My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 91 - The Darkness


__ADS_3

Jangan, aku akan pergi ke sana!


Send.


Shella dapat merasakan jemarinya semakin bergetar dengan hebat. Ia kemudian menutup layar ponselnya dan memejamkan matanya sejenak.


Setelahnya, tanpa menyia-nyiakan waktu lagi, ia segera meraih tas selempangnya, lalu menghembuskan napas dengan perlahan. Tangannya bergerak meraih ponselnya dan menyimpan benda berpetak itu ke dalam tasnya. Sial, detak jantungnya masih terasa sangat cepat hingga saat ini.


Ia kemudian menggelengkan kepalanya berkali-kali, berusaha menenangkan dirinya dan detak jantungnya yang semakin memompa dengan semangat. Semangat dengan rasa ketakutannya yang kian meningkat. Shit!!


Ia membuka pintu kamarnya dengan perlahan, lalu menutupnya dengan perlahan juga, takut menimbulkan suara berisik atau apapun itu. Kedua kaki jenjangnya berayun menuju ke kamar sebelahnya, sebelum sebelah tangannya yang terkepal dengan erat terangkat dan mengetuk pintu di depannya sedikit ragu.


Tak lama kemudian, pintu itu terbuka dan menampilkan wajah daddynya. Pria itu tampak sedang melihatnya dengan tatapan penuh tanya. "Ya, ada apa Shella?"


Shella memainkan jari kukunya sejenak. "Umm... Dad. Aku akan pergi keluar sebentar," ujarnya dengan ragu, membuat William hanya mengangkat kedua alisnya.


"Kemana?"


"Tidak jauh dari sini," ucap Shella meyakinkan, walau ia tidak bisa menutupi rasa cemasnya.


"Baiklah. Tapi, jangan lama-lama," sahut William, membuat Shella langsung mengangguk kepalanya setuju.


"Okay, Dad."


Di detik selanjutnya, Shella langsung saja turun dari lantai dua dengan sedikit terburu-buru. Ia menuruni tangga itu secepat mungkin, hingga Shella hanya memerlukan waktu beberapa detik untuk mencapai pintu depan.


Gadis itu memegang gagang pintu tersebut sejenak seraya mencengkram erat tali tasnya. Ia menggelengkan kepalanya pelan, berusaha meyakinkan bahwa dirinya tidak akan terjadi apa-apa setelah ini.


Ia kemudian bergerak membuka pintu itu dengan cepat dan menutupnya kembali, sebelum Shella menolehkan kepalanya kesana kemari. Sial, sebenarnya ia sungguh takut sekarang.

__ADS_1


Menemui orang yang bahkan belum dikenalnya itu akan menjadi sangat mengerikan.


Shella membuka gerbang dan menutupnya, lalu kembali menghembuskan napas perlahan, guna mengurangi rasa cemas yang berlebihan di dalam dirinya.


Ia memantapkan diri, kemudian kakinya mengayun pelan dan menuju ke arah lokasi yang dimaksud oleh pesan misterius tadi.


Jika saja ini bukanlah sebuah ancaman, Shella pasti tidak akan begitu bodoh untuk menjalankan perintah dari nomor yang tidak dikenal itu. Jika saja hal ini tidak bersangkutan dengan keselamatan orang lain, ia tidak akan pernah peduli dengan pesan gila seperti itu. Jika saja orang itu tidak mengirimkan foto tersebut, Shella tidak akan pernah segugup ini.


Dan, sial!


Mengingat foto yang dikirim itu hanya membuat Shella semakin penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Zavier di dalam apartemen Aron. Tidak, bukan hanya itu... bahkan ia sendiri sudah tidak mampu mengingat lagi seberapa banyak pertanyaan yang tumbuh di dalam benaknya setiap saat.


Siapakah Zavier dan siapakah orang yang mengirim pesan ini?


Pesan itu seakan-akan telah diketik oleh seseorang yang sudah begitu mengenal seluk-beluk di dalam dirinya.


Apa yang sebenarnya terjadi sekarang? Shella tidak mengerti.


Dan yang terakhir, kenapa dirinya begitu peduli dengan Zavier?


Shella menghentikan kakinya setelah menyadari sesuatu. Tak terasa ia sudah tiba di tempat tujuannya.


Di hadapannya kini, ada sebuah rumah kosong yang telah tidak berpenghuni lagi dan terletak di sekitar pohon-pohon dan semak belukar. Tempat yang tidak terlalu jauh dari rumahnya, namun bisa dibilang tidak dekat juga.


Shella kembali celingak-celinguk, melemparkan pandangannya ke sekeliling lingkungan. Mata birunya terlihat menyelusuri sekeliling dan tak ada satu pun benda yang luput dari matanya.


Merasa aman, Shella melangkahkan kakinya untuk lebih dekat ke rumah kosong itu, hingga tiba-tiba saja sebuah suara bariton menyapanya dari arah sampingnya.


"Hai, rupanya kau datang," sapa suara itu, membuat jantung Shella terasa berhenti sesaat karena terlalu terkejut.

__ADS_1


Ia spontan menoleh ke asal suara, sebelum matanya langsung mendapati ada dua orang makhluk yang berada di dekatnya saat ini. Mereka terlihat sedang mengenakan penutup wajah yang berwarna hitam, membuat dirinya tidak bisa melihat dengan jelas wajah mereka.


Tapi, Shella tahu jika dua makhluk itu memiliki genre yang tidak sama. Yang berdiri di sisi sebelah kiri adalah seorang pria, sementara yang di sisi sebelah kanan adalah seorang wanita jika dilihat dari lekuk tubuhnya yang menonjol.


Siapa mereka? Pertanyaan itu sontak menyelinap di benaknya yang sudah dipenuhi oleh tanda tanya.


"Hai?" sapa Shella dengan sedikit ragu.


Pria itu terlihat menaikkan sudut bibirnya di balik topeng, dan Shella yakin sekali bahwa orang tersebut sedang menyeringai sekarang.


"Kau memasang GPS?" tanya pria itu, membuat dahi Shella berkerut heran.


Apa maksud dari pria ini?


"Ah, kau tidak tahu? Ck, Zavier memang seorang mafia yang dikenal dingin dan kejam, namun setiap orang juga mempunyai sisi kelemahan, kan? Well, kau adalah kelemahan terbesarnya, sehingga kita bisa memanfaatkanmu."


Mafia? Memanfaatkan dirinya?


Shella tercengang beberapa saat, tidak mengerti dengan semua ucapan pria yang berada di depannya. Ia meneguk salivanya dengan susah.


Seakan-akan telah mengerti dengan raut wajah Shella, pria itu hanya terkekeh tidak percaya. "Dia tidak memberitahukanmu? Hah, tidak bisa dipercaya. Tapi, sudahlah. Itu tidak penting. Ayo kita pergi sekarang."


Tunggu dulu... pergi? Apa maksudnya? Mereka akan pergi ke mana?


Dahi Shella semakin berkerut dalam hingga tiba-tiba saja, gadis itu dapat merasakan sebuah tusukan kecil di lengannya. Ia spontan menoleh ke kanan, lalu mendapati ada sosok orang berpakaian hitam yang sedang mengarahkan sebuah pistol suntik ke arahnya.


Sosok itu terlihat tidak asing. Bukankah dia adalah sosok yang selalu mengamati dirinya di sekitar rumah?


Pandangan Shella tiba-tiba saja menjadi buram sesaat, sebelum ia lantas terjatuh ke tanah karena rasa pening yang menderanya. Ia merintih hingga di detik selanjutnya, kegelapan itu menyergap dirinya dengan cepat. Kegelapan yang Shella tidak tahu sampai kapan ia akan menjadi seperti ini.

__ADS_1


Dan, ah, ia menyadari sesuatu. Suntikan itu adalah... obat bius.


__ADS_2