My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 84 - The Secret Room (2)


__ADS_3

"Di sini," tambah Aron dan tersenyum misterius.


Pria itu kemudian berbalik dan menatap ke arah Zavier. Tampak pria tersebut menganga dengan lebarnya, membuat Aron hanya terkekeh geli.


Zavier pasti belum pernah melihat ruang rahasia seperti ini.


"Kau memiliki ruangan tersembunyi," ucap Zavier dan melirik ke arah Aron.


"Hmm..." Pria itu hanya bergumam untuk menyahuti ucapan Zavier. Ia mengangkat kedua bahunya tidak peduli, sebelum bergerak untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.


Zavier meneguk ludahnya sedikit penasaran, lalu melihat ke arah Aron yang terus berjalan masuk ke dalam ruangan tanpa menghentikan langkahnya.


"Kenapa kau hanya berdiri bodoh di sana? Segera ikuti aku," sahut Aron secara tiba-tiba saat menyadari bahwa Zavier masih saja berdiri bingung di luar sana.


Zavier mengangkat sebelah alisnya, sebelum mengikuti langkah Aron. Ia berjalan masuk ke dalam ruangan, hingga tiba-tiba pintu dinding itu langsung tertutup dengan sendirinya.


Wow, pria ini sungguh tidak bisa ditebak.


"Hei, tunggu. Kita sedang berada di mana sekarang?" tanya Zavier yang ternyata sudah begitu penasaran tentang tempat ini. Mata coklatnya terus melirik ke kiri dan ke kanan, melihat beberapa benda yang terpajang di lemari sana.


Ada lemari-lemari yang dipenuhi dengan pajangan pistol, peluru pistol, granat, pisau lipat bahkan ada juga beberapa benda penyadap suara dan baju rompi anti peluru. Oh, jangan lupakan dengan beberapa CCTV yang dipasang di setiap sudut ruangan ini.

__ADS_1


It's such an amazing thing.


Zavier kemudian menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ck, ternyata bukan hanya para mafia seperti dirinya yang menyimpan benda berbahaya seperti ini, bahkan Aron, pria gila ini juga menyimpannya.


Ia dan Aron ternyata merupakan pria yang berbahaya.


"Tempat rahasia," sahut Aron dan tersenyum geli ketika melihat reaksi bodoh milik Zavier yang sedang tertampang dengan jelas saat ini. "Lebih tepatnya, ruangan rahasia milikku. Kau adalah satu-satunya orang yang pernah masuk ke sini selain para musuh-musuhku."


Zavier menoleh cepat ke arah Aron. Sebelah sudut bibirnya terangkat tinggi, sedikit tertarik dengan perkataan pria tersebut.


Musuh?


"Kau memiliki musuh juga?" tanya Zavier dan menahan tawanya yang nyaris menyembur keluar. Wait! Pria bodoh ini memiliki musuh juga?


Aron kemudian menoleh, lalu tiba-tiba saja menyeringai ke arahnya.


Zavier spontan bersiap siaga dan melotot terkejut, membuat Aron yang tadinya sedang menatap serius ke arahnya langsung terbahak di tempat ia berdiri. Pria itu menyemburkan tawanya dengan keras, lalu melirik ke arah Zavier yang tampak sedikit ketakutan walaupun dia masih saja berusaha untuk menutup-tutupi sikapnya.


Pria itu kemudian berdeham sejenak. "Apa yang mau kau lakukan dengan pistol itu?" tanya Zavier dengan tenang, namun tidak setenang hatinya yang tiba-tiba saja bergemuruh hebat.


Dasar ******** gila ini!

__ADS_1


"Apa aku menakutimu?" tanya Aron balik. Ia mengangkat sebelah alisnya dan mengarahkan mulut benda itu ke arah Zavier. "Kau takut dengan ini?" tanyanya lagi, lalu melirik heran ke arah Zavier. Tanpa sadar, ia mengulum tawanya aneh.


"Tidak. Aku hanya terkejut ketika melihat kau mengambil pistol itu tadi. Kenapa? Kau mau menembakku dengan benda itu? Kau mau aku mati di ruangan kotor ini? Oh, jangan berharap. Aku lebih baik memilih untuk mati di kandang bebek daripada di ruangan ini," jawab Zavier dengan nada yang masih tenang.


Bohong! Zavier kembali berbohong. Ruangan ini bahkan terlihat sangat bersih dan sepertinya terus dirawat setiap hari. Kalau saja ia dapat memilih, tentu saja Zavier lebih baik memilih ruangan ini daripada kandang bebek.


Namun, tidak mungkin juga jika ia mengatakan bahwa dirinya akan dengan senang hati membiarkan Aron menembaknya disini, kan? No, big no... harga dirinya harus diselamatkan terlebih dahulu.


"Apa kau sedang gila?" tanya Aron.


"Tidak," sahut Zavier secara singkat, padat dan jelas.


Mendengar itu, Aron hanya menghembuskan napas kasar. Ia menurunkan pistolnya dan menyuruh Zavier untuk segera mengikuti langkah kakinya.


Pria itu memiliki masalah pada bagian mata. Bahkan Aron yakin sekali jika tidak ada sedikit pun debu yang terlihat di dalam ruangan ini. Bagaimana bisa dengan teganya Zavier menyamakan ruangan ini dengan kandang bebek?


Kalau begitu... Zavier-lah yang menjadi bebeknya. Mulut pria itu dan hewan tersebut terlihat sangat cocok. Sama-sama cerewet dan memiliki wajah yang jelek.


Mereka terus berjalan, hingga langkah mereka membawa ke sebuah ruangan yang entah kenapa Zavier dapat merasakan aura mencengkamnya. Suasana yang terasa menjadi sangat horor dan gelap, seakan-akan ruangan ini sedang berusaha untuk menakut-nakuti Zavier sendiri.


Ruangan aneh.

__ADS_1


"Biasanya aku menyebut ruangan ini sebagai ruang penyiksaan. Mau melihat-lihat? Aku memiliki tiket gratis, hanya khusus untukmu. Apakah kau berminat?" tanya Aron, sebelum memberikan tatapan penuh menggodanya ke arah Zavier.


__ADS_2