
Aron.
Nama pria itu kembali terlintas di kepala Zavier, membuat ia mengerutkan dahinya samar. Pria itu mengetuk jarinya di atas meja kerja miliknya seraya mengelus perban yang ditempelkan di dahinya. Zavier meringis pelan.
Ia tahu bahwa Aron memang cemburu dengannya saat dirinya sedang berada di dekat Shella. Ia juga sadar bahwa pria itu yang mengancam akan menembaknya di dalam telepon, namun kenapa Aron benar-benar melaksanakan ancamannya?
Hal tersebut akan sangat berbahaya jika saja peluru itu mengenai Shella.
Aku benar-benar bersumpah untuk membunuhmu Aron.
Zavier mengelus pelan perban putih di wajahnya, sebelum tiba-tiba saja ia tersenyum lebar seperti orang gila di balik meja kerjanya.
Menurutnya, ini benar-benar merupakan hal yang sangat romantis baginya.
Beberapa waktu yang lalu, Shella baru saja mengurusi lukanya walau luka kecilnya ini tidak terlalu sakit dan hanya mengeluarkan sedikit darah. Well, luka ini adalah hal yang sangat biasa baginya.
Tapi, ia masih mengingat binar mata kekhawatiran milik Shella yang menatapnya tadi. Hal itu seakan-akan menarik dirinya untuk jatuh lebih dalam ke pesona Shella.
Ugh... semoga saja ini tidak melemparkan dirinya ke hal yang buruk.
Zavier sendiri harus mengakui jika dirinya memang sudah jatuh ke dalam pesona Shella. Ia telah menyukainya.
Tapi, ia sangat berharap jika gadis itu akan menyukainya juga dan jangan sampai cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Karena cinta sebelah tangan itu akan terasa sangat nyeri dan menyakitkan, menurut versi Zavier.
Tidak, dia harus membawa Shella ke dalam dekapannya dan membuat perempuan itu untuk jatuh ke pesonanya.
Oh...
__ADS_1
Tiba-tiba saja, suara dering telepon dari ponsel milik Zavier terdengar, membuat pemiliknya langsung membuyarkan lamunan indahnya tentang leher indah milik Shella. Ia mengerjap sesaat, menghilangkan seluruh imajinasinya tentang perempuan itu.
Holly, great!?
Zavier melirik ke arah ponselnya, lalu pria itu spontan memicingkan matanya saat melihat nama yang tertera di sana.
Aron. Pria brengsek yang baru saja menembaknya dua kali tadi.
Zavier menyunggingkan senyuman miringnya, sebelum akhirnya ia mengangkat telepon tersebut. Lagipula, toh tidak ada salahnya jika ia ingin berbicara dengan sang penembak untuk sebentar.
"Ada kabar apa? Mau menembakiku lagi?" tanya Zavier dingin, ralat, super dingin.
Lalu, tak lama kemudian, terdengar suara pekikan yang amat keras di seberang telepon. Zavier mengerutkan dahinya. Itu terdengar seperti suara pekikan orang yang kesakitan. Setelahnya, ia dapat mendengar suara gebukan yang amat keras.
Apa ada hal buruk yang menimpa ******** sialan satu ini?
Gosh... ada apa dengan pria gila ini? Telinga Zavier masih bisa mendengar, bodoh! Kau tidak perlu berteriak seperti orang yang dirasuki setan.
Shit, gendang telinganya terasa akan pecah saat itu juga.
"Apa? Kau menyumpahiku?" tanya Zavier, sebelum mendelik tidak senang untuk sesaat.
"Gara-gara kau, Shella harus mengalami hal seperti itu. Kau mencari mati, hah!"
"Apa yang kau maksud? Bukankah kau yang mengancam akan menembak diriku jika berdekatan dengan Shella? Kau yang nyaris membunuh Shella, idiot!" pekik Zavier keras, berusaha menghentikan dadanya yang tiba-tiba bergemuruh hebat ketika mendengar perkataan dari Aron.
Apa pria ini sedang berpura-pura? Well, he is a bad actor.
__ADS_1
"Kau pikir aku yang menembakmu?"
"Siapa lagi kalau bukan kau? Kau adalah satu-satunya orang yang mengancam akan menembakiku saat itu. Masih berpura-pura?" desis Zavier, sebelum mencengkram erat ponselnya dengan sedikit geram.
Just go to hell, Aron!
Lalu, terdengar suara kekehan yang amat tersiksa dari seberang sana, sebelum suara Aron kembali menyahutinya.
"Jadi? Kenapa kau tetap menjawab teleponku saat menyadari bahwa aku adalah sang penembak tempo waktu itu?" tanya suara itu dengan dingin.
"Karena aku mau mendengar suara bajinganmu terlebih dahulu, sebelum aku tidak bisa mendengarnya lagi."
Suara tertawa sinis terdengar, lalu Aron kembali berkata. "Kenapa kau begitu yakin bahwa aku adalah penembak pada saat itu? Apa kau memiliki suatu bukti?"
"Ancaman yang dilontarkan olehmu waktu itu adalah buktinya," sahut Zavier.
Lalu, terdengar seperti suara seseorang yang mengerang kesal di sana, sebelum tiba-tiba telepon langsung ditutup secara sepihak dari seberang sana. Zavier merutuk kesal dalam hati.
Tapi, tak lama setelah itu, ada sebuah pesan singkat yang masuk ke dalam ponselnya. Ia membukanya dan membaca setiap huruf tersebut dengan cepat. Lirikan matanya tampak bergerak ke kiri dan ke kanan dengan tidak sabar dalam membaca setiap alphabet itu.
Bukan aku pelakunya! Pada waktu itu, saat aku selesai meneleponmu, tiba-tiba saja ada seorang lelaki bermasker hitam yang membiusku dari belakang hingga membuatku terkaget sekaligus panik untuk sesaat.
Beberapa pesan secara berderetan kembali masuk, membuat Zavier langsung menyipitkan kedua matanya.
Dia memang membiusku dengan sebuah kain, namun aku sengaja untuk tidak mencium sedikit pun obat yang menguar. Aku hanya berpura-pura pingsan dan mereka langsung terambil alih. Samar-samar, diriku dapat merasakan jika ada dua orang yang mengangkat tubuhku dan dimasukkan ke dalam mobil.
Lalu, untuk yang cerita selanjutnya dan jika kau ingin mengetahuinya... kau harus segera menemuiku di apartemen kemarin. Pukul 10 pagi ini. Dan, kuingatkan untuk jangan telat, atau kau akan menyesal.
__ADS_1