My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 114 - Grave


__ADS_3

3 Minggu kemudian...


Amerika, Los Angeles - Zavier mansion.


07:00 PM


Derap langkah kaki seseorang terdengar memenuhi seluruh penjuru mansion yang ditinggalinya selama ini. Hembusan napas lelah terdengar saat mata coklatnya melirik ke arah arloji yang sedang dipakainya. Jam sudah menunjukkan pukul 07:00, dan ia sudah terlambat beberapa jam.


Semoga saja orang itu tidak akan marah besar terhadapnya.


Zavier terus berjalan, hingga kedua kakinya membawa dirinya ke sebuah kamar dengan pintu yang berwarna putih. Tangan kanannya terjulur, hendak membuka pintu itu, tapi terhenti ketika Zavier menghembuskan napasnya lagi.


Setelahnya, dibukanya pintu tersebut dengan perlahan seraya melongokkan kepalanya ke dalam, berniat untuk mencari sosok yang selama tiga minggu ini menginap di kamarnya.


Mata coklatnya bergerak menelusuri kamar itu. Rapi dan bersih, seakan-akan baru saja di bersihkan oleh sosok tersebut. Kedua kakinya kemudian melangkah dengan perlahan, berjalan masuk ke dalam kamar karena tidak ada orang yang menyahutnya saat Zavier mengetuk pintu tadi.


Lalu, pria itu bergerak duduk di atas ranjang. Mulutnya menyunggingkan senyuman tipis ketika telinganya mendengar suara air menetes yang berasal dari kamar mandi, disusul dengan pintu kamar mandi yang terbuka.


Sosok cantik itu keluar dengan rambut yang basah, sementara tubuhnya dibungkus rapi oleh handuk putih. Tapi, langkah kaki gadis itu berhenti kala ia baru menyadari bahwa ada Zavier yang sedang duduk di atas ranjangnya.


Sosok tersebut langsung memberengut kesal ke arahnya dan memajukan bibirnya beberapa senti ke depan.


"Ada apa?" tanya perempuan itu dan memutar bola matanya, sebelum berjalan menuju ke lemari dan membukanya. Diambilnya beberapa pakaian seraya bergumam tidak jelas.


Sebelah alis milik Zavier terangkat heran. "Kau kenapa? Lagi menstruasi?" tanyanya polos, membuat gadis itu spontan mencebik tidak senang. Kepalanya melongok dari balik lemari pintu.


"Bodoh!" gerutu gadis tersebut, lalu menutup pintu lemarinya setelah mengambil sebuah kaos polos dan celana pendek.


Zavier berkacak pinggang. "Kau terlalu tidak sopan terhadap kakakmu, Zaviera," ujarnya dengan nada yang memperingati.

__ADS_1


Namun, yang dinasehati hanya bersiul tidak bersalah dan meletakkan pakaiannya di atas ranjang. "Aku tidak peduli," sahutnya sembari terkekeh geli di depan Zavier.


Pria itu berdesis, lalu menaikkan kedua kakinya di atas ranjang dan duduk bersila. "Kau sudah siap? Kita harus segera berkunjung ke kuburannya dulu sebelum malam."


"Aku tidak mempunyai uang. Tolong belikan aku bunga segar nanti," balas Zaviera dan melepaskan handuk yang membelit tubuhnya hingga menampilkan pakaian dalamnya, membuat Zavier hanya berbaring di atas ranjang dengan kedua tangan yang menutup mata.


"Dimana semua uang jajan yang dikasih oleh daddy kemarin?"


"Habis," ucap Zaviera tanpa beban dan segera memakai pakaian di ambilnya tadi dengan secepat kilat.


Terdengar suara decakan halus dari Zavier. "Boros!"


Tak mau kalah, Zaviera menyahut dengan cepat. "Aku harus membeli baju dan peralatanku yang lain," ungkapnya dengan kesal dan kembali menggerutu tidak jelas.


Ya, begitulah kehidupan Zavier sekarang. Mansionnya sekarang dihuni oleh sosok cantik yang menjelma sebagai saudaranya. Sementara Clayton, ayahnya Zavier akan selalu mengunjungi tempat tinggalnya seminggu sekali.


Sungguh kenyataan yang mengejutkan bagi keluarga Zavier karena anak yang mereka pikir telah meninggal malah hidup kembali. Dan, setelah Clayton mengetahui bahwa semua ini adalah perbuatan dari Franklin, pria itu sangat marah besar.


Dan, lima hari setelah kejadian tersebut, pekerjaan Clayton yang menumpuk di New York mulai diambil sebagian oleh Christian, sehingga Clayton dan istri kesayangannya memiliki waktu untuk mengunjungi Zavier dan Zaviera pada hari Minggu.


Sementara itu, Zavier sendiri mewarisi rumah sakit dan kampus milik Clayton. Pria itu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan dunia mafianya walaupun sedikit berat hati. Tapi, tidak apa-apa, asal Zavier masih bisa menghasilkan uang lagi.


Well, semuanya berlangsung cepat. Kemudian, dua minggu yang lalu adalah hari dimana Zaviera mengingat semua tentang jati dirinya. Yah, dia mengingatnya tanpa ada satupun yang ia lupakan.


Hari dimana ia diculik dan di bawa ke New York, dipaksa kerja, serta dicuci otak, semuanya direkam di dalam otaknya dengan jelas.


Zaviera menceritakan semuanya di depan Zavier. Menurut ingatannya, pada saat Zaviera sendiri sedang berumur lima belas tahun, dirinya membunuh seseorang tanpa di sengaja. Mengenaskan bukan? Bayangkan saja, pembunuhan yang tidak di sengaja itu membayangi diri Zaviera selama bertahun-tahun, sebelum Franklin mencuci otaknya lagi.


Apalagi fakta yang mengejutkan adalah, adik Shella-lah yang dibunuh oleh Zaviera.

__ADS_1


Bukan cuma Zavier, tapi William, ayah Shella sendiri langsung syok dan sempat pingsan ketika mendengar kenyataan mengerikan seperti itu. Namun, Zavier tahu bahwa William tidak membenci dirinya beserta keluarganya. Pria itu mengatakan jika itu hanyalah sebuah kesalahan yang bisa saja dilakukan oleh seluruh umat manusia. Bahkan, Zavier sendiri terharu mendengarnya. William sungguh baik hati.


Pria paruh baya itu juga sempat bercerita tentang Shella yang menuntut keras ingin pindah ke Los Angeles akibat kematian dari adiknya. Tentu saja, hal itu terasa sangat menyakitkan walaupun dilakukan tanpa sengaja.


"Kak, aku sudah siap," bisik seseorang secara tiba-tiba di sebelah telinga Zavier, membuat pria itu langsung tersadar dengan seluruh lamunanya.


Mata coklatnya terbuka, lalu menegakkan punggungnya dengan cepat dan menyadari bahwa Zaviera sudah berpakaian lengkap. Gadis itu hanya menatapnya dengan lugu dengan sebuah senyuman tipis yang menghiasi wajah cantiknya.


Pria itu akhirnya menghela napas, sebelum dengan terpaksa beranjak dari tempat tidurnya. "Kita akan membeli beberapa tangkai bunga di toko bunga terdekat terlebih dahulu."


***


Bohong saja kalau Zavier tidak merindukan Shella sekarang, karena pada kenyataannya, rasa rindu yang tidak bisa dideskripsikan oleh kata-kata itu menyeruak masuk ke dalam dirinya begitu kakinya menginjak tanah.


Jantungnya berdegup cepat, memandangi tempat yang ia kunjungi saat ini. Mata coklatnya bergerak melihat ke sekeliling, menyadari bahwa tidak ada orang lain lagi selain dirinya dan Zaviera. Apalagi angin udara yang berhembus dingin hanya membuat Zavier semakin tidak tenang.


Zavier akhirnya menghela napas, berupaya untuk menenangkan diri walau sepertinya usahanya sia-sia saja.


"Kau seperti sedang menghadapi dewa kematian saja." Suara itu tiba-tiba terdengar dari arah belakang, disusul dengan suara kekehan geli dari seseorang.


Zavier mencibir. "Zaviera, jangan bercanda di tempat ini," serunya dan melirik ke arah Zaviera. Bunga yang berada di tangannya digenggam erat, sebelum menarik napas untuk mengisi paru-parunya yang tiba-tiba kehabisan oksigen.


Zaviera hanya mengangguk paham, lalu berjalan melewati beberapa kuburan yang berada di depannya. Zavier hanya mengikuti adiknya.


Aura gelap terasa sangat jelas ketika mata pria itu tanpa sengaja melirik ke beberapa batu nisan yang bertulisan nama-nama orang yang telah meninggal. Zavier tanpa sadar menahan napas gugup.


Mata coklatnya kemudian melirik gelisah ke sekitar, lalu dengan cepat menemukan adiknya yang sudah berhenti di salah satu batu nisan. Tubuh itu terlihat menegang sejenak, sebelum dengan tangan yang gemetar, Zaviera meletakkan bunga segar yang baru dibeli tadi di atas makam.


Tanpa menghentikan langkahnya, Zavier berjalan hingga sampai di tempat Zaviera. Matanya menelisik batu nisan yang berada di depannya, membaca nama yang tercetak di sana, lalu menghela napas lagi.

__ADS_1


Ia merindukannya.


__ADS_2