
Zavier langsung saja menganggukan kepalanya. "Baguslah jika otak bodohmu langsung bisa menangkap apa maksudku."
Aron memicing tajam sejenak, lalu kembali menusuk steaknya asal-asalan, membuat makanan yang tadinya terlihat lezat di depan mata itu menjadi hancur.
"Zavier," panggil Aron lagi, membuat pria itu yang tadinya sedang memakan steaknya berhenti sesaat. Ia mengangkat wajahnya dan menatap penuh tanda tanya ke arah pria di seberangnya.
"Apa kau bisa mengatasi masalah di bisnis gelapmu?" tanya Aron.
"Kenapa?" tanya Zavier dan mengunyah potongan daging lezat itu.
"Aku bisa membantumu jika kau mau."
"Aku tetap tidak mempercayaimu."
Aron mendengus kembali. "Padahal aku mengetahui sesuatu yang tidak kau ketahui. Tapi, tidak apa-apa jika kau tidak ingin mendengarnya."
"Apa maksudmu?"
"Tidak apa-apa."
Zavier menghentikan pisaunya yang sedang membelah steak itu dan sedikit mengerutkan dahinya. "Apa yang kau tahu?"
"Kau sudah memiliki nomor teleponku, kan?" tanya Aron tanpa berniat untuk membalas perkataan Zavier.
"Hmm... ya."
Aron kemudian membersihkan mulutnya dengan kain yang tersedia, lalu beranjak dari tempat duduknya. "Jika kau berubah pikiran, kau boleh meneleponku atau mengirimkan pesan kepadaku kapan saja."
Zavier menegakkan tubuhnya. "Well, kalau aku tidak berubah pikiran?"
"Itu terserah padamu, Tuan mafia."
__ADS_1
***
"Jason, segera tutup pabrik ilegalku untuk sementara. Liburkan semua para pekerja dan setelah itu, carilah biodata tentang orang yang bernama Aron. Aku ingin semua itu sudah ada di meja kerjaku setengah jam kemudian."
Zavier langsung saja menutup teleponnya secara sepihak, lalu menghela napas sejenak.
Ia memegangi setirnya dengan erat, kemudian menjalankan mobilnya menuju ke suatu tempat yang sudah lama tidak dikunjungi olehnya.
Namun sialnya, saat Zavier baru saja menjalankan mobilnya menuju ke jalanan sepi, tiba-tiba lima pengendara motor dengan kecepatan penuh muncul dari arah belakang.
Entah darimana pastinya mereka itu datang, tapi Zavier dapat merasakan ada bahaya yang datang kepadanya lagi.
Zavier tentu saja terkejut, apalagi semua pengendara itu masing-masing memegang sebuah pistol dan mengarahkan benda itu ke arah mobilnya.
Not again.
"Shit," umpat Zavier dan meningkatkan laju mobilnya.
*Dor.
Dor.
Dor.
Suara tembakan pistol terdengar berbunyi empat kali, dan di detik selanjutnya, Zavier dapat merasakan keempat ban mobilnya kempes secara bersamaan.
"Don't shot my car, you fucking asshole!" rutuknya saat merasakan mobilnya perlahan berhenti.
Kelima pengendara motor itu tampak berhenti di depan mobilnya dan masing-masing turun dari kendaraannya sendiri.
Melihatnya hanya membuat Zavier menghela napas kesal.
__ADS_1
Sepertinya mereka semua adalah laki-laki, tapi tunggu.... Zavier memicingkan matanya ke arah pria yang sedang berdiri di tengah. Tidak, sepertinya itu bukan seorang pria jika dilihat dari bentuk tubuhnya yang langsing. Mungkin seorang perempuan?
Penasaran, Zavier langsung membuka pintu mobilnya, lalu beranjak keluar. Setelah itu, ia menolehkan kepalanya sejenak untuk melihat bagaimana keadaan ferrarinya sekarang.
Menyedihkan.
Dua ban di depan serta di belakang mobilnya telah bocor. Oh, jangan lupakan mobilnya yang langsung terlihat lusuh dan rongsok hanya dalam beberapa detik.
"Awesome," gumam Zavier kesal. Harus berapa mobil lagi yang hancur karena para penjahat udang ini?
Ia kembali menolehkan wajahnya untuk melihat ke arah orang-orang yang baru saja menghancurkan mobilnya.
Pria itu hanya mengangkat satu alisnya saat pistol yang mereka bawa masing-masing diarahkan ke dirinya. Ia kemudian tersenyum mencemooh dan berjalan menuju ke tempat mereka.
"Don't play with fire gun, guys," ucap Zavier santai tanpa menghentikan langkahnya. Ia terus berjalan menuju ke tempat pria bertubuh langsing itu.
*Ah, entahlah. Apa itu perempuan? Atau mungkin laki-laki?
Suara tembakan yang tiba-tiba dibunyikan ke arahnya membuat Zavier melompat tinggi ke udara untuk menghindarinya.
Meleset.
Dor.
Zavier kemudian memundurkan badannya ke kiri, lalu mengernyit masam. Ia terus melangkah maju hingga akhirnya tersisa jarak satu meter untuk menuju ke arah wanita itu.
Pria atau wanita, sih?
Topeng hitam itu menutupi seluruh wajah mereka masing-masing sehingga membuatnya tidak mengetahui siapa mereka sebenarnya. Celana hitam, baju hitam, masker hitam, topi hitam, sarung tangan hitam, jaket hitam, semua itu dipadukan menjadi satu dan membuat mereka menjadi sosok yang misterius.
"Hei, banci. Kau tidak tahu berapa harga mobilku ini, huh?" tanya Zavier dan melangkah satu langkah ke tempat sosok manusia yang berdiri di depannya. Ia menulusuri manik matanya ke arah orang itu, menelitinya dalam-dalam.
__ADS_1
Hingga tiba-tiba saja, ada satu hal yang ia tangkap dari posisinya saat ini, yaitu warna netra coklat milik banci itu terlihat nyaris sama dengannya.