
"Kau! Bedebah!" rutuk Zavier dan meringis sakit, sebelum sebelah kakinya menendang kedua kaki Aron hingga membuat pria itu langsung terjatuh dengan wajah yang menabrak ke lantai.
"What the ****!" ringis Aron seraya mengelus pelan batang hidungnya. Ia mengumpat pelan dan berusaha untuk bangun dari lantai.
Zavier menatap ke arah Aron dengan tatapan yang semakin beringas, membuat pria itu mau tidak mau menatap ke arahnya juga. Aron menggertakkan giginya geram. "Kau!" pekiknya tidak terima dan spontan saja ia membangunkan tubuhnya yang terkapar dengan lemah tadi.
"Apa!" sahut Zavier dengan keras. Ia menaikkan kedua alisnya ke atas, tanda bahwa ia sama sekali tidak peduli dengan semua umpatan yang dikeluarkan oleh Aron tanpa henti.
Rasakan itu, dasar pria *****!
"Aku pasti akan memberitahu Shella tentang pekerjaanmu nanti," ujar Aron dan bergerak maju satu langkah ke arah Zavier. Ia menatap tajam ke arah pria tersebut seraya menggeram kuat-kuat. Kedua tangan yang berada di sisi tubuhnya terkepal dengan erat, hingga memperlihatkan buku-buku jarinya yang memutih.
"Kau mengancamku?" tanya Zavier. Emosinya langsung naik ke ubun-ubun begitu saja. Ia kembali menggertakkan giginya dengan geram.
"Ya. Setelah aku menoleransi sikapmu terhadap Shella, bukan berarti aku bisa menjaga rahasiamu selamanya. Zavier, kau bahkan sama sekali tidak tahu apa-apa tentang perempuan itu," ujar Aron dan menekan nadanya di setiap suku kata.
Zavier tersenyum mencemooh. Ia melangkah satu langkah ke arah Aron, membuat jarak mereka hanya tersisa satu meter. "Kenapa? Memangnya apa yang tidak kuketahui tentang Shella? Lagipula, siapa dirimu yang berani-beraninya menantangku seperti itu?"
Aron spontan memijit pelipisnya. Ia menelan ludahnya dengan kasar, sebelum kembali melirik ke arah pria tersebut. "Kau tetap tidak bisa menyembunyikan pekerjaanmu, Zavier. Shella pasti akan mengetahuinya suatu hari nanti. Jika kau ingin menjadi pacar yang baik, seharusnya kau juga menjauhi pekerjaan yang buruk itu."
__ADS_1
"Apa! Kau menyumpahiku? Dan tunggu, apa kau sedang menasehatiku sekarang?"
"Aku berbicara yang sebenarnya."
"Aku semakin yakin jika kau baru saja menyumpahiku, *******!"
Baru saja Aron hendak membantah ucapan Zavier, suara kekehan dengan nada yang tersiksa terdengar di seberang sana. Hal itu membuat Zavier dan Aron segera menoleh ke asal suara dengan penuh keheranan.
Tak butuh waktu yang lama, Zavier langsung menyadari bahwa ruangan ini bukan hanya berisi dirinya dan Aron, melainkan ada beberapa orang lelaki juga yang duduk di sudut ruangan. Ralat, bukan duduk, melainkan terikat secara mengenaskan di tempat duduk.
Oh, my...
Sementara itu, lelaki yang duduk di bagian tengah terlihat lebih mengenaskan lagi. Kedua matanya yang membengkak, hidung yang terus mengucurkan darah tanpa henti, apalagi melihat beberapa luka sayatan yang berada di lengan dan di kaki. Ah, jangan lupakan dengan beberapa lubang hasil tembakan pistol yang tercetak dengan jelas di telapak tangannya yang terikat kuat. Zavier sangat yakin jika Aron masih belum mengeluarkan peluru yang bersarang di dalam tangan tersebut.
Ugh... ternyata Aron sungguh kejam.
Zavier masih bisa melihat mata yang membengkak itu berkedip beberapa kali, sepertinya sedang berusaha untuk memfokuskan pandangan ke arahnya. Dan tak lama kemudian, ia dapat melihat kerutan dahi yang tercetak di wajah itu secara samar-samar. Pria gila tersebut sedikit terkekeh pelan.
Ia juga masih bisa mendengar suara kekehan yang terdengar berangsur-angsur semakin tersiksa tersebut. Bahkan mulut mereka sepertinya sudah ditutup dengan menggunakan lakban hitam secara berkali-kali.
__ADS_1
Oh, gosh...
"Mereka siapa?" tanya Zavier dan menoleh ke arah Aron dengan penuh penasaran. Kekesalan yang tadinya menyelinap di hatinya langsung menguar ke udara dan menghilang begitu saja.
Aron berdeham sesaat, lalu tersenyum miring ke arah pria-pria tersebut. "Hasil kerja kerasku. Bagaimana? Aku berhasil menangkap 3 anak buah dari orang yang menyerangmu beberapa hari ini," ujarnya dengan mata yang dipenuhi binar kebanggaan. Mungkin ia bangga karena dirinya telah berhasil menangkap 3 orang tersebut sendirian.
Sudut mulut milik Zavier berkedut samar. "Bagaimana kau bisa menangkap mereka? Atau tunggu, apa orang yang menembakku tadi pagi adalah mereka?"
Suara tertawa yang sepertinya sangat dipaksakan itu terdengar, membuat Aron maupun Zavier menoleh kembali ke arah pria yang sedang diikat di tengah-tengah. Tampak pria itu sedang menertawakan ucapan Zavier barusan, membuat otaknya seketika memanas.
"Well, pria yang sedang duduk di tengah itu adalah pelakunya," ucap Aron dengan tenang. "Kau boleh menghabisinya, tapi jangan sampai ia meninggal."
Zavier mengangkat sebelah alisnya dengan tertarik. "Tentu saja aku tidak mau dia sampai meninggal terlebih dahulu. Bukankah kita harus menikmati kesakitannya terlebih dahulu sebelum bertemu dengan malaikat pencabut nyawanya?"
Aron terkekeh pelan, mengiyakan perkataan Zavier barusan. Tangannya kemudian bergerak merogoh pistol yang ia sembunyikan di belakang pinggang, lalu, tanpa disangka-sangka oleh Zavier, Aron langsung menarik pelatuknya hingga menembakkan sebuah peluru ke arah pria tersebut.
Dor.
Satu peluru berhasil menghiasi betis pria itu, membuat dia langsung mengerang sakit.
__ADS_1