My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 110 - Safe Them All


__ADS_3

Zavier menatap ke arah Andrew yang berada di belakangnya, lalu sedikit menghembuskan napas lega ketika melihat pria itu sudah mulai terbangun dari tidur nyenyaknya. Kedua mata itu terlihat mengerjap kebingungan dengan suara rintihan yang tertahan.


"Ada apa denganmu?" tanya Zavier dengan kedua alis yang sedikit bertautan. Ia dapat melihat Andrew menggerakkan tangannya hingga membuat suara gemerincing rantai terdengar sedikit nyaring. "Kau terlihat tidak baik-baik saja."


Butuh waktu yang lama bagi Andrew untuk mencerna apa yang baru saja terjadi padanya. Pria itu tampak kembali meringis dengan tangan yang hendak memegang area perutnya, namun tertahan akibat rantai sialan yang berada di atasnya. "Hanya tertembak, tapi tidak parah. Hanya mengenai perutku."


Zavier dan Aron yang mendengar itu sontak melebarkan matanya terkejut. Mereka berdua sama-sama menatap ke arah perut milik Andrew, namun mata Zavier tidak menemukan setitik pun darah yang terlekat di bajunya. Begitu pun juga dengan mata Aron.


"Kau terlihat tidak berdarah," ujar Zavier dan sekali lagi, ia melirik ke arah perut Andrew untuk memastikan apa yang terlihat dilihatnya tadi.


"Iya. Apa kau yakin kau terkena tembakan?" Seakan-akan setuju dengan perkataan Zavier, Aron turut menyahut.


Andrew mengangguk singkat, sebelum sebuah senyuman manis secara terpaksa terpatri di wajahnya yang sudah terlihat kusam dan jorok karena terciprat oleh darah orang lain. "Aku memakai rompi anti peluru," ujarnya dan berhasil membuat Zavier menatapnya dengan sebal. Sial, kenapa pula tadi ia harus merasa cemas terhadap Andrew?


"Bedebah," rutuk Zavier saat melihat Andrew yang tampak hanya terkekeh geli. "Aktingmu terlihat buruk sekali. Kenapa tadi kau tidak sekalian mati saja?"


Andrew menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju. "Tidak, tidak. Aku masih belum mau mati. Gara-gara Shellamu itu, aku ditembak seperti ini. Apa kau tidak merasa kasihan sedikit pun?"


Zavier spontan mengernyit. Oh my god, bagaimana keadaan Shella?


"Dimana Shella sekarang?" tanya Zavier dan menatap lurus ke arah wajah ******** milik Andrew.


"Ya, dimana Shellaku sekarang?" tanya Aron turut menyela, membuat Zavier langsung melirik ke arah Aron dan menatapnya dengan tatapan tidak terima. Shellanya? Apa Aron sedang bercanda sekarang?


"Shellaku," ujar Zavier dengan tatapan yang berubah menjadi tajam. "Bukan Shellamu."

__ADS_1


Tak mau kalah, Aron ikut menyahut. "Apa-apaan? Tidak, dia milikku. Bukan milik ******** sepertimu."


Mata coklat milik Zavier terhunus tajam ke arah mata milik Aron, membuat pria itu tidak mau mengalah dan juga mengeraskan rahangnya. Andrew melihat kedua pria itu secara bolak-balik, ke arah Zavier, lalu ke arah Aron, kembali lagi ke arah Zavier, dan begitu seterusnya hingga ia mendesah pelan.


"Aku tidak tahu perang apa yang sedang melanda kalian berdua, tapi akan kukatakan jika Shella sudah berhasil kabur dari sini," seru Andrew, lantas membuat peperangan tatap mata itu berhenti seketika.


"Oh, ya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Zavier, dan bertepatan dengan pertanyaannya, suara bariton milik Aron terdengar.


"Baguslah, kalau begitu. Kau yakin jika dia baik-baik saja, bukan?" tanya Aron.


Sepersekian detik setelahnya, Aron kembali menatap tajam ke arah Zavier yang dibalas juga dengan tatapan tajam. Saling menatap tajam, saling mengumpat kasar dalam hati, dan saling membalas perkataan satu sama lain. Melihat itu hanya membuat Andrew kembali meraung jengah.


"Bisakah kalian berhenti sekarang juga?" Andrew bertanya, yang langsung dibalas cepat oleh dua pria gila yang berada di depannya.


"Tidak."


Sekali lagi, Andrew mendesah tidak percaya. Ia akhirnya memutuskan untuk menatap ke sekitar ruangan tanpa memperdulikan lagi dua orang pria yang sedang merebut seorang gadis. Kemudian, tatapannya terhenti pada pemandangan yang berada di sampingnya, sebelum menatap nanar ke arah Zaviera. Perempuan itu terlihat sedang berada di dalam pengaruh obat bius dengan kedua tangan yang dirantai ke atas.


Ia menghembuskan napas pasrah. Apa yang bisa Andrew lakukan sekarang?


"Sebenarnya Zavier, selain aku memberitahu Jason tentang hal ini, aku juga memberitahu Christian," ujar Andrew seraya melirik malas ke arah Zavier.


Dan ternyata, ucapannya berhasil menarik perhatian kedua orang yang berada di depannya dalam sekejap. Yang satu menatapnya dengan heran, sementara yang satunya lagi memandanginya dengan tatapan tidak percaya.


"Adiknya Zavier?" tanya Aron dengan heran.

__ADS_1


Sementara itu, wajah Zavier langsung berubah menjadi kusam seketika, sehingga ia menjadi terlihat seperti pakaian yang belum disetrika. "Kenapa kau memberitahunya? Dia masih berada di dalam New York, idiot! Kau pikir Si Bodoh itu akan menolong kita?"


"Actually..." Andrew menghentikan ucapannya sejenak, sebelum membasahi tenggorokkannya yang tiba-tiba mengering. "Dia sudah tiba di Los Angeles kemarin malam."


"Are you fucking kidding me right now?" Zavier nyaris menjerit kesal, membuat Andrew hanya menatapnya dengan wajah yang polos seperti seorang bayi yang baru saja lahir. Wajah idiot!


"Nope. Dia sepertinya sudah berada dalam perjalanan menuju ke sini saat ini."


Zavier menggeram jengkel dan hendak mengomel hebat. Tapi, bertepatan dengan itu, suara erangan seseorang yang sepertinya baru saja bangun tidur menyita seluruh pandangan orang di ruangan tersebut. Zavier spontan menoleh ke arah samping Andrew, nyaris membuat pria itu merasakan jika lehernya sebentar lagi akan patah karena diputar ke arah belakang dengan terpaksa.


"Dia bangun?" Nada suara milik Zavier yang tadinya sedang kesal langsung berubah menjadi tercekat. Mata coklatnya menatap ke arah Zaviera dengan tatapan rindu yang tiba-tiba saja menyeruak bebas di dalam sarafnya.


Aron yang berada di sampingnya mengangguk cepat. "Sepertinya, iya."


Sementara itu, di sisi lain...


Shella memanggil Christian dengan menepuk lengan kekarnya beberapa kali, sebelum menatap ragu ke arah pria tersebut. "Kau yakin akan memanjat atap rumah ini? Sepertinya genteng ini terlihat cukup mengerikan," ujarnya dan menyerukan semua hasil pemikirannya tadi, membuat Christian yang tadinya sedang memanjat menuju ke atap berhenti seketika. Pria itu menatap lembut ke arah Shella yang tampak dilanda oleh rasa cemas secara berlebihan.


Mata biru itu kemudian beralih menatap ke arah atap rumah yang berada di atas, lalu perempuan tersebut tampak sedikit bergidik ngeri sendiri. Tidak terlalu tinggi, tapi masalahnya, apakah genteng itu kuat untuk menampung berat badan? Karena itu terlihat sudah sangat lusuh dan mengenaskan.


"tadi, kau bilang di ruang penyekapan tersebut terdapat sebuah kaca yang dibuat di sela-sela genteng, guna untuk menyinari seluruh ruangan itu. Jadi, kurasa itu adalah satu-satunya jalan untuk segera menyelamatkan mereka semua," sahut Christian dengan tatapan yang yakin. "Lagipula, seperti katamu tadi, kita tidak bisa melewati pintu depan ataupun pintu belakang karena terdapat beberapa penjaga."


Lama menatap ke arah mata coklat milik Christian, Shella akhirnya menganggukkan kepalanya dengan ragu. "Jadi, kita hanya perlu untuk memecahkan kacanya, kan?"


Christian menggerakkan bola matanya dengan gemas. "Of course, it is!"

__ADS_1


__ADS_2