My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 95 - The Plan


__ADS_3

"Zavier! Kau gila!" pekik Aron, membuat Zavier semakin menendang tubuh Aron dengan brutal hingga pria itu terjatuh dari sofa dengan bokong yang mencium lantai.


"Ya, aku gila! Aku ingin sekali membunuhmu sekarang!" ujar Zavier dan tersenyum miring, sebelum dirinya turun dari sofa dan memukul Aron tanpa ampun.


Mereka saling menjambak, saling tendang, saling menyumpahi satu sama lain, bahkan saling menggigit dan saling memelintir kaki masing-masing.


"Kau ******** sialan! Memang apa yang kuperbuat hingga membuatmu marah!" pekik Aron, sebelum dirinya dapat merasakan tendangan yang dituju pada kakinya. Napasnya tersenggal-senggal karena telah menghabiskan sebagian energinya dan menatap ke arah Zavier dengan tajam.


"Aku marah sekarang! Dan kau adalah orang yang cocok sebagai alat pelampiasanku," ujar Zavier dengan tenang dan santai, membuat Aron langsung menampar pipinya satu kali.


Zavier mengerang panjang seraya memegangi pipinya dengan tidak percaya. Ia menghunus Aron dengan tatapan tajamnya, sebelum ia kembali menjambak rambut itu dan menampar balik pipi milik Aron.


Oh, my god. Kedua kucing yang sedang berantam entah karena hal


apa.


Aron kemudian menghindar saat melihat Zavier hendak menendangnya, sebelum dirinya mengambil kesempatan untuk menendang ************ milik Zavier. ******!!


Ouch. Zavier spontan meringkuk. Ia merintih sakit dan langsung membatalkannya niatnya yang masih ingin menendang balik Aron. Pria itu semakin melengkungkan tubuhnya hingga menjadi seperti bayi yang meringkuk dan sedang berada di dalam janin.


Shit!! Apa kalian tidak tahu betapa sakitnya bendaku ini?


Zavier menyipitkan matanya dan menatap tajam ke arah Aron, yang ternyata juga dibalas dengan tatapan tajam oleh Aron sendiri.


"Rasakan itu, sialan!" ujar Aron, membuat Zavier hanya memekik tidak terima.


"Bukan hanya aku yang merasakan ini, tapi kau juga," gertak Zavier, sebelum dirinya menahan kedua tangan Aron yang baru saja ingin menghajarnya, lalu sebelah kakinya bergerak menendang tepat di ************ milik Aron.


And ouch. Pria itu sontak terkapar di lantai. Ia mengeluh dan menjerit tertahan. Sial! Sebenarnya, ada apa dengan Zavier sekarang? Memangnya apa salahnya?


Zavier hanya tersenyum penuh kemenangan, namun itu tidak bertahan lama ketika dirinya mendapati Aron yang hendak menendangnya lagi.

__ADS_1


Ash, Aron sungguh keras kepala. Dengan keadaan yang masih sakit, ia masih dengan tekadnya ingin menghabisi Zavier hingga ke titik penghabisannya.


Ayolah, sebenarnya Zavier tidak ingin memulai semua peperangan ini.


"Jangan melawanku lagi," ujar Zavier dengan penuh penekanan pada setiap katanya. Tapi, sepertinya perintah itu sama sekali tidak didengar oleh Aron sendiri.


Dan, lanjutlah peperangan mereka. Saling tendang, mengaitkan kaki, saling menjerit hingga membuat mereka semakin terlihat seperti kucing liar yang berantam di sekitar tumpukan sampah.


"Zavier sialan!"


"********, busuklah kau ke neraka!"


Sementara itu, jauh dari apartemen milik Aron, beberapa pria berpakaian hitam yang berdiri di sisi gedung lain kebingungan melihat aksi Zavier dan Aron secara tiba-tiba. Mereka menurunkan senjatanya masing-masing, lalu berdeham tidak percaya.


"Apa-apaan mereka?" sahut salah seorang lelaki yang berada di paling depan kelompok mereka. Sepertinya lelaki itu adalah pemimpin anak buahnya.


Merasa ada yang tidak beres, pria bertubuh tegap itu bergerak mengeluarkan ponselnya dari saku celana, lalu mendial angka dan menelepon seseorang. Tak butuh waktu yang lama, teleponnya langsung dijawab oleh sosok di seberang telepon pada dering kedua.


"Kau masih mengawasi gerak-gerik mereka, kan? Jangan biarkan mereka kabur dari apartemen itu sampai pada waktu tepat yang akan kusuruh. Dan, kenapa kau meneleponku? Apa ada masalah?"


Oh, sungguh memalukan sekali.


"Jadi?"


Orang yang disebut Tuan itu bertanya, membuat pria itu langsung mengerjap sesaat. "Mereka terlihat sedang berantam hebat."


"Oh, ya?"


Tiba-tiba saja, kekehan dengan nada yang geli terdengar di seberang sana, membuat pria itu mau tidak mau tersenyum geli juga.


"Biarkan saja mereka. Tapi, jangan sampai mereka kabur dari apartemen itu."

__ADS_1


"Baik, Tuan."


Pria itu menggelengkan kepalanya beberapa kali, tanda bahwa dirinya masih tidak percaya. Ia kemudian menutup telepon itu dan kembali menyimpannya, sebelum kedua matanya melirik ke sekitar. Tampak beberapa anak


buah milik Zavier yang sudah terikat erat di ujung sana, mencengah mereka untuk lari ataupun menyerangnya.


Pria dengan bekas jahitan kecil di lehernya kemudian menoleh ke arah apartemen Aron, kembali memfokuskan dirinya ke pekerjaannya tadi. Namun, alangkah terkejutnya begitu ia telah mendapati bahwa tidak ada seorang pun lagi yang berada di sana.


Dan, ****... ia baru saja menyadari sesuatu.


***


"Kau memiliki rencana yang amat buruk, Zavier!" pekik Aron dan melemparkan pandangan kesalnya ke arah Zavier. Ia mengumpat kasar ketika langkah buru-buru mereka membuat selangkangannya terasa cukup perih. Tendangan pria ini cukup menakutkan dan mengerikan.


"Jadi, bagaimana lagi? Aku hanya terpikir dengan rencana tadi," ujar Zavier dan semakin mempercepat langkah kakinya. Ia kemudian berhenti di depan pintu lift, lalu menekan tombol menuju ke lantai bawah dengan sedikit tidak sabaran.


"Iya, tapi bendaku juga sakit, ******** kau!"


Zavier memutar bola matanya, kemudian menatap ke arah Aron dengan tatapan kesal juga. "Kau pikir milikku juga tidak sakit? Harus kukatakan jika bukan aku yang memulai semua peperangan ini!" bantahnya tidak terima.


Aron melayangkan tatapan penuh permusuhannya ke arah Zavier. "Ya, tapi memangnya kau pikir aku akan diam saja ketika menyadari bahwa kau terus memukulku dengan brutal? Ini adalah kesalahanmu karena tidak memberitahuku terlebih dahulu tentang rencana tidak masuk akalmu ini!"


Zavier memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Ya, ya, ya. Tapi, aku tadi hanya takut otak dangkalmu itu tidak akan mampu mencerna semua rencanaku nanti. Dan, yang terpenting dari semua itu, kita sudah berhasil mengelabui mereka semua."


Mendengar itu, Aron berdecak kesal. "Aku tahu! Tapi, kenapa pula korbannya adalah benda berhargaku ini? Dan, bukan aku yang memiliki otak dangkal, namun dirimu."


"Itu masalahmu," sahut Zavier dan menyunggingkan senyuman miringnya. "Dan, lagipula, memang otakmu sangat dangkal. Kau tidak usah membantah fakta yang ada."


Sepersekian detik setelahnya, Aron langsung memberengut sebal. Dasar Zavier idiot ini!


Bagaimana bisa Zavier tidak idiot? Bayangkan saja, ternyata kejadian pukul-pukulan tadi adalah salah satu rencana kabur milik Zavier.

__ADS_1


Idiot, kan?


Ya, idiot.


__ADS_2