
Andrew menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Franklin tidak pernah mempunyai anak."
Tanpa sadar, langkah Shella langsung berhenti, membuat pria itu ikut menghentikan langkahnya juga. Ia menatap ke arah Andrew dengan tatapan penuh tanda tanya. "Tapi, tadi Lina bilang kalau--"
Sekali lagi, pria itu kembali menggeleng keras. "Tidak, sama sekali bukan."
"Jadi? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."
"Kau boleh menanyakan hal itu langsung ke pacarmu sendiri. Aku yakin Zavier akan memberitahukan semua detailnya," ujar Andrew dan kembali melangkahkan kakinya yang sempat berhenti.
Shella hanya mengangguk samar, sebelum dirinya bergerak mengikuti Andrew yang sudah berjalan terlebih dahulu. "Kenapa kalian terus menyebutkan Zavier sebagai pacarku?"
Andrew berkacak pinggang. "Apa maksudmu dari kata 'mereka'?"
"Kau dan Lina, tentu saja. Kalau tidak, siapa lagi?"
Mendengar itu, Andrew langsung tertawa renyah, seakan-akan pertanyaan yang dilontarkan oleh Shella adalah kalimat yang paling konyol sedunia. "Kau jatuh cinta padanya dan dia jatuh cinta padamu, tentu saja kalian sudah berpacaran."
Pipi Shella sontak berubah menjadi merah. "Kita tidak berpacaran," serunya dengan nada yang tercekat.
"Kenapa tidak? Raut wajahmu tampak menunjukkan bahwa kau sangat menyukainya. Bukan begitu?" Andrew menghentikan kalimatnya sejenak, lalu tanpa sadar menatap tajam ke arah dua penjaga yang sedang berdiri di depan pintu keluar. "Lagipula, Zavier sendiri yang mengatakan bahwa kau adalah pacarnya."
Shella mengangkat sebelah alisnya. "Dia mengatakan seperti itu?"
__ADS_1
"Well, yes." Andrew melirik Shella dengan heran. "Kau tidak tahu?"
Shella hanya mengedikkan bahunya tidak peduli, atau lebih tepatnya, berusaha untuk tidak terlalu peduli, walaupun secuil hatinya telah begitu penasaran dengan apa saja sebenarnya yang telah dibicarakan oleh Zavier tentang dirinya. "Tidak."
Andrew mengernyit. "Zavier sepertinya bukan tipe orang yang tidak mencurahkan isi hatinya. Tapi, yah, aku tidak ingin mencampuri urusan percintaan kalian."
Cinta...
Mendengar kata itu hanya membuat Shella kembali terpikir dengan Aron. Pria itu datang kemari bersama dengan Zavier.
"Dan sekarang, kita hanya perlu menghabisi dua para penjaga itu sehingga kita bisa kabur dari sini sesegera mungkin," sahut Andrew yang hanya perlu untuk melangkah tujuh langkah lagi agar dapat mencapai pintu keluar tersebut.
Shella menatap ke arah dua objek yang dimaksud oleh Andrew, lalu mengerjap sekali. Di sana, di depan mereka terdapat sebuah pintu kayu yang lusuh, sepertinya adalah pintu keluar yang disebut oleh pria di sampingnya tadi. Tapi, di sisi kiri dan kanan pintu itu terdapat dua orang pria bertubuh kekar yang berbaju hitam tengah berjaga. Apa orang jahat memang harus terus memakai pakaian yang berwarna hitam?
"Apa maksud dari 'menghabisi' itu adalah membunuh mereka?" tanya Shella dan sedikit bergidik horor ke arah Andrew.
You are lying, dude. Yeah, of course. Kalau tidak, Shella pasti akan ketakutan hebat ketika melihat ada tubuh mayat yang tergeletak di sekitarnya, walau sebenarnya gadis itu sudah melangkahi beberapa tubuh mayat di ruangan tadi tanpa dia sadari.
"Oh. Jadi, bagaimana dengan nasib Zavier? Bukankah tadi dia sudah datang ke sini?"
Andrew melipat bibirnya ke dalam, seakan-akan ia sedang menahan tawanya yang nyaris menyembur keluar. "Bukan cuma Zavier, Shella. Tapi ada dua orang, yaitu Zavier dan Aron. Kenapa kau hanya mengingat nama Zavier saja? Apa kau sudah begitu merindukannya setelah keluar dari apartemennya tadi pagi?"
Shella spontan menggeleng keras, membuat Andrew menatapnya dengan tatapan yang seakan-akan sedang mengatakan kalimat 'are you kidding me right now?'
__ADS_1
"Kalian tidak berbuat sesuatu? Seperti something or anything?" tanya Andrew dan mengulum senyumannya.
Mendengar itu, wajah Shella langsung memanas. Something or anything?
"Aku tidak tahu apa maksud dari 'something or anything' yang kau katakan tadi," jawab Shella dan berpura-pura tidak mengerti dengan kalimat sialan Andrew. Kalimat yang entah kenapa sama sialnya dengan wajah Zavier sewaktu menguncinya di dalam apartemen bersama lelaki tersebut.
"Oh, ayolah. Aku yakin sekali ada terjadi sesuatu diantara kalian."
Shella menoleh dengan raut wajah yang masam. "Sarapan."
"Hanya itu?"
"Dan, dia mengunciku di dalam apartemen." Tapi, di detik selanjutnya, Shella langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan ketika menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. Oh, great, dirinya baru saja keceplosan di depan Andrew.
"Mengunci pintu apartemen? Bukan menguncimu di dalam kamar dan berduaan di dalam sana? Oh, tidak seru sekali!" seru Andrew yang langsung to the point, membuat Shella spontan memalingkan wajahnya ke samping, enggan untuk menatap wajah milik Andrew.
Apanya yang tidak seru? Sepertinya semua orang terdekat dari Zavier memang sangat mesum dan cabul, bahkan William, daddynya sendiri, sudah tertular dengan virus mematikan ini.
Namun, tepat setelah Andrew menyelesaikan kalimatnya, suara tepuk tangan dari arah belakang sontak membuat mereka berdua langsung menoleh ke asal suara. Shella dapat melihat Andrew terbelalak, sama dengan dirinya juga ketika mendapati ada seorang pria gendut yang sedang berdiri dengan gagahnya di depan mereka, tak lupa juga dengan beberapa anak buahnya yang berdiri di belakang.
"Hai, Franklin. Bagaimana kabarmu?" sapa Andrew yang sepertinya ingin berbasa-basi, walau pria itu dapat merasakan jantungnya berdegup kencang akibat rasa terkejutnya.
Tunggu, seharusnya Zavier sudah berhasil membuat Franklin terpancing tanpa mengetahui bahwa ia sudah membawa Shella kabur. Shit, pasti sesuatu telah terjadi pada Zavier, melihat Franklin yang sepertinya tampak tenang-tenang saja.
__ADS_1
Sementara itu, Shella yang berdiri di sampingnya hanya tertegun tanpa tahu harus berbuat apa.
"Aku baik-baik saja. Apa misi penyelamatan gadis itu telah selesai?" tanya Franklin seakan-akan hal tersebut hanyalah sebuah masalah sepele.