenarnya ia juga memliki rasa penasaran dengan hal ini. Ya, masih ada satu hal lagi yang menghantui pikirannya dari hari-hari yang lalu.
Sejak kapan mereka memulai hubungan? Apa pria itu sebegitu bodohnya hingga menganggap serius perkataan yang diucapkannya tempo hari itu?
Tapi, walau begitu, Shella dapat merasakan detak jantungnya yang memompa kian cepat. Matanya masih tertuju pada pesan itu. Apa ini? Apakah ini yang dinamakan penyakit jantung?
Seketika, Shella mengenyahkan pikirannya. Tidak!
***
__ADS_1
10.00 P.M
Shella mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali dan terbangun dari mimpi buruknya. Ia kemudian menegakkan tubuhnya yang terasa kaku dan menguap lebar di atas ranjang.
Kenapa mimpi itu harus kembali padanya?
Shit, ia sungguh tidak bisa menahan diri lebih lama lagi.
Mata birunya kemudian melirik jam yang berada di atas nakas untuk yang kesekian kalinya, dan ia kembali menghela napas. Untuk hari ini, entah kenapa ia merasa waktu menjadi berjalan begitu lamban.
Sejak tadi pagi, tubuhnya hanya duduk di atas ranjang secara menyedihkan, ditemani dengan dokter dan suster yang akan datang mengeceknya setiap satu jam sekali. Ia juga merasa sedikit mual dengan makanan di rumah sakit. Rasanya sangat hambar dan tidak mengundang selera.
Shella tahu bahwa dirinya sudah sembuh, namun sialan dengan semua dokter di sini. Tidak ada satupun yang mengizinkannya keluar dari tempat berputih ini dan ia terus dikurung seperti seorang penjahat. Padahal infus di tangannya sudah dilepaskan, bahkan tidak ada yang melarangnya untuk tetap memakan pizza yang dikasih oleh Clara tadi.
Sungguh, ia lebih baik memilih untuk tetap memakan pizza itu daripada memakan makanan rumah sakit. Tetapi tidak bisa, karena suster-suster cerewet tersebut juga memaksanya untuk tetap memakan bubur yang rasanya hambar di lidah.
Lord.
Sebenarnya, ada banyak sekali hal yang ia tidak sukai saat berada di rumah sakit. Dan itu membuatnya ingin segera cepat-cepat pergi dari tempat ini.
Shella sungguh merasa frustasi dan tidak tahan dengan keadaannya sendiri. Bahkan ia merasa akan gila sebentar lagi jika mendekam lebih lama lagi di sini.
Kenangan-kenangan dan memori itu, kembali merasuki dan menghantui dirinya. Dimana adiknya yang terbujur kaku dan diselimuti oleh kain putih, sementara dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya terdiam dan menyaksikan semua itu. Tentu saja itu sangat menyakitkan hatinya.
Kedua kaki mulus dan jenjang itu perlahan menuruni ranjang di mana tempat ia tertidur tadi. Tangannya kemudian mengambil tasnya yang berada di atas sofa dan memasukkan ponsel miliknya ke dalam.
Ya, Shella telah memutuskan bahwa malam ini ia akan langsung membayar biaya rumah sakit di resepsionis, lalu segera keluar dari tempat menyakitkan ini. Ia tidak peduli lagi dengan larangan-larangan dokter yang menyuruhnya untuk tetap menetap selama beberapa hari.
__ADS_1
6 May 2020