My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 35 - Mysterius Birthmark


__ADS_3

"Kau lapar? Mau makan?" tanya Zavier dengan cepat, berusaha mengalihkan topik yang kejam itu.


Sementara itu, Shella hanya terdiam dan tidak menjawab. Namun, matanya tetap memandang ke arah mata coklat milik Zavier, menyelami ke dalam mata tersebut dengan lama.


Melihat Shella yang tidak menjawab, Zavier langsung mengambil pendapat tanpa bertanya lagi. "Kurasa kau lapar. Ayo, kita ke bawah untuk bersarapan."


"Is that okay?" tanya Shella dengan ragu. Dirinya akhirnya tersadar dari lamunannya tadi. "How about your dad? Apa dia tidak curiga denganku yang sedang berada di dalam rumahmu? Apalagi ketika ayahmu mengetahui bahwa aku tidur semalaman di sini."


"Oh, it's okay. Karena aku yang membawamu kesini, jadi aku yang akan menjelaskan semuanya. Tapi ada satu hal yang ingin kukatakan, aku tidak memiliki rencana buruk apapun padamu. Aku berani bersumpah," ujar Zavier serius.


Shella hanya mengangkat satu alisnya, melihat keseriusan pria itu yang terpatri jelas di matanya. Merasa tidak ada lagi pilihan lain karena sepertinya Zavier juga sedang tidak bermain-main, ia akhirnya sedikit menganggukan kepalanya. "Okay, okay. I trust you."


"Oh, really? Kalau begitu, terima kasih dan ayo kita ke bawah sekarang."


Shella hendak membuka mulutnya, berusaha untuk kembali memprotes kepada Zavier. Tetapi niatnya langsung dibatalkan ketika pria itu menarik pergelangan tangannya dengan sedikit memaksa sehingga membuatnya mau tidak mau harus mengikuti kemauannya.


Ck, menyebalkan.


Mereka berjalan keluar dan Shella sedikit takjub dengan rumah Zavier. Atau lebih tepatnya, mansion Zavier. Tetapi, bukan luas mansion ini yang membuatnya takjub karena dirinya telah terbiasa dengan semuanya. Well, Shella dulu juga pernah tinggal di sebuah mansion di New York saat sedang liburan di sana.


Yang membuatnya takjub sekarang adalah ada banyak sekali gambar yang dipajang di dinding sisi kiri dan sisi kanan. Di dinding sebelah kanan terdapat gambar keluarga, gambar Zavier sendiri ataupun gambar Zavier yang sedang berduaan bersama adiknya.

__ADS_1


Shella lalu menolehkan kepalanya ke dinding sebelah kiri. Di sisi itu terdapat gambar Zavier dari kecil hingga dewasa seperti sekarang. Namun, tiba-tiba saja Shella terbahak keras ketika matanya tanpa sengaja menangkap sebuah gambar dimana Zavier kecil sedang menangis dan menghisap jempol kanannya.


"Itu kau? Astaga!" ujar Shella sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dan terkekeh geli.


Zavier sontak menghentikan langkahnya dan sedikit memiringkan kepalanya ke arah Shella. Perempuan itu tampak sedang menahan tawanya seraya menatap ke arah lain, membuat pria itu juga ikut melihat ke arah objek yang sedang Shella lihat.


Tanpa sadar, ia sedikit membelalakan matanya saat melihat gambar itu. Bahkan dirinya sudah lupa jika masih ada pajangan gambar itu di dalam mansionnya.


Shit, itu sungguh memalukan.


"Tidak," elak Zavier cepat.


Zavier memandang gadis di depannya yang memang selalu tampak cantik baginya. "Huh, panggilan yang lucu sekali, baby," ujarnya yang mau tidak mau juga ikut terkekeh geli melihat tingkah Shella.


"Kau kenapa, sih!"


Shella memukul pelan perut berotot milik Zavier, membuat pria itu sedikit mundur karena tingkahnya. Zavier tertawa, sementara gadis itu langsung tercengang sejenak dengan penampilan pria tersebut.


Tampan. Memang Shella harus mengakui jika pria ini lumayan tampan. Dan, entah kenapa, jantung sialannya langsung memompa dengan cepat.


Shella langsung mengalihkan pandangan. Ia menyetralkan perasaannya seketika, tidak ingin larut dalam hal semacam itu.

__ADS_1


Mereka kembali melanjutkan langkahnya, hingga pada saat sedang menuruni tangga, ada lagi satu foto keluarga yang menarik perhatiannya. Menurut Shella, sepertinya itu diambil pada saat Zavier tengah dalam masa kanak-kanak. Tapi tunggu dulu, ada yang berbeda di dalam sini. Terdapat 5 anggota di dalam sana, padahal gambar-gambar sebelumnya yang ia lihat hanya berjumlah 4 orang.


"Ini siapa?" tanya Shella dan menghentikan langkah Zavier. Gadis itu menunjuk ke arah seorang anak yang sedang tersenyum lebar di dalam sana.


Zavier memicingkan matanya dan menatap ke arah yang ditunjuk oleh Shella. Namun, di detik selanjutnya, wajahnya langsung berubah menjadi datar dan suram. "Dia sudah tiada."


Shella sontak terkejut. Ia menoleh ke arah Zavier dan dirinya dapat menangkap kesedihan yang terpatri di matanya. "Maafkan aku. Aku tidak mengetahui hal itu."


Shella menggigit bibir bawahnya. Tetapi, entah penglihatan gadis itu yang bermasalah atau memang ini kenyataannya, pria itu tiba-tiba saja kembali tersenyum. "Tidak apa-apa, itu sudah berlalu. Jangan meminta maaf. Ayo, kita ke ruang makan."


Shella hanya menganggukkan kepalanya, merasa heran dengan perubahan itu.


Ia kembali melirik ke arah gambar anak kecil itu. Tidak ada yang aneh menurutnya. Tetapi, ia langsung tertegun ketika mendapati sesuatu di sana. Sebuah tanda lahir di bagian leher anak itu, tanda yang sangat sama dengan pembunuh adiknya.


Apa maksudnya?


"Ada apa Shella?"


Pertanyaan Zavier membuat gadis itu tersentak dari lamunannya. Gadis itu terlihat serius menatap ke arah foto tersebut. "Tidak, tidak. Ayo pergi sarapan."


7 May 2020

__ADS_1


__ADS_2