
Happy reading😞😞
_____________________
Tunggu... jangan bilang bahwa Zavier belum mengatakan perihal dirinya sebagai seorang mafia? Oh, lord! Ia harus berbicara dengan Clayton nanti.
"Kau yakin kau tidak mengetahuinya?" tanya William lagi.
"Ya, Dad. Dan, memangnya itu ada hubungannya denganku? Aku tidak peduli," sahut Shella yang memang sama sekali tidak peduli.
William menggaruk kepalanya. Tanpa sadar, ia berdeham sesaat, sebelum ia langsung beranjak dari sofa dan melangkah pergi dari ruang tamu tanpa mengatakan apapun lagi.
Melihat itu, Shella hanya mengernyit aneh. Ia sedikit heran melihat semua kelakuan daddynya tadi. Memangnya ada masalah?
Beberapa saat kemudian, gadis itu akhirnya memutuskan untuk mengangkat bahu tidak peduli, lalu ikut beranjak dari sofanya juga. Ia berjalan dan menaiki tangga untuk menuju ke dalam kamar tidurnya.
***
Setelah sampai di dalam kamar tidurnya, William langsung saja menutup pintu kamarnya dan segera menguncinya, mencegah Shella untuk datang ke sini.
Shit!?
Pria paruh baya itu kemudian merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel miliknya, lalu dengan cepat mengetik sebuah pesan singkat yang akan ia kirimkan kepada seseorang.
Clayton, apa anakmu masih bekerja sebagai mafia sekarang?
Baru saja William hendak kembali menyimpan ponselnya, ternyata orang yang berada di sisi seberang ponselnya telah membalas terlebih dahulu.
Iya, dia masih enggan untuk menghentikan pekerjaannya. Padahal aku sudah menawarkan perusahaanku kepadanya, namun dirinya masih tetap seperti dulu. Selalu keras kepala dan suka membantah. Tapi kenapa? Tidak biasanya kau bertanya seperti itu.
Membaca pesan itu membuat William membatalkan niatnya untuk menyimpan kembali benda tersebut. Ia sedikit mengerutkan dahinya, membuat beberapa keriput terlihat samar di sekitar wajahnya. William menggelengkan kepalanya dengan pelan, sebelum jarinya bergerak menulis sesuatu di dalam ponselnya.
Tidak, hanya saja, aku ingin bertanya sesuatu.
Ya? Ada masalah?
__ADS_1
Tanpa sadar, William menggigit bibir bawahnya saat membaca balasan dari Clayton. Ia menghembuskan napasnya dengan perlahan.
Apa Zavier memang menyukai anakku?
Setelah mengirimkan pesan itu, ia kemudian berjalan menuju ke kasur dan mendudukkan bokongnya di atas benda yang empuk tersebut. Pria itu terus menatap ke arah ponselnya dan menunggu balasan Clayton dengan tidak sabaran. Tanda checklist di pesannya juga sudah terlihat, yang artinya Clayton sudah membaca pesannya.
Okay, ia memang telah mengetahui ada ikatan cinta yang tumbuh di antara mereka, tapi mungkin sepertinya ia harus mengeceknya lagi.
Namun, beberapa waktu telah berlalu dan orang yang berada di seberang ponselnya masih juga belum mengetik sebuah balasan. Hal itu membuat William semakin tidak sabaran hingga pria itu bergerak menyandarkan tubuhnya ke kepala tempat tidur. Kedua mata biru yang sama persis seperti milik Shella terus menatap ke arah benda bercahaya yang berada di depannya.
Apa Clayton tidak ingin membalas pesannya?
William menghela napasnya. Ia masih berusaha untuk menunggu dengan sabar, tapi sepertinya hal tersebut tidak disambut dengan baik oleh Clayton. Pria itu tetap saja tidak mendapatkan balasan apapun.
Salah satu tangannya bergerak memijit pelipisnya, sebelum tiba-tiba saja, hal yang sangat ia nanti-nantikan akhirnya dibalas.
Kurasa iya. Umm... kau tidak suka calon menantumu, ya?
Clayton hanya mengulum senyumannya secara diam-diam.
Send.
Tak lama kemudian, William langsung mendapatkan balasan.
Mungkin juga. Hmm... tapi, aku akan membiarkannya saja. Toh, itu juga bukan urusanku.
Dasar Clayton payah! rutuk William dalam hati setelah selesai membaca pesan itu.
Bagaimana bisa pria itu hanya bisa tenang-tenang saja? Sial, ia akan mengutuk pria tua ini nanti.
Bodoh!😐
Dan send.
William tersenyum lega, lalu menutup layar ponselnya tanpa merasa bersalah sedikit pun. Telinganya masih dapat mendengar bunyi ponselnya yang berdenting, menandakan bahwa ada beberapa pesan yang baru saja masuk, dan itu sudah pasti berasal dari Clayton.
__ADS_1
Tapi... biarlah teman bisnisnya itu mengumpat sesuka hati, karena William tidak akan peduli padanya.
***
Shella meremas gaunnya, kemudian menggigit jarinya dengan gugup. Lalu, ia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, sebelum kembali bangkit dari benda yang sungguh empuk itu. Gadis itu melirik ke arah ponselnya.
Dan, begitulah seterusnya kegiatan Shella. Ia terus melakukan hal itu berkali-kali hingga tubuhnya mulai merasa capek.
Ash! Motherfucker!
Mata biru itu menyorot tajam ke arah ponsel miliknya, sebelum ia kembali menghela napas dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Ia memberengut kesal, sebelum di detik selanjutnya, Shella mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.
Ini semua gara-gara, Zavier!
Jika saja dari awal dirinya tidak mengikuti ajakan Zavier, yang pasti ia tidak mungkin akan mengalami hal seperti itu.
Dua kali tembakan berturut-turut di dalam sebuah apartemen dan nyaris membahayakan nyawanya... Yang benar saja!?
Tapi, keluar dari semua pikiran itu, Shella malah mengkhawatirkan Zavier hingga saat ini. Bahkan jari-jarinya sudah terasa sangat gatal untuk segera mengirimkan pesan kepada pria itu.
Argh! Kenapa hatinya terasa sangat tidak tega untuk meninggalkan Zavier sendirian di dalam sana?
Shella menggelengkan kepalanya dengan pelan. Tidak, ia sudah semakin gila karena pria itu.
Ia kemudian bergerak cepat dan membuka layar ponselnya, sebelum gadis itu mengetik sesuatu di dalamnya.
Apa kau memerlukanku untuk mengobati lukamu lagi nanti?
Namun, jemari yang hendak menekan tanda kirim itu terhenti beberapa senti di atas layar. Tanpa sadar, ia menggigit bibir bawahnya dengan gugup.
Di detik selanjutnya, Shella malah menggelengkan kepalanya dan hendak menekan tanda itu lagi, tapi juga kembali berhenti di tengah perjalanan.
Ah, sudahlah!
Shella menutup kedua matanya, sebelum jemarinya langsung menekan tanda kirim tersebut. Namun, tak lama kemudian, ia malah melebarkan matanya dan spontan tergagap di tempatnya.
__ADS_1
No! Ia sudah mengirim pesan itu.