My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 40 - Two Girl On The Photo


__ADS_3

Holy crap....


Pria itu memejamkan kedua matanya. Dirinya harus terlebih dahulu memantapkan hatinya untuk menerima semua umpatan gadis itu nanti.


Ia tidak mempunyai pilihan lain lagi.


"****, what are you doing!" pekik Shella keras ketika merasakan tubuhnya tiba-tiba melayang ke atas.


"Diamlah," sungut Zavier dan terus menggendong gadis itu masuk ke dalam rumah. Shella meronta-ronta di dalam pelukan itu, membuat Zavier hanya menghela napas lelah sembari meliriknya.


Merasa tenaganya tidak cukup untuk melawan, ia akhirnya menghentikan aksi bantahannya. Shella memberengut kesal dan mengoceh tidak jelas, yang pastinya ia sedang merutuki Zavier.


"Kau benar-benar cerewet sekali," ucap Zavier dan membaringkan perempuan itu di atas sofa.


Sepasang mata coklat itu memandangi Shella yang juga tengah menatapnya. Wajah gadis ini terlihat kotor dan masam, membuat Zavier ingin menertawakannya saat ini juga. Namun, ia tahu jika ini bukan waktu yang tepat untuk mengejek seseorang.


"Ada kain?" tanya Zavier.


"Kenapa?" tanya Shella sembari bersedekap, membuat pria itu sedikit merasa terintimidasi.


"Untuk membersihkan wajahmu yang terlihat kotor itu, baby," kekeh Zavier.


Shella menatap pria itu dengan pandangan tidak sukanya. "Ada di dalam laci itu."

__ADS_1


Zavier mengikuti arah yang ditunjuk Shella, kemudian berjalan ke laci yang dimaksud. Baru saja pria itu hendak berbalik ketika telah menemukan sebuah kain, tanpa sengaja matanya menangkap sebuah foto di atas laci tersebut. Ia mendekatkan dirinya dan memandang foto dua orang perempuan yang sedang saling merangkul dan tersenyum manis.


Zavier mengenal salah satu gadis ini. Gadis yang berada di sebelah kanan itu adalah Shella, sedangkan ia tidak mengenal gadis yang berada di sebelah kiri.


Sebenarnya, ia sudah mengetahui seluruh kehidupan Shella. Kakaknya, orang tuanya, dimana ia bersekolah, hingga hal-hal sekecil apapun. Zavier telah mengecek semuanya sampai tidak ada satupun yang tertinggal. Tetapi melihat gambar ini, ia tidak mengenali gadis kecil sebelah kiri yang mungkin umurnya lebih muda dari Shella.


Apa mungkin ini temannya? Mereka sepertinya mempunyai suatu hubungan yang baik, batin Zavier heran.


"Ini siapa?" tanya Zavier penasaran dan membawa foto itu sembari berjalan ke arah Shella.


Sesampainya di depan Shella, Zavier menunjukkan foto yang baru saja ditemukannya tadi.


Namun, tanpa disangka olehnya, Shella malah merebut benda itu dari genggaman Zavier, kemudian menaruhnya di atas meja, seakan-akan foto tersebut tidak boleh dipegang oleh siapapun.


Zavier sontak mengernyitkan dahinya samar. Ada apa dengan perempuan ini?


"Apa dia temanmu?" tanya Zavier sekali lagi, tidak menyadari bahwa raut muka Shella telah menjadi keruh.


"Just mind your own business!" seru Shella tidak tahan dengan lelaki yang berada di depannya. Ia menghela napas frustasi dan menatap jengkel ke arah Zavier.


"Oh, baiklah," ujar Zavier pelan karena sepertinya Shella memang tidak ingin membahas tentang gadis di foto itu. Tidak apa-apa, ia masih bisa mencari tahu sendiri tentang itu.


Zavier mengusap wajah Shella menggunakan kain yang diambilnya tadi dengan perlahan, membersihkan seluruh tanah kotor yang menempel. Ia sedikit meringis ketika menyadari perbuatannya telah kelewatan batas. Pria itu dengan seriusnya terus melanjutkan kegiatannya hingga tanpa sadar matanya tiba-tiba terpaku pada mata biru milik Shella.

__ADS_1


"Tolong obati kakiku," perintah Shella. Ia merasa tidak nyaman dengan kedekatan mereka, apalagi tatapan yang dihujamkan oleh mata coklat itu pada dirinya. Jantungnya tiba-tiba memompa dengan cepat, begitu pun juga dengan darahnya yang terasa berdesir.


"Hmm.." Zavier langsung terlonjak sadar. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian dengan cepat mengarahkan tatapannya ke kaki Shella. Ia meringis lagi untuk yang kedua kalinya ketika mendapati lutut perempuan ini terluka.


"Tunggu sebentar, akan kuambilkan obat," ujar Zavier dan beranjak dari tempatnya. Namun ia spontan memukul jidatnya ketika tiba-tiba teringat sesuatu.


"Dimana letak obatnya?" tanyanya dan menoleh ke arah Shella.


Mata biru itu menatapnya miring, diiringi dengan gerakan pada mulut tipis tersebut. "Di dalam lemari coklat itu."


Sejenak, Zavier terpaku sesaat di tempatnya. Mata biru itu terasa menghipnotis dirinya, mengunci seluruh sarafnya yang bekerja. Namun di detik selanjutnya, ia langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat dan beralih menuju ke lemari coklat itu. Aih, kenapa dengan dirimu Zavier.....


****


"Oke. Sudah siap." Zavier menyimpan kembali obat merah yang dipakainya ke lutut Shella. Ia menaruh botol obat itu di dalam kotak, kemudian dikembalikannya ke dalam lemari.


"Ah, ya. Aku baru ingat jika gerbang rumah di depan belum kututup. Bisakah kau membantuku melakukannya?" tanya Shella ketika pria itu hendak membalikkan tubuh.


"Hmm.. Baiklah. Tunggu sebentar," ujar Zavier dan langsung bergegas pergi keluar.


Melihat itu, tanpa sadar bibir tipis kemerahan milik Shella berkedut samar. Ia terus menatap lurus pada sosok tubuh tegap yang sudah menghilang di balik pintu rumahnya.


7 May 2020

__ADS_1


__ADS_2