
Zavier menatap aneh ke arah titik merah yang tiba-tiba berhenti di ponselnya. Ia mengernyitkan dahi dan tetap menancapkan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh peta tersebut.
Ya, ada yang aneh.
Tadi GPS ini masih bergerak pelan, namun entah kenapa titik merah itu tiba-tiba berhenti cukup lama di bagian jalan ini dan membuat firasat buruknya langsung melonjak naik.
Apa yang gadis itu lakukan di jalanan remang-remang dan sempit ini? batin Zavier setelah ia sampai di tempat yang dituju. Pria itu memelankan laju mobilnya, lalu melihat ke arah sekitar karena keberadaan dirinya sudah sangat dekat dengan titik merah di ponselnya.
Matanya terus mencari dan bergerak cepat, namun Zavier juga tidak dapat menemukan dimana Shella berada. Itu membuatnya langsung mendesah kesal dan memijit tulang hidungnya dengan pelan.
Atau jangan-jangan, gadis itu telah menyadari jika GPS tersebut berada di dalam tasnya? batinnya sekali lagi dengan heran. Dan setelah itu, ia memberengut jengkel untuk yang kesekian kalinya dan kembali memukul setir.
Panik, itu yang Zavier rasakan sekarang ini. Sudah lama Zavier tidak merasakan kepanikan ini. Rasa takut akibat tidak ingin kehilangan sesuatu juga mulai membuncah di dadanya. Aneh sekali.
Shella, kau berhasil membuatku khawatir untuk yang kedua kalinya, batin Zavier dengan geram. Ia akhirnya menyerah dan memutuskan untuk turun dari mobil agar memudahkan pencariannya pada sosok gadis pendek bermata biru itu.
Tak lupa juga Zavier meraih ponsel miliknya, lalu menutup pintu mobilnya dengan sekali sentakan.
Jadi apa yang harus dilakukannya sekarang? Sepertinya berjalan-jalan ke sekeliling merupakan ide yang bagus. Pria itu bisa menikmati udara malam, sekaligus mencari sosok yang sungguh keras kepala tersebut.
Namun, belum sampai sepuluh langkah ia berjalan, sayup-sayup Zavier mendengar sebuah suara bariton milik seseorang. Ia spontan menajamkan telinganya dan menghentikan langkahnya agar dapat memperjelas suara itu.
"Dia benar-benar perempuan yang angkuh." Sebuah suara bebicara, disusul oleh suara tawa dari beberapa lelaki lain.
Zavier menyatukan kedua alisnya, lalu melangkah perlahan untuk mendekati asal suara itu. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dan melangkah masuk ke dalam semak-semak di sekitar jalan itu. Pria itu terus mengendap-ngendap seperti seorang penjahat yang telah profesional dalam hal ini.
__ADS_1
Matanya memicing serius kala melihat beberapa sosok bayangan yang bergerak-gerak tak jauh dari hadapannya.
"Yeah, well guys. Kita harus segera membalas dendam kepada gadis ini karena dia telah melawan kita pada malam hari itu. Ck, bahkan dia dengan beraninya menendang barang milikku dengan sekali sentakan."
Suara itu semakin dekat, membuat Zavier yakin jika semua suara tersebut berasal dari gerombolan yang berada di depan sana. Masih dengan langkah yang pelan, ia terus melangkah maju ke depan tanpa rasa ragu sedikit pun.
Dan ternyata setiap langkah yang Zavier lakukan, firasat buruknya terasa semakin meningkat tinggi hingga membuatnya menjadi takut setiap detiknya. Geez, padahal dulu dirinya tidak pernah merasakan rasa takut yang berlebihan seperti ini.
Sesampainya di depan gerombolan itu, Zavier langsung tertegun ketika mendapati sosok yang dicarinya sedang berada bersama para pria tersebut.
Otaknya terasa panas dan meningkat hingga ke ubun-ubun, sementara matanya menatap tajam satu per satu para pria itu.
Ia masih mengingat mereka semua. Mereka adalah orang yang sama pada malam itu dan merupakan teman-teman dari Christian.
Zavier mengepalkan kedua tangannya dengan kuat hingga beberapa tetes darah terjatuh di tanah. Kuku tangannya terasa menusuk ke dalam kulitnya, namun rasa sakit itu tidak dirasakan oleh dirinya.
Ia tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Zavier menghembuskan napas secara pelan, sebelum akhirnya langsung berlari ke arah empat pria tersebut yang masih belum menyadari keberadaannya.
"SIALAN KALIAN! Beraninya tangan kotor milik kalian menyentuh kulitnya," bentak Zavier keras. Bahkan terlalu keras hingga membuat semua pria yang berada di sana terkaget sejenak.
Ia tidak menyia-nyiakan waktu dan langsung menumbuk salah satu wajah terjelek yang ditemukannya terlebih dahulu. Pria tersebut sontak terjerembab ke tanah karena tidak sempat menghindari pukulan kerasnya.
"Hey, dude! Who the hell are you? **** you!" umpat pria itu ketika merasakan sudut bibirnya mulai mengeluarkan darah segar akibat pukulan keras di wajahnya.
Zavier menyeringai, kemudian menginjak perut pria itu dengan kuat ketika melihat orang tersebut hendak kembali berdiri. Tanpa belas kasihan, Zavier meraih pistol yang selalu disembunyikannya di belakang baju dan langsung menarik pelatuknya ke arah pria tersebut.
__ADS_1
DOR.
Bunyi peluru pistol terdengar menggelegar dan menggema memenuhi tempat gelap itu, dan setelahnya, sebuah peluru tampak bersarang tepat jantung di tubuh pria yang telah terkapar di tanah.
Sisi iblisnya telah muncul.
Ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada tiga pria yang berada tak jauh darinya. Zavier tersenyum, atau sebaiknya bisa disebut dengan senyuman maut bagi mereka. Ketiga badan pria itu tampak bergetar dengan hebat, membuat Zavier langsung berdecih dalam hati melihat kelemahan mereka.
"Just choose one. Run or die?" tanya Zavier dan mengangkat kakinya dari perut mayat di bawahnya. Ia mengarahkan mulut pistolnya ke arah mereka.
Tanpa disuruh, ketiga lelaki itu langsung berlari terbirit-birit, sedangkan Zavier hanya tersenyum remeh dan kembali menarik pelatuk pistolnya.
DOR
Satu orang terjatuh, kemudian diiringi oleh suara tembakan yang lain.
DOR
DOR
Pada gerakan terakhir, Zavier meniup ujung pistolnya, lalu menyimpannya kembali di baju belakangnya. Ia mendesah pelan.
Pria itu kemudian berbalik, lalu berjalan dengan santai menuju ke arah Shella yang tampak tersandar di salah satu pohon dengan tidak berdaya. Sesaat, tatapan matanya berubah menjadi kilatan khawatir dan dengan segera kedua kakinya berayun menghampiri perempuan itu.
7 May 2020
__ADS_1