
"Apa kau bisa membantuku untuk menemukan siapa yang dengan beraninya mengancamku baru-baru ini?"
"Kenapa tidak?" jawab Aron enteng.
"Dan, kau tahu apa yang dia gunakan untuk mengancamku?"
Aron mengedikkan bahunya tidak tahu.
"Dia mengancamku dengan menggunakan Shella," jawab Zavier seraya menghela napas.
Aron yang tadinya hanya menganggap tak peduli dengan kalimat Zavier sontak membelalakan matanya. "APA?"
"Karena itulah, bisakah kau membantuku? Aku sepertinya terlalu sibuk untuk melakukan semua itu."
Aron mengernyit jengkel. "Kau benar-benar seorang pria pembawa kesialan bagi Shella. Bagaimana caranya dia mengancammu?"
"Dia mengancamku--" Zavier tampak meneguk salivanya susah hingga terdengar suara jakunnya yang naik-turun. "--akan menculik Shella dariku."
***
05:30 PM
"Di sini, Shella," sapa Christina dan melangkahkan kakinya menuju ke arah gadis itu sembari melambai-lambaikan tangannya. Ia tersenyum lebar ke arah Shella yang sedang duduk di atas kursi yang tersedia di mall.
"Hi, friend," sahut Shella dan beranjak dari tempat duduknya.
"I miss you." Christina langsung membawa Shella ke dalam dekapannya, membuat gadis tersebut hanya terkekeh geli dan balik memeluk temannya.
"Kita hanya tidak bertemu selama satu hari, bagaimana mungkin kau telah begitu merindukanku, Christina," kekeh Shella dan melepaskan pelukannya dari perempuan itu.
"Satu hari adalah hari yang sangat panjang bagiku. Dan juga, kenapa dosen kita hari ini tidak datang? Apa dia bersamamu? Sebenarnya, apa hubungan kalian?" tanya Christina secara beruntun, membuat Shella kewalahan karenanya.
"Kita tidak memiliki hubungan apa-apa," elak Shella langsung. "Aku sedang ingin berbelanja baju dan masuk ke dalam salah satu toko."
__ADS_1
Christina memiringkan kepalanya sedikit, lalu mengikuti langkah Shella dari arah belakang. "Kau terlihat aneh untuk hari ini, Shella."
"Oh, ya? Aku tidak merasa begitu."
"Well, yes. Lagipula, kenapa kau memintaku untuk bertemu denganmu di sini?"
"Aku bosan di rumah. Kau tahu, tidak ada yang bisa kukerjakan selain makan, minum, tidur, dan membaca novel. Kau pasti tahu bagaimana rasanya, kan?"
Kedua sudut bibir Christina tiba-tiba tertarik ke atas, lalu melirik ke arah Shella. "Kenapa kau tidak mau berpacaran saja?"
Shella spontan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Hell, big no. Aku masih tidak ingin berurusan dengan hubungan-hubungan seperti itu."
Christina memasukkan kedua tangannya ke dalam jins celana, lalu mengangkat salah satu alisnya. "Kau bodoh sekali, Shella. Coba kutanya, apa kau pernah berciuman dengan lelaki lain?"
Mendengar itu, Shella langsung tersedak oleh ludahnya sendiri. Ia bergidik horror ke arah Christina. "Itu urusanku!" pekiknya ngeri.
"Kau tidak pernah?"
Kau telah berbohong, Shella. Sisi lain dari gadis itu berteriak, membuat wajah Shella memerah tanpa diketahui sebabnya.
Okay, ia tidak mungkin mengatakan jika dirinya sudah pernah berciuman dengan Zavier, bukan? Bahkan, baru beberapa jam yang lalu bibir panas pria itu menempel di bibirnya, ralat, bukan menempel, tetapi *******!
Ingat, pria itu adalah dosen mereka.
"Aku tidak yakin," sahut Christina dan berjalan masuk ke dalam salah satu toko yang mereka temui.
Ada apa dengan Christina hari ini?
"I think that is not your business," jawab Shella, lalu menjilati bibir bawahnya yang tiba-tiba mengering sesaat.
"Come on, Shella. Itu hanya masalah kecil. Kau bahkan sudah pernah melihatku beberapa kali berciuman dengan mantan pacarku."
"We are different, Christina. I can't do that such thing!" sahut Shella yang mulai kesal. Bohong, tentu saja bohong.
__ADS_1
Entahlah, dirinya tidak bisa menolak ciuman yang diberikan oleh pria itu sendiri. Memabukkan.
"Ck, kau terlalu konyol, my friend," ucap Christina sembari memilih-milih pakaian yang akan dibelinya.
"Yes, I am."
Shella merutuki kebodohannya. Astaga, bagaimana ia bisa melupakan Zavier jika saja Christina tanpa sadar terus mengingatkannya kepada pria tersebut.
The worst idea. Mungkin lebih baik jika ia tidak bertemu dengan Christina untuk hari ini.
Geez... Dasar gadis sialan ini, rutuknya dalam hati. Gagal sudah niatnya untuk melupakan hal-hal yang baru saja ia alami dengan Zavier.
Hanya dengan membayangkan ciuman panas itu, jantung Shella kembali berdetak dengan cepat. Padahal jelas-jelas ia sedang melihat pakaian yang digantungkan di toko ini, tapi kenapa malah dirinya berkhayal secara berlebihan dan berpikir sedang menciumi Zavier saat ini?
I am gonna crazy.
***
"Hi, Dad. Aku pulang," sapa seorang perempuan seraya membuka topeng hitam yang dipakainya tadi. Ia kemudian menghela napas lega karena telah terbebas dari benda tersebut. Ditaruhnya topeng itu di atas meja, kemudian berjalan dan bergerak duduk di atas sofa.
Gadis itu lalu melirik ke arah ayahnya yang sedang merokok di luar balkon.
"Kau mengganggunya lagi?" tanya suara bariton itu, sebelum melemparkan putung rokoknya yang sudah habis ke lantai dan menginjaknya dengan ujung sepatu. Pria itu terkekeh geli sembari membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke perempuan tersebut.
"Lebih tepatnya, aku hanya ingin menakut-nakutinya."
Pria paruh baya yang sedang mengenakkan baju hitam itu mengulum senyumannya diam-diam. "Dan, apakah itu berhasil?"
"As always, Dad. Tapi pria sialan itu menang separuh karena telah melemparkan sebuah granat ke arah anak buahku dan menyebabkan mereka langsung mati di tempat."
Pria itu seketika berdecak. "Wow, dia memiliki granat? Kau harus berhati-hati dengannya, baby girl."
Gadis itu menganggukkan kepalanya singkat. "Itu sudah pasti."
__ADS_1