
Shella celingak-celinguk kesana-kemari, sebelum mengernyitkan dahinya aneh. "Kita dimana?"
Zavier melepaskan seatbeltnya, lalu beralih ke seatbelt Shella dan membantu perempuan itu untuk melepaskannya. "Tentu saja untuk makan. Ayo, turun."
Makan?
Shella kembali menatap ke arah luar mobil, lalu melirik horor ke arah Zavier. "Kau berniat untuk menculikku?" tanyanya seraya bergidik ngeri.
Zavier yang tadinya sedang menatap ke sekitar lingkungan, beralih melirik ke arah Shella. Ia mengangkat kedua alisnya ke atas. "Apa kau berharap begitu? Karena aku pasti dengan senang hatinya untuk melakukan hal tersebut," kekehnya geli.
"Kau kotor sekali, Mr. Turner," ucap Shella dan mendengus keras.
Zavier, apa sih kelebihan yang dimiliki oleh lelaki itu? Otaknya mesum, matanya yang selalu dipenuhi dengan tatapan nakal, sering sekali menghina orang, dan yang lebih parahnya lagi, pria ini akan selalu meraba-raba tubuhnya di setiap ia memiliki kesempatan.
Apa daddynya sudah buta dalam melihat seorang pria? Apa daddynya memang benar-benar menginginkan dirinya untuk berpasangan dengan Zavier?
Okay, it's sound crazy to Shella.
Gadis itu turun dari mobil Zavier, sebelum tiba-tiba mengernyit heran ketika ia baru saja menyadari sesuatu.
"Kau mengubah mobilmu lagi? Ini bukan mobil yang sama dengan mobil yang kemarin, kan?" tanya Shella seraya menatap mobil di depannya.
Mobil yang berwarna putih dengan penampilan yang terlihat gagah di depan matanya. Dan, hanya dengan melihatnya, Shella telah mengetahui bahwa ini pasti termasuk salah satu mobil dengan harga yang mahal di dalam koleksi Zavier.
__ADS_1
Gila! Bagaimana bisa Shella tadi tidak menyadari hal ini saat ia masuk ke dalam mobil Zavier?
"Well, mobilku baru saja mengalami kecelakaan kemarin," ucap Zavier dengan santai, seakan-akan ia memang tidak memiliki masalah dengan hal itu. Pria itu tampak menunjukkan cengirannya.
"Oh," sahut Shella dan menganggukkan kepalanya pertanda mengerti. Ia tidak ingin bertanya lebih dalam lagi.
Setelah itu, ia kembali melemparkan pandangannya ke lingkungan sekitar. Sudah beberapa kali Shella melirik ke sekitarnya, namun ia masih tidak dapat menemukan sebuah restoran ataupun kafe.
Apa pria ini sedang bercanda? Zavier sebenarnya membawa dirinya ke mana?
"Ayo, masuk. Kenapa kau terus berdiri di depan sana?" tutur Zavier tiba-tiba, membuat Shella langsung memalingkan wajahnya ke arah pria itu.
"Untuk apa kita di sini?" tanya Shella seraya mengikuti Zavier yang tampak masuk ke dalam lobby di salah satu gedung pencakar langit.
Shella yang melihat itu turut melangkahkan kakinya, mengikuti langkah Zavier walau benaknya masih dipenuhi dengan tanda tanya yang besar.
Mereka akan makan di dalam apartment? Sangat tidak masuk akal sekali...
"Yang benar saja? Kenapa kita makan di sini? Apa yang bisa kita makan?" tanya Shella, mulai merasa was-was dengan tingkah Zavier.
"Ck, kau ribut sekali, baby. Kau hanya perlu diam dan terus mengikuti langkahku. Jangan terlalu cerewet seperti ini," ucap Zavier, kemudian bergerak masuk ke dalam lift saat melihat pintu sudah terbuka lebar.
Shella mengikuti langkahnya seraya bergumam tidak jelas. Ia yang sedang berada di samping Zavier, dapat melihat jika pria itu menekan tombol lantai 23, sebelum kembali menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Apa kau benar-benar ingin menculikku?" seru Shella tiba-tiba, lalu memberikan tatapan menuduhnya ke arah pria itu. Mata birunya terlihat melotot setajam mungkin.
Melihat ekspresi lucu itu hanya membuat Zavier terbahak keras seraya menatap ke arah Shella dengan gemas. "Bicara sekali lagi, kupastikan bibirmu akan kubuat menjadi seksi lagi," ancamnya dan terkekeh geli, tapi mampu membuat Shella langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
Dasar mesum, umpatnya kasar dalam hati.
"Good girl," puji Zavier, tanpa menyadari wajah Shella sudah berubah menjadi masam.
Sialan kau, ********!
Shella hanya memutar kedua bola matanya dengan malas, sebelum tiba-tiba pintu lift terbuka lebar. Mereka berdua sontak secara bersamaan keluar dari mesin berkotak itu sembari berjalan ke tempat yang masih belum diketahui oleh Shella.
"Kita mau pergi ke mana?" tanya Shella, lalu ia langsung menutup mulutnya ketika menyadari apa yang baru saja dirinya lakukan.
"Apa kau sedang memintaku untuk segera menciummu?" tanya Zavier. Tatapannya beralih ke arah Shella, menatap perempuan itu dengan alisnya yang terangkat.
"Tidak!" pekik Shella tanpa sadar. Ia memalingkan wajahnya, enggan menatap wajah Zavier yang sudah berkilat jahil.
"Apa kau sudah sangat penasaran dengan tempat ini? Bukankah sudah kukatakan tadi, bahwa aku telah memesan tempat yang romantis hanya untuk kita berdua. Special place, baby. You will love it," ucap Zavier, membuat jantung Shella tiba-tiba berdebar dengan cepat.
Pipi Shella lantas memerah ketika mendengar kata 'special place' dari Zavier. Entah kenapa, ia malah berpikiran tentang hal yang lain.
"Aku tidak lapar, Zavier," elak Shella secara tiba-tiba, membuat Zavier kembali menolehkan kepalanya dan langsung menatap ke arah bibir perempuan itu.
__ADS_1
Well, dan itu merupakan kesalahan yang sangat fatal baginya.