
Shella menghembuskan napas kasar. Ia baru saja berhasil keluar dari dekapan Zavier yang nyaris membuatnya kehabisan napas itu. Dan sekarang, mata birunya tengah menatap jengkel ke arah Zavier yang sedang pingsan di atas sofa.
Oh my god.....
Setiap hari, setiap jam, lelaki satu ini selalu membuatnya kerepotan saja. Setelah membuat luka yang cukup besar di kakinya kemarin, Zavier malah pingsan di atas tubuhnya hari ini.
Lelaki ini benar-benar ingin membunuhnya.
Shella celingak-celinguk ke sekitar, bingung apa yang harus ia kerjakan sekarang. Ia kembali menghela napas dan mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.
Mungkin sebagai perempuan yang baik, ia akan mengobati luka-luka di wajah brengsek ini terlebih dahulu, batin Shella dan beranjak pergi untuk mengambil obat-obatan.
Beberapa menit kemudian, perempuan itu kembali ke tempat tersebut. Ia meletakkan kotak obat itu di atas meja dan sebuah wadah yang berisi air serta kain. Ia memberengut kesal dan mulai membersihkan luka-luka Zavier yang terlihat menyedihkan itu dengan enggan.
Shella sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan dan terus melanjutkan pekerjaannya dengan teliti. Sesekali, ia meringis nyeri ketika merasakan luka di lututnya itu bergesekkan dengan lantai. Dan semua itu gara-gara lelaki ini karena Shella harus terus bergerak di tempatnya agar lebih leluasa untuk mengobati Zavier.
Aish....
Ia ingin sekali menampar wajah yang sedang memperhatikan raut muka tidak berdosa itu. Namun, berbeda dengan logikanya, Shella malah terus menatap ke arah wajah tersebut. Gerakannya untuk membersihkan luka itu mulai perlahan berhenti hingga tanpa sadar, ia tiba-tiba tersenyum lembut. Mata birunya menyelusuri wajah tersebut tanpa malu-malu lagi.
__ADS_1
Dia memang tampan, batin Shella dan terkekeh kecil.
Tapi, raut wajahnya berubah menjadi penasaran ketika kalimat yang diucapkan oleh Zavier tadi tiba-tiba terlintas di pikirannya.
You know what? Mungkin perkataan daddyku memang ada benarnya. I already fall in love with you, girl.
Shella mengernyit samar dan menatap penasaran ke arah wajah Zavier yang sedang pingsan. Apa maksudnya?
Sebenarnya, ada banyak sekali hal yang belum diketahui Shella tentang Zavier. Rasanya, pria ini begitu misterius dalam setiap langkahnya. Dan untuk hari ini, ia merasa penasaran tentang kecelakaan mobil apa yang dialami oleh Zavier. Apalagi saat pria itu sedang berbicara dengan bawahannya tadi, ada satu kalimat lagi yang masih tidak dimengerti olehnya.
Ya, aku baik-baik saja. Sekarang, aku ingin kau untuk segera mencari tahu siapa dalang di balik semua itu dan seluruh data-data tentang dirinya. Aku juga ingin semua itu sudah siap dan berada di atas meja kerjaku saat aku pulang nanti.
Kalimat itu seakan-akan terselip makna bahwa kecelakaan itu memang disebabkan oleh seseorang. Seolah-seolah Zavier memiliki banyak musuh di dalam kehidupannya. Siapa dia sebenarnya?
Sepertinya semua itu bukan sebuah kebetulan lagi.
"Who are you, Zavier?" gumam Shella dan beralih mengobati luka di wajah pria itu setelah selesai membersihkannya.
Tapi, saat Shella baru saja hendak meneteskan obat merah itu, tiba-tiba sebuah tangan menghentikan niatnya. Gadis itu terbelalak kaget dan spontan mundur ke arah belakang.
__ADS_1
"Kau baik sekali," ujar Zavier yang tiba-tiba saja terbangun dari pingsannya. Pria itu tersenyum miring dan beranjak bangkit dari atas sofa. Tangan kekarnya meraba-raba luka di wajahnya sembari menatap ke arah gadis itu.
Sementara itu, Shella langsung menjauhkan tubuhnya dan menatap kaget ke arah pria tersebut. What the hell?
"Kau terbangun? Bagaimana bisa? Bukannya kau baru pingsan tadi?" tanya Shella beruntun dan memicingkan matanya. Tapi di detik selanjutnya, ia langsung menatap tajam ke arah pria itu. "Jangan katakan bahwa kau tidak pingsan tadi dan hanya berpura-pura?"
Zavier terkekeh di dalam hatinya.
"Ya, aku tertidur tadi," sahut Zavier dengan polosnya, membuat Shella langsung meremang marah di tempat. Ia ingin sekali mematahkan leher pria itu sekarang juga.
"Tadi kau bertanya siapa diriku, kan?" tanya Zavier dan bersedekap di tempat. Namun, melihat gadis itu yang hanya menatapnya tidak peduli, ia kembali melanjutkan ucapannya.
"Akan kuberitahu sekarang. Aku sebenarnya adalah--" Ucapan Zavier langsung terpotong ketika suara bel rumah tiba-tiba saja berbunyi nyaring. Ia mengumpat kesal dan menatap Shella dengan alis yang diangkat. "Siapa?"
Gadis itu hanya mengedikkan bahunya tidak peduli dan menyimpan kembali peralatan obat-obatannya. Setelah itu, ia mulai beranjak dari tempatnya sembari menatap tajam ke arah pria itu. Sedangkan, Zavier hanya terkekeh kecil.
Shella melangkah cepat, meninggalkan pria itu dengan hati yang masih panas. Ia membuka pintu rumahnya dan bertanya. "Siapa?"
Namun, mata biru itu tiba-tiba menyipit kala melihat sosok yang tidak asing baginya. Pria paruh baya dengan rambut yang hampir memutih, namun masih terlihat sehat dan tegap pada usianya. Tunggu dulu, jangan bilang.......
__ADS_1
"Daddy?" tanya Shella dan langsung terdiam di tempat.
7 May 2020