My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 41 - The Revenge


__ADS_3

"Tolong ambilkan air di dapur, aku haus sekali," perintah Shella kepada Zavier yang baru saja selesai menutup pintu gerbang rumahnya.


"Oke." Zavier menegakkan tubuhnya. "Dimana letak dapurnya?"


"Kau berjalan lurus ke belakang sana, lalu beloklah ke kanan. Di sana nanti kau akan bertemu dengan dapurnya," jelas Shella, memberikan arahan kepada pria itu.


Setelah Zavier pergi, Shella melirik ke arah foto yang diambil oleh pria itu tadi. Ia kembali mengambil foto itu dan memandangi kedua perempuan tersebut. Shella tersenyum kecil secara terpaksa, sebelum akhirnya menghela napas lelah.


Ia meletakkan jempol kanannya ke gambar perempuan yang berada di sisi sebelah kiri, mengelus wajah itu secara perlahan, kemudian bergumam kecil. "Semoga kau dapat berbahagia di sana."


"Kenapa denganmu?"


Shella sontak berjengit kaget mendengar suara yang berada di sampingnya itu. Tanpa sengaja, ia menjatuhkan benda yang dipegangnya ke lantai dan langsung ditangkap oleh Zavier secara sigap.


Sial, dirinya bahkan tidak menyadari jika pria itu telah kembali ke sini dengan cepatnya.


"Terima kasih," tukas Shella tulus ketika pria itu mengembalikan foto tersebut. Ia menghela napas lega dan kembali menaruh benda itu di atas meja. Mata birunya menatap perempuan di foto itu dengan lama, sebelum akhirnya beralih menatap Zavier yang tengah memegang segelas air di tangannya.


"Benda itu begitu berharga, ya?" tanya Zavier dan menyodorkan segelas air yang diminta oleh Shella tadi.


Gadis itu hanya bergumam kecil, lalu meneguk seluruh air itu dengan cepat hingga kandas. Setelahnya, ia menaruh gelas kosong itu di atas meja.


"Aku lapar. Belikan aku makanan," perintah Shella lagi yang membuat Zavier spontan menyatukan kedua alisnya.


"Apa? Kenapa kau memerintahku?" tanya Zavier dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa sebelah Shella.


"Pretty boy. Kau mempunyai kedua mata dan otak yang masih berfungsi, kan? Apa kau tidak ingat bahwa kau yang telah mencelakaiku di depan rumah, lalu membuatku menciptakan kedua luka jelek di kakiku? Aku tidak bisa berjalan, Brengsek!" seru Shella kesal. "Dan aku lapar sekarang. Belikan aku makanan."

__ADS_1


Melihat Zavier yang masih belum bergerak dari tempatnya, Shella langsung memutar kedua bola matanya. "Setelah membuatku tidak bisa berjalan, kau mau membuatku mati kelaparan di rumahku sendiri?"


mendengar itu, Zavier lantas menaruh kedua tangannya di depan dada sembari menyipitkan kedua matanya dan memandang tidak percaya ke arah gadis itu. "Seriously?" tanyanya.


"Yes."


"Kalau begitu, akan kusuruh anak buahku untuk membelikan makanan untukmu," ujar Zavier dan mengeluarkan ponselnya dari saku celana.


Namun, baru saja ia hendak mendial nomor anak buahnya, Shella kembali melontarkan perkataan yang membuatnya langsung menghentikan niatnya.


"Aku ingin kau yang pergi membelinya, bukan anak buahmu. Aku sudah tahu jika kau berasal dari keluarga kaya, jadi tidak usah memamerkan anak-anak yang kau perintahmu itu," ujar Shella yang membuat Zavier memicing tidak suka.


Apa? anak-anak yang diperintahnya? keluarga kaya? memamerkan uang?


Is she fucking kidding me now? Holy shit, batinnya kesal.


Shella menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak. Karena semua orang- orang yang sama spesiesnya denganmu memang sangat suka sekali memamerkan seluruh kekayaan miliknya. Itu membuatku muak, apalagi dengan dirimu yang sudah sinting ini."


Jleb. Harga diri Zavier langsung terjatuh ke tanah. Hilang sudah harga dirinya.


"Tidak. Aku ini tipe orang yang tidak terlalu suka dengan yang namanya 'kerumitan'. Lagipula, aku sudah memiliki orang yang bisa kuperintah, jadi kenapa harus bersusah-susah seperti itu."


"Dan karena itulah, aku sungguh muak dengan spesies yang sama sepertimu. Hanya karena kekayaanmu, dengan sombongnya kau bisa memerintah orang seenak jidatnya saja. Cih...."


Zavier langsung menyimpan ponselnya di saku celana jinsnya dengan sedikit geram. Apa katanya?


"Okay, aku sendiri yang akan pergi membelinya. Kau mau makan apa?"

__ADS_1


Shella memandangi pria itu dan tersenyum manis."Pizza yang berukuran besar. The big size one."


Zavier sontak membelalakan matanya. "What the ****? Apa kau yakin kau yang berbadan mungil itu bisa memakan semuanya sekaligus?"


Shella langsung memandang pria itu dengan tatapan kesalnya. "Tentu saja aku bisa. Dengan tubuh mungil yang kau bilang ini, aku bisa menghabiskannya dengan cepat," belanya.


"Baiklah, aku akan pergi membelinya," ujar Zavier dengan sedikit tidak yakin.


Belum sempat pria itu melangkah keluar, Shella kembali menyerocosnya dengan cepat. "Aku tetap akan membayarmu jika itu yang kau takutkan sekarang."


****


Zavier mengerjapkan matanya beberapa kali, terheran dengan gadis yang berada di depannya memakan lahap semuanya dalam sekejap. Yang benar saja..... ia tidak pernah bertemu dengan gadis yang memiliki spesies langkah seperti ini. Biasanya para gadis yang lain akan memperhatikan kalori makanan yang dimakannya, atau berat badan mereka akan menjadi naik. Tapi, Shella tidak.


"Lihat, aku tidak berbohong, kan," ujar Shella dan memasukkan potongan terakhir pizza ke dalam mulutnya. "Sekarang, ambilkan aku minum lagi."


Zavier mencibir. "Apa kau sedang membuatku menjadi pengurusmu?"


"Tidak," sahut gadis itu tenang dan tetap mengunyah makanan yang berada di dalam mulutnya. "Memang ini yang pantas kau dapatkan setelah mencelakakan diriku. Apa kau tidak kasihan dengan kedua kakiku ini?"


Zavier menggertakkan giginya dengan kesal, sebelum akhirnya menjalani perintah Shella. Sial, ia tidak perlu diingatkan terus-menerus tentang kejadian itu.


Sementara itu, Shella terkekeh geli ketika melihat pria itu menjalani perintahnya dengan terpaksa dan menghilang di balik dapur. Well, memang ia sedang ingin menyiksa batin Zavier karena telah mencelakakan dirinya.


Inilah balas dendamnya kepada pria tersebut. Rasakan itu....


7 May 2020

__ADS_1


__ADS_2