
Mendengar itu, Zavier sedikit mengerutkan dahinya aneh. Dirinya tidak mengerti dengan pertanyaan dari gadis itu barusan. "Aku manusia."
Shella menggigit bibir bawahnya dengan kasar, lalu menghembuskan napasnya kesal. "Jangan berpura-pura. Kau pikir aku tidak tahu siapa kau? You are the boy at that night."
Pria itu tiba-tiba memiringkan kepalanya dan menatap ke arah Shella, kemudian mengangkat kedua sudut bibirnya. Seringaian itu sontak membuat Shella langsung tercekat di tempat. Ada apa? Apa perkataannya salah?
"Kau masih mengingatku? Oh, kupikir kau sudah melupakan kejadian itu."
Well, emosi Shella langsung meningkat dan telah berada di dalam puncaknya. Ia menggeram kesal sembari bergerak turun dari kasur dan menuju ke tempat Zavier. Mata birunya tampak menampilkan kilatan marah yang sudah tidak dapat ditampung lagi.
"Kau tahu, aku----" perkataan Zavier terpotong dan ia mematung di tempatnya sejenak. Di detik selanjutnya, suaranya digantikan oleh suara nada gemetar yang terdengar. "Tunggu dulu, apa yang ingin kau lakukan?" tukasnya ngeri.
"DASAR KAU LELAKI CABUL. AKU AKAN MEMBUNUH KAU SEKARANG JUGA DI SINI," bentaknya dengan keras. Tangannya mengambil bantal yang tadi Zavier lempar ke lantai, lalu menggunakan benda tersebut untuk memukulkan ke kepala sialan itu.
"MATI KAU SEKARANG JUGA," teriaknya murka. Gadis itu beranjak naik ke atas sofa dan dengan kejamnya ia memukul benda tersebut tepat di wajah Zavier beberapa kali.
"Sepertinya kau yang harus mengecek otak miringmu ke dokter. SIALAN, hentikan Shella." Zavier meringis ketika wajah tampannya terus merasakan ciuman dari benda lembut itu, sementara kedua tangannya berusaha mencegah kelakuan dari Shella. Okay, gadis ini benar-benar brutal dan sungguh jauh dari prediksinya.
"Okay, okay. Maafkan aku." Zavier dengan cepat membuang benda itu dan menangkap kedua tangan Shella. Ia memicingkan mata coklatnya dan menatap serius ke arahnya.
__ADS_1
Napas Shella sedikit memburu, kemudian ia sedikit memberontak agar tangannya dapat terlepas dari cengkraman pria itu. Namun, hasilnya nihil. Mereka saling menatap, hingga beberapa waktu telah berlalu dan Zavier baru sadar jika keadaan mereka terlihat sangat ekstrim sekarang. Dirinya yang berada di bawah, sedangkan Shella yang berada di atasnya dan tengah menatapnya dengan tatapan garang.
Oh, ini tampak buruk dan tidak baik untuk kesehatan Zavier.
"Bi..bisakah kau lebih jauh sedikit? Jarakmu terlalu dekat," ucap Zavier dengan nada yang gugup dan sedikit berhati-hati.
"APA? Bagaimana aku bisa menjauhimu jika kedua tanganku saja dicengkram kuat olehmu. What the **** you *******. Now, let me go."
Hell, setelah ia selesai merutuk pria itu, Shella semakin dibuat kesal ketika Zavier hanya menanggapi perkataannya dengan tatapan melongo.
Sungguh wajah bodoh yang tidak patut untuk ditampilkan.
"Shit, **** you," umpat Zavier yang secara otomatis melepaskan cengkramannya. Ia mengaduh kesakitan hingga tanpa sadar mendorong gadis itu dari atas tubuhnya.
Shella nyaris terjengkang ke belakang lantai jika saja kedua tangannya tidak menahan berat dirinya dengan menggengam erat di tepian sofa. Ia segera bangkit dengan cepat seraya menampikan senyuman penuh mengejek ke arah Zavier.
******, rasakan itu.
"Kau benar-benar perempuan yang tidak punya hati," kata Zavier seraya mengerang nyeri.
__ADS_1
Sebagai gerakan terakhir, Shella mengambil bantal yang tadi dibuang oleh pria itu, kemudian dilemparkannya kembali ke arah wajah Zavier.
Gadis tersebut terbahak senang, lalu berjalan ke kasur dan berbaring di atas sana. "Itulah balasanku untuk membersihkan para pria mesum di muku bumi ini dan kau beruntung karena aku masih belum membunuhmu. Tapi jangan berharap kau bisa kabur dariku setelah mengingat apa yang kau lakukan."
Shella kemudian menyeringai, membuat bulu kuduk Zavier sedikit meremang. "Dasar pria tua berotak cabul tingkat tinggi," rutuknya yang sudah entah keberapa kalinya.
Tanpa sadar, pria itu tampak memutar bola matanya malas, lalu berdeham dengan keras. Ia sungguh kesal sekarang. "Kau benar-benar perempuan yang tidak tahu terima kasih. Aku menyesal telah menyelamatkanmu dari para pria itu."
Ucapan itu sontak membuat gerakan Shella yang tadinya hendak mengambil ponsel miliknya terhenti. Bibir merahnya menganga lebar dan terkejut selama beberapa detik. A..apa?
Untuk beberapa waktu, ia berusaha kembali mencerna pernyataan Zavier tadi. Mata birunya terlihat memancarkan tatapan terkejut yang nyata dan tidak sanggup untuk disembunyikan.
Apa berarti orang ini adalah orang yang telah menyelamatkannya dan bukan bagian dari kelompok pria brengsek itu?
Oh my god, yang benar saja.
Tetapi setelah dipikir-pikir, mata coklat dari pria brengsek malam itu juga sama dengan mata coklat milik Zavier. Apa lelaki ini sedang mencoba untuk menipunya sekarang?
"Sudah kukatakan bukan Shella. Aku yang telah menyelamatkanmu, sedangkan para pria yang kau sebut brengsek itu adalah teman dari adikku. Oh dan juga, orang yang kutinju itu adalah adikku sendiri."
__ADS_1
6 May 2020