
"Zavier! Wajahmu berdarah!" pekik Shella dan spontan memegangi wajah Zavier.
Perempuan itu berusaha mendorong dada bidang Zavier dengan gelisah, berusaha untuk membangunkan mereka berdua. Namun, hasilnya nihil.
Shella tersenggal-senggal, lalu membelalakan matanya saat pria itu tampak memejamkan matanya sejenak dan merasakan cairan darahnya yang merembes keluar dari kulit hingga terjatuh tepat di wajah cantiknya. "Zavier! Hei!"
"Sebentar," sahut Zavier, kemudian bergerak mengecup leher mulus milik Shella. Dan setelahnya, ia kembali membuka matanya dan tersenyum lebar. "Aku sudah tidak merasakan sakit apapun lagi."
"ZAVIER! Berhentilah bercanda," pekik perempuan itu dan menatap marah ke arah Zavier. Ia mengerang panjang, sebelum menekuk kakinya dan menendang perut pria tersebut.
Alhasil, seperti dugaannya, Zavier membulatkan matanya kaget dan langsung menepi dari tubuh mungilnya. Ia menghela napas lega.
"Shella, sakit!" ucap Zavier seraya mengelus perut ototnya dengan perlahan. Lalu, gerakannya berhenti kala ia melihat sesuatu cairan yang kental di wajah Shella. Pria itu menggertakkan giginya kaget dan spontan terduduk di atas lantai.
"Kau berdarah, baby!" ucap Zavier secara spontan. Ia bergerak gelisah dan langsung menangkap seluruh wajah Shella, sebelum jarinya menghapus darah kental tersebut. Matanya berkilat tajam saat dirinya berhasil menghapus cairan itu, namun tidak menemukan satu luka sedikit pun.
"Ini darahmu, idiot," seru Shella jengkel. "Kaulah yang berdarah, astaga! Apa yang terjadi di dalam sini."
Gadis itu melepaskan tangan Zavier yang menangkupnya, lalu melemparkan pandangannya ke sekitar apartemen. Ia melotot saat menemukan beberapa beling kaca yang pecah dan berserakan di atas lantai.
Apa yag terjadi di dalam sini? Apakah terjadi penyerangan secara tiba-tiba?
__ADS_1
Kaca-kaca itu terlihat sangat tajam dan membahayakan bagi Shella, apalagi ketika ia telah menyadari bahwa kaca ini berasal dari kaca apartemen yang pecah. I--ini, bagaimana hal tersebut bisa terjadi?
Tanpa sadar, keringat dinginnya mulai bercucuran dengan derasnya, sebelum dirinya mengalihkan pandangannya ke sebelah gedung.
Tampak satu orang yang memakai pakaian hitam sedang berdiri di atap gedung dan menyimpulkan sebuah senyuman ke arahnya. Orang itu terlihat sangat tidak asing.
Lalu, beberapa detik kemudian, Shella dapat melihat jika bibir orang itu bergerak secara perlahan, seakan-akan orang tersebut sedang mengucapkan sesuatu. Ia memicingkan kedua matanya, sehingga dirinya dapat melihat bibir itu yang bergerak pelan secara samar-samar.
'I am got surprised to see you still alive'.
Begitulah kalimat yang mungkin diucapkan oleh sosok misterius yang terlihat tak asing baginya itu, membuat Shella mulai mengernyitkan dahinya samar. Tidak mungkin jika ia adalah--
Tidak, tidak, tidak... kau mulai gila, Shella. Tidak mungkin dia berada di sini, kan?
Seperti yang baru saja terjadi beberapa waktu yang lalu, gadis itu dapat merasakan tubuhnya melayang ke samping kiri guna untuk menghindari sesuatu, sebelum dirinya merasakan sesuatu yang kenyal dan menempel di bibir tipisnya.
Zavier kembali menciumnya.
Hingga kemudian, Shella langsung memekik kaget saat terdengar suara beling kaca pecah dan menyadari bahwa sesuatu yang kecil serta mematikan itu telah meleset jauh dari mereka berdua.
Benda kecil itu adalah... peluru.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa?" tanya sebuah suara dan membangunkan Shella yang hanya tertegun dengan apa yang baru saja terjadi. Ia menatap ke arah kedua mata coklat milik Zavier yang tampak berkilat cemas.
"A--ah, apa yang terjadi?" tanya Shella dengan cemas. Ia melirik ke arah sekitarnya, lalu dirinya dapat menemukan bahwa kepingan kaca apartemen di sini kembali pecah.
"A--a--"
"Tidak apa-apa. Hiraukan saja kepingan kaca itu," sela Zavier dengan cepat, berusaha meredamkan rasa panik Shella. Ia mengerjap lembut ke arah perempuan itu.
"Ta--tapi, tadi aku melihat ada orang yang berpakaian serba hitam di atas gedung sana--"
Ucapan Shella terpotong begitu Zavier kembali menempelkan bibir seksinya ke dalam bibir merah milik perempuan itu. Namun, hanya menempel, karena di detik selanjutnya, pria tersebut kembali menarik bibirnya.
Bedebah, rutuk Zavier dengan kesal. Ia pasti akan menciumi Shella hingga kehabisan napas jika saja waktu yang ia miliki tidak sesial ini.
Ia kemudian beranjak berdiri dari tubuh Shella, lalu mengulurkan tangannya ke arah perempuan itu. Setelahnya, Zavier hanya mengulum senyumannya saat melihat Shella mengerjap lucu, sebelum menerima uluran tangannya dengan kikuk.
Aish, kau sungguh menggoda sekali, Shella!
Pria itu membantu Shella bangkit dari lantai, lalu memeluk tubuh mungilnya dan menyembunyikan seluruh wajahnya di dalam ceruk leher kesukaannya. Ia berbisik dengan nada yang kecil. "Aku akan selalu berada di sisimu untuk menjagamu, baby. Jangan khawatir."
Setelahnya, pria itu dapat merasakan tubuh kecil itu mematung sejenak, sebelum sebuah gerakan dari tangan lembut yang meraih wajah tampannya untuk menghadap ke arah wajah Shella.
__ADS_1
Tangan itu kemudian mengelus rahangnya yang dipenuhi dengan bulu-bulu halus dan kedua mata biru kesukaannya tersebut sedang menatap dalam ke arah matanya.
"Wajahmu terluka, Zavier."