
"Biasanya aku menyebut ruangan ini sebagai ruang penyiksaan. Mau melihat-lihat? Aku memiliki tiket gratis, hanya khusus untukmu. Apakah kau berminat?" tanya Aron, sebelum memberikan tatapan penuh menggodanya ke arah Zavier.
Pria itu sedikit melengkungkan bibirnya ke atas, lalu melemparkan pandangannya ke arah Aron dengan pandangan aneh. "Apa kau memelihara kucing di dalam sana?" tanyanya heran.
"Apa?" Mata binar milik Aron spontan berubah menjadi gelap. Ia menghela napas jengkel ke arah Zavier.
Kenapa harus kucing? Apa pria ini memang menyukai hewan yang bernama 'kucing'?
"Tidak," sahut Aron dengan pendek. Ia rasa otak Zavier tanpa sengaja tersetrum oleh listrik yang bertegangan 5000 watt pagi ini.
"Karena aku samar-samar dapat mencium bau taik kucing di sini," kata Zavier dan mengedikkan kedua bahunya tidak peduli. "Kau memelihara kucing?"
Yang benar saja!?
Aron menggelengkan kepalanya dengan penuh kasihan. Kenapa dengan Zavier hari ini? Ia rasa Zavier sedang merindukan kucing liarnya jika saja pria itu memiliki kucing.
"Atau jangan-jangan, kau yang selalu membuang air besar di dalam sana? Aku sedari tadi mencium bau tak sedap yang keluar dari ruangan itu," tambah Zavier lagi. Ia mengerutkan dahinya samar.
"Oh, astaga, Zavier! Otakmu sudah miring sebelah. Ayo, kita langsung masuk saja," pekik Aron yang mulai kesal. Ia kembali mencibir, sebelum sebelah tangannya merogoh sebuah kunci di dalam saku celananya, kemudian mengarahkan benda itu ke dalam lubang kunci pintu.
"Tidak," elak Zavier langsung. Ia mengetuk-ngetuk jemarinya sejenak. "Aku tidak tahan dengan bau tak sedap ini."
__ADS_1
Mendengar itu langsung membuat Aron memutar kedua bola matanya dengan jengah. Ia berdeham sesaat, lalu bergerak membuka pintu ruangan yang berada di depannya dengan keras-keras hingga membuat Zavier sedikit terlonjak kaget di tempatnya berdiri.
Bibir Zavier tampak melengkung aneh ketika melihat Aron yang sudah masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan tersebut. Bahkan ia dapat mencium bau anyir yang menguar dengan hebatnya dan ternyata semua itu berasal dari ruangan di depannya.
Sial... Apa Aron berencana untuk membunuhnya dengan bau anyir yang semacam darah ini?
Zavier mendengus sesaat, lalu akhirnya kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan bau itu. Ia mengerutkan hidungnya, berusaha untuk tidak mencium bau yang memang sudah sangat tidak asing baginya.
Argh... ia memang sudah terbiasa dengan bau tersebut. Namun, hanya saja, karena beberapa hari ini ia sudah tidak membunuh seseorang, dirinya menjadi sedikit tidak terbiasa.
Aneh? Ya, Zavier memang merupakan orang aneh.
Ia mulai melangkahkan kakinya dengan cepat, berusaha untuk mengikuti jejak Aron, walau pria tersebut sudah terlebih dahulu menghilang dari sudut pandangnya. Great! Pria itu sangat tidak sabaran.
Zavier kemudian dapat mendengar suara erangan yang tertahan dari seseorang, membuat dirinya menjadi semakin penasaran dengan apa yang sedang Aron perbuat. Namun, ia langsung mengumpat kasar ketika ia terus menemui banyak lorong sedari tadi. Bahkan Zavier mulai pusing dengan semua ini. Apalagi ketika dirinya menyadari bahwa lorong tersebut sangatlah panjang.
Shit! That *******! rutuknya dalam hati. Berani-beraninya pria itu meninggalkannya sendirian di dalam sini.
"Apa? Aku tidak dapat mendengar ucapanmu."
Suara Aron kembali terdengar dan membuat Zavier menghembuskan napasnya dengan panjang. Okay, ia sudah tersesat di dalam lorong sialan ini. Ruangan yang sama sialnya dengan Aron.
__ADS_1
Memangnya apa yang dipikirkan oleh pria itu hingga memutuskan untuk membuat sebuah labirin di dalam sebuah ruangan?
"Damn it!" gumam Zavier dan menggertakkan giginya dengan kesal.
"Oh ya, sebentar. Temanku sepertinya tersesat di dalam lorong."
Samar-samar, suara bariton milik Aron kembali terdengar. Zavier hanya mengerutkan dahinya dengan dongkol. Terkutuklah Aron bersama ruangan labirin ini.
Lalu, terdengar suara derap kaki milik seseorang mengetuk lantai, membuat Zavier tanpa sadar mempertajam kedua telinganya. Aron pasti sedang menuju ke arahnya. Tamatlah riwayat pria itu nanti jika Zavier bertemu dengannya.
"Zavier! Sini!" pekik sebuah suara dari arah belakang secara tiba-tiba, membuat Zavier spontan menolehkan kepalanya ke asal suara. Bedebah itu.
Ia kembali menggertakkan giginya, sebelum menghentakkan kedua kakinya dengan kesal dan menuju ke arah Aron yang tampak sedang mencengir tidak bersalah. Zavier sedikit celingak-celinguk, kemudian menyipitkan matanya setelah menyadari sesuatu.
Geez... Padahal tadi ia sudah melewati lorong bagian sana, tapi kenapa dirinya sama sekali tidak menyadari bahwa Aron sedang berada di dalam sana?
"Dasar ******** sialan!" umpat Zavier dengan keras begitu dirinya tiba di tempat Aron. Ia mencibir sejenak, sebelum pria itu menabrak kuat bahu Aron secara sengaja, kemudian ia berjalan melewatinya begitu saja.
"Kau yang ********!" umpat Aron balik. Pria itu ikut-ikutan menabrak bahu Zavier dari arah belakang hingga membuat tubuh kekar itu sedikit oleng ke samping.
"Kau! Bedebah!" rutuk Zavier dan meringis sakit, sebelum sebelah kakinya menendang kedua kaki Aron hingga membuat pria itu langsung terjatuh dengan wajah yang menabrak ke lantai.
__ADS_1