
Turner's hospital.
07:00 AM
Seorang gadis tengah membersihkan wajahnya di dalam kamar mandi. Beberapa tetes air tampak berjatuhan, menandakan bahwa ia baru saja selesai membasuh mukanya di wastafel. Shella mengamati wajah basahnya sendiri dalam diam. Kemudian pada detik selanjutnya, ia meraba-raba permukaan wajahnya yang terasa lembut dan bersih.
Oh, aku cantik, batinnya sembari terkekeh geli.
Ia meraih handuk yang telah disediakan di dalam lemari, kemudian mengusap pelan wajahnya agar menghilangkan sisa-sisa air yang masih menempel. Setelah itu, Shella kembali menaruh kain tersebut pada tempatnya dan merenggangkan otot-ototnya yang sedikit kaku.
Segarnya.
Setelah kemarin ia benar-benar mengistirahatkan tubuhnya, gadis itu merasa menjadi sedikit lebih baik pagi ini. Mungkin ia akan memutuskan untuk keluar dari rumah sakit hari ini daripada menetap lebih lama. Well, It's so boring.
Shella juga bisa merasakan jika demamnya sudah mulai turun, ditambah lagi dengan beberapa waktu yang lalu, seorang dokter telah mencabut jarum infusnya. Sepertinya dia akan sembuh dalam waktu yang dekat.
Ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi sembari bersiul senang. Tetapi itu tidak berlangsung lama, karena mata birunya langsung menangkap seorang pria yang tidak asing di dalam kamarnya. Pria itu terlihat tengah duduk di atas sofa dengan laptop yang berada di pangkuannya.
Shella memutar bola matanya dengan malas, lalu berjalan menuju ke ranjang putihnya. "Untuk apa kau kesini?" tanyanya setelah duduk di atas kasur. Entah kenapa, ia merasa menjadi sangat kesal sekarang tanpa diketahui penyebabnya.
Mata coklat itu mengikuti gerak-gerik Shella, sebelum akhirnya mulutnya mengulas sebuah senyuman tipis. Mata tersebut menyipit kala melihat gadis itu yang tampaknya sedang berada di tingkat kekesalan. "Bukankah kemarin sudah kukatakan padamu, bahwa aku akan mengunjungimu lagi ke sini pada esok paginya," kata Zavier dengan tenang, membuat perempuan itu langsung bungkam dengan sendirinya.
Shella menatap pria tersebut dengan tatapan horror, sebelum akhirnya tangannya meraih sebuah bantal yang terletak tak jauh darinya dan melemparkan benda itu ke arah wajah sialan yang tengah menampilkan senyuman terjeleknya.
Ia hanya ingin memastikan sesuatu yang terasa aneh baginya.
__ADS_1
Gadis itu lantas bergidik ngeri ketika melihat bantal itu berhasil mencium wajah Zavier dengan tepat. Matanya juga membulat tidak percaya saat pria tersebut tampak tersentak sedikit dan meringis kaget hingga membuang bantal itu ke lantai.
Apa ini memang kenyataannya dan bukan imajinasinya sendiri? Okay, sekarang ia merasa jika benar-benar ada sesuatu yang memang tidak beres di sini.
Setelah kemarin ia mendapat pesan-pesan dari seseorang yang ternyata adalah dosennya, kemudian pria tersebut sekarang sedang berada di sini, membuat tebakan Shella semakin terasa benar.
Pria ini adalah iblis.
Jika kemarin hanyalah serpihan imajinasinya, seharusnya bayangan pria ini juga merupakan khayalannya sendiri. Tetapi, melihat bantal tadi yang tidak menembus bayangannya itu membuat Shella kembali merasa takut sekarang.
Imajinasi yang sungguh luar biasa dan terasa sangat nyata. Baru pertama kali ia mengalami hal seperti ini dan di luar dari dugaannya, ternyata khayalannya juga memiliki hal-hal yang sangat gila selain di dalam dunia nyata.
"Kenapa denganmu?" tanya Zavier aneh.
What the hell.
Zavier langsung membelalakan matanya sembari menaruh laptopnya di atas meja. Ia memicingkan matanya dan menatap ke arah perempuan itu dengan serius. "Pardon me? What did you say? Bukankah kau yang lebih terlihat seperti setan dari padaku?," bantahnya tidak terima.
"Jadi darimana kau tahu tentang apa yang sedang kulakukan semalam?" Shella menatap tajam ke arah pria tersebut, sedangkan otaknya kembali mencerna dan memikirkan hal aneh ini.
"Oh my god baby, hanya karena hal itu kau langsung menganggapku sebagai setan? Memangnya kau pernah bertemu dengan setan setampan diriku? Yang kutahu semua setan itu memiliki dua tanduk yang tajam di kepalanya," seru Zavier berterus terang.
Shella spontan tersedak dan tentu saja tidak percaya dengan kalimat pria itu barusan. Apa? Baby? Setan? Tampan? Tanduk? Hell.
"Pak, kurasa otakmu terserang oleh penyakit aneh. Mungkin Anda sebaiknya pergi mengecek ke dokter daripada menjadi gila sebentar lagi."
__ADS_1
"What?" pekik Zavier tertahan. "Kau yang gila atau aku yang gila? Bukankah kau yang mengataiku seorang setan? Dan kenapa kau memanggilku dengan sebutan 'bapak', padahal sebenarnya kita masih berpacaran?" tanyanya beruntun dan tidak menerima kalimat Shella barusan.
Gadis itu sedikit bergidik horror. "Ya, kurasa Anda memang perlu untuk pergi mengecek otakmu. Sejak kapan aku menjadi pacarmu, sementara aku tidak merasa bahwa kau adalah pacarku?"
"Kau lupa jika kau yang menyatakan perasaanmu beberapa hari yang lalu?"
Mendengar itu, Shella tergagap. Ia menelan salivanya dengan susah. "A...apa? Aku tidak mengatakan hal itu," elaknya. "Dan jangan membahas topik itu lagi, aku tidak menyukainya."
Zavier terkekeh geli, membuat gadis itu langsung merutuk kesal. Ia mengabaikan suara pria itu dengan melihat ke arah ponselnya yang berada di atas nakas.
Benda berpetak itu lebih enak dilihat daripada melihat wajah sialan itu. God, Zavier Sialan.
Namun entah kenapa, jemarinya yang tadinya hendak membuka game terhenti, dan beralih ke sebuah pesan yang belum dibacanya.
Good night🙋♂️💙.
Shit, ia langsung menyesal setelah membuka pesan dari pria itu. Tetapi Shella juga tidak bisa menghentikan jemarinya untuk membuka foto profil dari pesan tersebut. Entahlah, hal itu seakan-akan menarik jemarinya untuk harus segera membuka foto itu.
Di detik selanjutnya, Shella tampak melotot tidak percaya dan menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Tanpa sadar, ia menahan napasnya. Seketika, Shella mengingat kembali kejadian malam yang sudah dilaluinya itu.
Pantas saja ia merasa tidak asing dengan pria ini, karena dirinya memang sudah pernah bertemu dengannya.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Shella dan beralih menatap pria itu dengan dingin.
5 May 2020
__ADS_1