My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 54 - Wait, What!? (3)


__ADS_3

Shella mendengus kesal saat mendengar topik yang dibicarakan oleh kedua lelaki itu kembali menyebutkan namanya.


"Jangan membahas tentang tentangku, Dad," tukas Shella tidak suka, namun perkataannya itu hanya dibalas oleh angin. Ia berdecih sebal lalu memutar bola matanya.


Bahkan tidak ada satu pun dari lelaki itu yang peduli padanya. Mereka berdua hanya mengobrol, mengabaikan Shella yang tampak menyedihkan ini.


Mengesalkan.


Ia kembali memfokuskan pandangannya kepada game yang sedang dirinya mainkan, lalu mengumpat kasar karena ponselnya tiba-tiba kehabisan daya.


"Maafkan aku, daddy. Kurasa aku harus pergi sekarang dan mengantar ayahku terlebih dahulu ke bandara. Maafkan aku karena tidak bisa mengobrol lama-lama di sini," ujar Zavier sembari melirik ke arah jam arlojinya. Ia kemudian beralih menatap William dengan tatapan maafnya.


Samar-samar, Shella yang duduk agak jauh dari mereka berdua mendengar kalimat itu. Ia tersenyum lega dalam hati.


Pergilah kau, aku sedang tidak ingin melihat wajahmu, batinnya.


"Oh, tapi kenapa dengan ayahmu? Apa dia akan pulang ke New York lagi?" tanya William.


"Hmm... ya. Pekerjaan disana akan menumpuk jika ayah menetap lebih lama lagi di Los Angeles."


"Ck, padahal aku masih ingin melihat wajahnya yang pasti sudah terlihat tua itu. Wajahnya pasti memiliki kerutan yang banyak, kan, Zavier?" tanya William dan terkekeh kecil. Tentu saja ia tidak serius dengan perkataannya sendiri.


Zavier hanya terbahak. Namun setelahnya, ia melirik ke arah Shella melalui ujung matanya karena sedari tadi perempuan itu tidak berbicara sepatah kata pun. Sepertinya, hanya dirinya dan daddynya Shella yang mewarnai suasana rumah ini.


Gadis itu terlihat menyendiri di ujung sofa sana, tampak sangat menyedihkan.


"Aku pamit pergi dulu," ucap Zavier dan beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Baiklah, hati-hati di jalan," ujar William yang hanya dibalas oleh senyuman tipis milik Zavier. William kemudian melirik ke arah Shella, menyuruh anaknya untuk segera menemani Zavier hingga keluar rumah.


Shella hanya memberengut kesal.


Zavier kemudian pergi, diikuti oleh Shella yang berada di belakangnya untuk menutup pintu gerbang nanti.


"I love you," ucap Zavier dan memajukan wajahnya untuk mengecup kening Shella. Namun, gadis itu langsung mundur dan menatap pria tersebut dengan tajam.


"Jangan berani menyentuhku," desis Shella kesal. Tapi di balik semua kelakuannya itu, ia malah merasakan jantungnya tiba-tiba berdetak cepat karena aksi pria tersebut barusan.


Zavier mengembangkan senyumannya. "Hmm... kenapa?"


Pria itu memajukan langkahnya, lalu mengangkat dagu Shella menggunakan jarinya dan menatap dalam ke arah mata biru itu.


Jantung Shella semakin berdetak dengan cepat, hingga rasanya benda itu terasa akan meledak saat itu juga.


"Love you," ucap Zavier dan tersenyum lebar.


"Just go away," tukas Shella. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi semerah kepiting rebus, membuat Zavier terkekeh kecil dan mencolek hidung mungil itu dengan sedikit geram.


Shella sontak mengaduh dan langsung memegangi hidungnya.


"Just remember this words 'I will always love you," ucap Zavier, sebelum akhirnya pria tersebut berjalan keluar dari rumah Shella.


Gadis itu terus menatap ke arah sosok yang sedang menyetop taksi, lalu menghilang setelah masuk ke dalam mobil.


Shella menghela napas, kemudian menutup pintu gerbangnya.

__ADS_1


Sementara itu, jauh dari tempat Shella, William telah melihat semua kejadian itu. Pria itu tersenyum tipis, menampilkan kerutan samar di ujung mulutnya tersebut.


"Dasar anak muda. Padahal aku sudah melihat ada ikatan yang mulai tumbuh di antara mereka, namun mereka masih saja menyangkalnya," ucapnya kepada dirinya sendiri sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Cinta, cinta... cinta dapat menakhlukan segalanya..


"Dad? Kenapa kau berdiri di sana?" tanya Shella ketika mendapati ayahnya sedang berdiri di ambang pintu.


William mengerjap seketika. "Ah, tidak. Ayo masuk ke dalam."


***


"Jason, taruh sekitar lima belas bodyguard yang tersembunyi di depan dan di belakang rumah perempuan itu. Jangan sampai terlihat mencolok dan jangan sampai lengah dalam setiap menit pun. Jika ada sosok yang terlihat mencurigakan, langsung saja telepon aku dan terus awasi gerakan mencurigakannya," ucap Zavier kepada orang yang sedang menyetir di balik kemudi.


"Baik, Tuan," balas Jason sembari melirik ke arah kaca mobil. Ia mengamati bosnya itu dengan seksama. "Tapi, apa Anda baik-baik saja? Tulang belakang Anda masih belum sembuh sempurna dan Anda baru mengalami kecelakaan mobil lagi. Apa mungkin kita harus pergi ke rumah sakit terlebih dahulu?"


"Tidak perlu. Aku merasa baik-baik saja. Sekarang, aku ingin membeli ponsel dulu. Antarkan aku ke toko terdekat," bantah Zavier keras kepala dan melihat ke arah luar jendela mobil.


Saat ini, ia sedang berada di dalam mobil taksi, atau yang lebih tepatnya, mobil yang disamar menjadi sebuah taksi.


"Apa Anda menyukainya?" tanya Jason secara tiba-tiba. Di detik selanjutnya, pria itu langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat, menyadari bahwa ia dengan lancangnya menanyakan hal itu kepada bosnya.


Hening sesaat.


Jason kembali melirik cemas ke arah Zavier melalui kaca mobil, takut kalau pria itu akan memarahinya ataupun memecatnya tanpa ampun. Namun, ternyata bosnya hanya memandang ke arah luar jendela mobil. Ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Zavier sekarang ini.


"Aku tidak tahu. Tapi, kurasa iya," jawab Zavier ragu, menghancurkan keheningan yang sempat tercipta selama beberapa menit. Mata pria itu hanya menatap kosong ke arah luar jendela, melamunkan sesuatu. Sementara itu, Jason hanya menyunggingkan senyuman samarnya.

__ADS_1


7 May 2020


__ADS_2