My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 94 - He Beat Me


__ADS_3

"Shella dalam bahaya," ucap Zavier dengan wajah yang berubah menjadi pucat pasi.


Aron yang mendengar itu langsung sedikit memundurkan tubuhnya ke arah belakang. "Bagaimana bisa? Darimana kau mengetahuinya?"


Mata Zavier menjadi berkilat penuh dendam seraya meremas ponsel yang sedang dipegangnya dengan kuat, tak lagi peduli apakah benda berpipih itu akan rusak lagi sehingga memungkin dirinya untuk membeli yang baru.


Satu-satu hal yang saat ini ia pikirkan adalah, pembalasan dendam. Beraninya mereka mengambil Shella sebagai bentuk titik kelemahannya dan demi membuat seluruh reputasinya hancur.


Di detik selanjutnya, ponselnya tiba-tiba berdering amat keras, menandakan bahwa ada telepon yang baru saja masuk. Setelah melihat nama penelepon itu, tanpa ba-bi-bu lagi Zavier mengangkat telepon itu dan


mendekatkan ponsel tersebut ke telinganya.


"Langsung saja. Jangan berbasa-basi lagi," ujar Zavier dingin, membuat Aron dapat merasakan apartemennya berubah menjadi tegang dan sedingin kutub utara.


Terdengar seperti suara helaan napas yang memburu di seberang sana, seakan-akan pria itu baru saja selesai lari marathon, sebelum suara bariton milik Jason terdengar.


"Semua bodyguard yang dikhusukan untuk menjaga rumah Shella telah diserang oleh beberapa orang hingga pingsan terkapar di tanah, Tuan."


Tanpa sadar, Zavier spontan menggertakkan giginya dengan geram. Ia mengepalkan sebelah tangannya hingga jari-jarinya tampak memutih, sementara mata coklatnya bergerak menelusuri pemandangan dari kaca apartemen. Hal itu membuat Aron sedikit bergidik ngeri melihat kemurkaannya, walau ia tidak tahu pasti apa yang sedang Zavier bicarakan dengan sang penelepon.


Pria itu kemudian menjauhkan ponselnya, lalu melirik ke arah Aron. "Aku yakin frankenstein itu sudah mengambil Shella pergi," ujarnya seraya menggertakkan giginya dengan geram.

__ADS_1


Zavier dapat melihat wajah Aron yang berubah menjadi pucat, sebelum ia kembali mendekatkan telinganya ke arah ponsel. "Cuma itu berita yang ingin kau sampaikan?"


Serpersekian detik setelahnya, Zavier dapat mendengar suara keraguan dari seberang sana, membuat ia mengernyitkan dahinya heran. "Jason? Ada apa?" tanyanya lagi.


"Umm... Tuan sedang berada di mana? Apa Anda masih berada di dalam apartemen Aron?"


Suara yang dipenuhi dengan rasa gelisah dan ragu itu membuat Zavier menganggukkan kepalanya sekali, lupa sepenuhnya kalau Jason tidak dapat melihat gerakannya itu. Lalu, setelah tersadar, ia langsung menjawab.


"Iya."


"Sebenarnya, Tuan. Bukan hanya penjaga di sekitar rumah Shella yang terkapar, tapi begitu pun dengan para bodyguard yang berjaga di sebelah gedung apartemen Aron. Coba Anda lihat ke sebelah sisi gedung."


Zavier melebarkan matanya. Ia spontan melihat ke arah sisi gedung tempat ia meletakkan beberapa penjaga tadi, lalu dirinya dapat menemukan beberapa orang asing yang telah menggantikan tempat mereka. Sialan!


melangkah keluar."


Mendengar itu, Zavier mengumpat kesal. Ia menatap tajam ke arah beberapa pria berpakaian hitam itu, dan ternyata, memang betul apa perkataan Jason. Mereka tampak memiliki senjata api di tangan mereka masing-masing.


Jika begini keadaannya, bagaimana bisa dirinya akan pergi menyelamatkan


Shella? ******** Frankenstein itu!

__ADS_1


"Baik, terima kasih atas informasinya. Aku akan menutup teleponnya sekarang," ucap Zavier, lalu sesuai dengan perkataannya, ia


langsung mematikan telepon itu secara sepihak.


Namun, di detik selanjutnya, pria itu sontak menarik napas sejenak setelah menyadari sesuatu. Okay, sejak kapan ia menjadi begitu ramah kepada bawahannya? 


Biasanya Zavier akan menutup teleponnya tanpa berbasa-basi lagi. Tapi, berbeda dengan sekarang, bahkan tadi ia sempat mengatakan 'Baik, terima kasih atas informasinya.'


Oh, astaga. Ia sendiri masih tidak bisa mempercayai hal tersebut. Zavier yakin seratus persen bahwa Jason juga sama bingung dengannya.


"Aron," panggil Zavier dan menoleh ke arah pria itu, membuat Aron hanya mengerjap penuh tanya.


"Ya?"


Zavier tiba-tiba saja menyeringai dan menyimpan ponselnya ke dalam saku celana. "Aku akan membunuhmu, sialan!" pekiknya, membuat Aron semakin bingung dan tersentak kaget.


Ya? Ada apa dengan Zavier hari ini?


Zavier melangkah menuju ke arah sofa yang sedang Aron duduki, lalu ikut duduk manis di sebelah Aron. Ia menatap ke arah pria itu dengan tatapan penuh arti.


Tak butuh waktu yang lama untuk Aron berpikir sejenak, sebuah tendangan mendarat di perutnya dan langsung membuat ia terjengkang ke belakang. Pria itu sontak terbatuk-batuk dan menatap ke arah Zavier dengan tatapan tidak percaya, sebelum Aron dapat kembali merasakan tendangan mematikan yang mendarat di perutnya lagi.

__ADS_1


"Zavier! Kau gila!" pekik Aron, membuat Zavier semakin menendang tubuh Aron dengan brutal hingga pria itu terjatuh dari sofa dengan bokong yang mencium lantai.


"Ya, aku gila! Aku ingin sekali membunuhmu sekarang!" ujar Zavier dan tersenyum miring, sebelum dirinya turun dari sofa dan memukul Aron tanpa ampun.


__ADS_2