
"Wajahmu terluka, Zavier."
Shella spontan menyerukan perkataannya, berusaha untuk menghilangkan debaran jantungnya yang tiba-tiba saja kembali memompa dengan cepat. Gadis itu membasahi bibir bawahnya dan menelan salivanya dengan susah.
"Jadi?" Pria itu mengerutkan dahinya samar, membuat Shella hanya menghela napas lelah dan memukul pelan dada bidangnya dengan kesal.
"Karena itulah, segera diobati lukamu, Zavier!" seru Shella, kemudian mendorong pria itu hingga melepaskan dekapan hangatnya.
Zavier mengerucutkan bibirnya ke bawah. "Kau yang harus membantu mengobatiku," rengeknya dan sedikit menyipitkan matanya.
"Kenapa harus aku? Kau bisa mengobati dirimu sendiri, kan? Aku tidak mau."
Zavier spontan menggelengkan kepalanya dengan pelan. Ia menundukkan kepalanya ke bawah dan hanya melihat ke arah lantai. "Aku malas," ucapnya dengan nada yang kecil.
Shella berdecak sebal. "Itu masalahmu. Aku tidak akan sudi untuk mengurus lukamu."
Mendengar itu, Zavier mengangkat wajahnya dengan sedih. "Padahal aku sudah menyelamatkan nyawamu, tetapi kenapa kau malah membalas budiku dengan cara kejam seperti itu?" tanyanya dan memayunkan bibirnya ke bawah, berusaha untuk menghancurkan hati Shella yang entah kenapa selalu kejam dan sekeras sebuah batu.
"A--ah, lagipula, kenapa kau harus menyelamatkanku? Itu urusanmu sendiri," elak Shella secara langsung, tanpa menyadari bahwa suasana hati milik Zavier seketika berubah menjadi mendung.
"Dan membiarkan orang itu membunuhmu?" tanya pria itu dan memiringkan kepalanya. Ia mencebik sesaat.
Shella spontan menggelengkan kepalanya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan menatap ke arah mata coklat milik Zavier. Tidak, ia masih menyayangi nyawa miliknya!
"Kau jahat, baby," ucap Zavier tiba-tiba dan merengek seperti seorang bocah lelaki, membuat Shella hanya melebarkan matanya, terlalu terkejut dengan tindakan pria itu.
Okay, untuk sesaat, pria ini terlihat semakin seperti bocah bodoh yang tidak jelas dari mana asal usulnya.
__ADS_1
"Jawabanku tetap tidak, Zavier," tegas Shella sekali lagi, membuat pria itu menatap lesu ke arahnya sembari memainkan jarinya.
He's crazy.
Setelah kejadian mengerikan seperti tadi, pria ini bahkan tampak tidak syok dan terlihat baik-baik saja. Oh, kelakuan Zavier tampak seakan-akan dirinya sudah terbiasa untuk menghadapi semua ini. Siapa dia sebenarnya?
Zavier mengeluarkan sebuah kunci, lalu mengulurkan benda itu ke arah Shella. Ia kemudian tersenyum jengkel. "Ini," ujarnya dengan sedikit enggan.
"Apa?" Shella menyatukan kedua alisnya, sebelum bergerak mengambil benda tersebut. "Kenapa dengan kunci ini?" tanyanya heran.
"Bukankah kau ingin keluar dari sini? Itu kunci pintunya. Kau bisa keluar sekarang dan boleh menyumpahiku seumur hidup," jawab Zavier malas seraya melirik ke arah Shella dengan tatapan yang masih lesu.
"Ta--tapi." Shella menghentikan ucapannya sejenak dan menatap ke arah pria tersebut dengan ragu.
"Ada apa? Kau boleh keluar sekarang," ucap Zavier, lalu mengalihkan pandangannya ke arah kepingan kaca yang berserakan. Ia menghela napas lelah.
"Ya, lagipula kau sudah makan selesai, kan? Aku harus membersihkan semua kejadian ini terlebih dahulu dan melapor ke polisi. Jadi, sebaiknya kau keluar sekarang daripada menjadi memiliki masalah karenaku."
"Kau yakin?"
"Ck, ada apa denganmu, Shella? Setelah aku menyelamatkan nyawamu dan kau malah membalas kebaikanku dengan cara berbuat kejam, ada lagi yang kau inginkan?" tanya Zavier balik dan memicingkan matanya.
"Kau tahu, tadi aku nyaris meninggal setelah menolongmu, tapi sekarang kau malah acuh tak acuh dengan lukaku. Jika saja aku meninggal hanya karena luka ini, hal pertama yang aku lakukan adalah menggentayangi dirimu seumur hidup. Aku tidak mungkin akan melepaskanmu begitu saja," sahut Zavier yang entah kenapa perkataannya mulai terdengar sangat tidak masuk akal.
Pria ini hanya asal ngomong.
Shella tergagap. Dirinya menjadi sedikit merasa bersalah setelah mendengar perkataan pria tersebut. Tanpa sadar, ia kembali menggigit bibir bawahnya dengan cemas.
__ADS_1
What? Ada apa dengan dirinya? Shit!
"Aku akan mengobatimu," ujar Shella tanpa sadar, lalu di detik selanjutnya, ia langsung menutup mulutnya dengan rapat-rapat.
Okay, itu adalah perbuatan yang salah, karena Shella sontak menyadari jika tatapan lesu milik Zavier langsung berubah menjadi tatapan kilatan yang jahil.
Ada beberapa dafar hal yang menganggunya saat ini, dan itu merupakan :
Untuk yang pertama, ia dapat merasakan jika jantungnya sedang berdebar dengan cepat saat ini. Dan Shella sangat membenci hal tersebut, karena tubuhnya seolah-olah menjadi lemah untuk sesaat.
Untuk yang kedua, ia ingin sekali meremukkan wajah tampan milik Zavier yang selalu tampak nakal di matanya.
Untuk yang ketiga, Shella membenci seringaian yang baru saja ditampilkan oleh lelaki itu.
Untuk yang keempat, pria ini memiliki tingkat kemesuman yang sangat tinggi.
Dan untuk yang terakhir, ia takut dirinya telah jatuh ke dalam pelukan Zavier.
Hell!
Daftar yang kesatu dan kelima itu kembali terjadi, saat Zavier membawa tubuhnya ke dalam dekapan hangat dari pria itu. Ia dapat merasakan tumbukkan jantungnya yang cepat, hingga dirinya menjadi terlalu takut untuk merasakan apa yang seharusnya ia tidak rasakan.
Ia takut untuk jatuh cinta lagi yang kedua kalinya.
"Aku benar-benar akan membencimu jika kau ingin sekali keluar dari sini dan menghiraukan diriku, Shella. Terima kasih telah mengkhawatirkanku walau kau tidak mengatakan hal tersebut."
Shella mengkhawatirkannya? Really?
__ADS_1