
"Zaviera, tolong katakan pada mom jika aku sedang tidak berada di dalam ruangan ini, oke?!" seru Zavier dengan panik. Pria itu terlihat celingak-celinguk, berusaha untuk mencari tempat persembunyian yang aman.
Tapi, Zaviera hanya menatapnya sekilas, lalu kembali memfokuskan diri pada laptop yang sedang dipangkunya itu. Volume headsetnya semakin diperbesar, membuat sang kakak semakin kesal.
"Zaviera!!" bentak Zavier, membuat perempuan itu hanya kembali menoleh sekilas, sebelum kembali menggubris kakaknya yang sudah sinting.
"Jangan ribut," gumam Zaviera dan terus bersantai ria, berbanding terbalik dengan kakaknya yang terlihat seperti sedang kerasukan setan.
Zavier tampak berjalan mondar-mandir, menggumamkan sesuatu yang tidak dimengerti oleh Zaviera, lalu menjambak rambutnya furstasi, kemudian menggigit jarinya dengan cemas.
Memang sudah gila...
Zaviera menghela napas, sedangkan mata coklatnya menatap jengkel ke arah Zavier. Si kecoa pengganggu ini!
Beberapa menit yang lalu, keledai bodoh yang berubah menjadi kakaknya ini mendobrak masuk ke dalam kamarnya begitu saja saat ia sedang bernyanyi dan berjoget-joget dengan ria di atas kasur.
Ya, kesenangannya bubar begitu saja. Zaviera langsung turun dari kasurnya dan menutup radio yang dibukanya tadi.
Tentu saja, hal itu sukses membuat Zaviera jengkel, apalagi melihat kakaknya yang ketakutan setengah mati dan langsung menutup pintu kamarnya dengan kasar, menciptakan suara bedebum yang amat keras.
Zaviera memang tidak tahu alasan apa yang membuat kakaknya seperti ini, tapi ia yakin jika itu bukanlah hal yang bagus. Zavier tidak pernah ketakutan, kecuali hal yang diperbuatnya itu menimbulkan masalah yang amat besar, sampai-sampai harus Alicia--mommy mereka--sendiri yang turun tangan.
Well... Alicia memang menginap di mansion Zavier sejak beberapa hari yang lalu, atau lebih tepatnya, semenjak pacar kakaknya keluar dari rumah sakit. Kata Alicia sih, ia ingin melihat calon menantunya dan merasa bersalah karena kejadian tak mengenakkan itu terjadi padanya.
Tapi, saat itu, Shella hanya tersenyum menenangkan dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Karena, buktinya, ia sudah sehat.
Zaviera mengulum senyumannya diam-diam. Shella memang wanita yang baik dan cantik. Bahkan Alicia sangat menyukainya saat mereka pertama kali bertemu, sampai-sampai mommynya itu langsung mengajak Shella untuk pergi shopping bersama.
Alicia tidak pernah sedekat ini bersama orang lain, kecuali orang itu sudah bisa dipercayainya ataupun sekedar teman yang sudah terjalin selama beberapa tahun.
Namun, Shella adalah wanita yang sungguh luar biasa. Alicia langsung mempercayainya begitu saja sebagai pacar Zavier pada saat mereka pertama kali bertemu.
Bayangkan saja...
Bahkan Zaviera sendiri sempat bertanya-tanya apakah Shella cukup pantas untuk menjadi pacar kakaknya. Ya, mengingat Zavier hanyalah seorang pria yang bodoh dan *****.
Pantaskah Zavier bersanding dengan wanita yang sempurna seperti Shella?
Benar-benar kakak yang tidak pernah beres.
__ADS_1
Pernah hari itu, Zaviera iseng-iseng bertanya apakah Shella benar-benar menyukai kakaknya, dan ternyata wanita itu hanya menganggukkan kepalanya dengan malu.
Ah, bukan hanya itu. Zaviera juga pernah bertanya tentang hal yang lebih ekstrim lagi, namun jawaban Shella juga tak kalah ekstrimnya.
"Jika seandainya Zavier adalah seorang ******** yang meninggalkanmu nanti, apa yang akan kau perbuat?"
Shella yang saat itu hanya mengepalkan tinjunya erat-erat. "Maka, akan kupastikan jika bendanya itu akan kucabut dari tempatnya dengan menggunakan engsel."
Shella memang wanita yang sedikit kejam, tapi sepertinya itu adalah salah satu sikap yang paling cocok untuk kakaknya yang bodoh ini.
"Zavier! ******** kecil! Dimana kau?"
Suara Alicia terdengar dan memperparah keadaan Zavier sekarang. Pria itu mulai mengucurkan keringat dinginnya, sedangkan derap langkah kaki di luar sana terdengar semakin dekat dengan kamar Zaviera.
Gadis itu melirik suntuk ke arah kakaknya. "Dipanggil mommy tuh, ******** kecil," ejek Zaviera dan menjulurkan lidahnya ke arah Zavier.
Tuh, kan. Bahkan Alicia sendiri memanggil anaknya sebagai ******** kecil.
"Argh, kau benar-benar adalah seorang adik yang paling mengesalkan," gumam Zavier dan tak berhenti celingak-celinguk untuk mencari tempat persembunyian.
"Kau adalah kakak yang paling mengesalkan di dunia juga," seru Zaviera tak kalah tajamnya, membuat Zavier menatapnya dengan frustasi.
Zaviera melotot tidak terima. Ia melepaskan headset yang menyumbat kedua telinganya tadi, lalu menatap tajam Zavier.
"Kau yang mengajak ribut denganku dulu. Kau tadi masuk ke kamarku tanpa permisi, lalu mengganggu kegiatanku! Akan kupastikan jika aku tidak segan-segan untuk melaporkannya kepada Andrew nanti!"
Zavier mengumpat kasar. Andrew lagi! Andrew lagi!
Ia benar-benar akan memastikan ******** kodok itu menerima akibatnya karena telah berpacaran dengan Zaviera hingga membuat adiknya menjadi manja kepada Andrew sendiri.
"Zavier!"
Suara Alicia terdengar semakin dekat, membuat tubuh Zavier membeku selama beberapa detik, sebelum mata coklatnya mendapati tempat persembunyian yang bagus.
Good job! Lemari.
"Katakan pada mom jika aku sedang tidak berada di sini. Kalau kau mengikuti perintahku untuk kali ini saja, aku akan memberi uang jajan yang cukup banyak," ujar Zavier dan secepat kilat langsung menuju ke lemari serta menyembunyikan badannya yang cukup besar di dalam sana.
Zaviera mencibir kesal. Memangnya apa dirinya hingga ia bisa disogok dengan cara murahan seperti itu?
__ADS_1
Tidak, tidak boleh. Walau uang yang ditawarkan itu cukup menggiurkan, Zaviera tidak boleh masuk ke lingkaran iblisnya.
Di detik selanjutnya, suara pintu yang terbuka terdengar, disusul dengan suara lembut milik Alicia.
"Zaviera, kau tahu kakakmu sedang berada di mana? ******** kecil itu menghilang sesaat setelah aku ingin menghajarnya," ujar Alicia dengan emosi yang menggebu-gebu.
Wanita paruh baya itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, lalu beralih menatap Zaviera.
Gadis itu mengangguk mantap. "Kakak sedang berada di sana," sahutnya seraya menunjuk ke arah lemarinya.
****** kau, Kak.
Uang yang ditawarkan olehmu memang menggiurkan, tapi membohongi orang tua itu hanya akan menambah dosamu, lho!
Alicia mencebik. Wanita dengan paras yang cukup cantik itu berkacak pinggang, menatap lurus ke arah lemari yang ditunjuk oleh Zaviera tadi.
Di detik selanjutnya, wanita itu langsung menuju ke lemari tersebut dan membukanya dalam sekali hentakan, membuat Zavier yang berada di dalam sana sontak berteriak meminta tolong.
"Tolong, tolong jangan. Mom!" seru Zavier. Ia meraung-raung keras.
Zaviera hanya terkikik geli. Apalagi ketika ia melihat telinga kanan Zavier yang dijewer cukup keras hingga membuat pria itu harus mengikuti langkah kaki Alicia yang menyuruhnya untuk segera keluar.
"Siapa suruh kau untuk bersembunyi di dalam lemari, hah!" bentak Alicia dengan mata yang memancarkan kilatan tajam, membuat Zavier menatap mommynya dengan mata sayunya.
Suara Alicia mulai berubah menjadi intonasi yang mengerikan, berbading terbalik saat ia berbicara lembut dengan Zaviera tadi.
Kakak pembuat masalah!
"Ampun, Mom. Huaa... sakit!" seru Zavier dan berusaha meronta-ronta melepaskan diri dari jeweran Alicia.
Tapi, wanita itu masih enggan untuk melepaskan tarikannya, karena apa yang Alicia lakukan adalah kembali menjewernya sekuat mungkin dari yang tadi.
"Mom!" pekik Zavier dan mengaduh saat Alicia dengan hati kejamnya menyeret Zavier untuk segera mengikutinya.
Dengan hati yang terpaksa, Zavier harus menahan rasa sakit yang luar biasa sambil sesekali memegang telinganya yang nyaris terlepas dari tempatnya.
"Kau! ******** kecil! Siapa yang menyuruhmu untuk memperkosa wanita sampai pingsan, hah! Dia hamil! Dasar kodok! Dan, kenapa pula kau melakukannya di rumah sakit?!"
Glek.
__ADS_1