
Suara Shella yang tenang lantas berubah menjadi pekikan yang keras. Ia merasakan tubuhnya melayang sesaat, sebelum tiba-tiba sebuah tangan yang kekar menangkup wajahnya dengan sedikit kasar dan di detik selanjutnya, ia dapat merasakan jika bibirnya didaratkan oleh sebuah ciuman yang panas.
Shella yang terkejut, sontak membuka bibir merahnya, membuat Zavier menyeringai dalam hati dan segera memasukkan lidahnya ke dalam.
"Za--za--vier," ucap Shella terbata-bata. Ia kewalahan dalam menghadapi sikap pria itu yang tiba-tiba menjadi brutal sesaat.
Gadis itu berusaha memberontak, namun Zavier malah semakin menekan bibirnya ke bibir pria tersebut.
Shella panik. Ia berusaha mencari kesempatan, hingga tiba-tiba saja dirinya menyadari sesuatu. Kedua kakinya sedang terbebas saat ini, dan memungkinkan dirinya untuk segera menendang Zavier menjauh.
Zavier menahan tengkuk Shella, sebelum berbisik di sela-sela ciumannya. "Jangan terlalu penasaran---ARGH!"
Zavier spontan melepaskan ciuman panasnya. Tanpa sadar, ia menghentakan tengkuk Shella agar menjauh darinya, lalu meringis kesakitan layaknya seorang bayi kecil. "SHELLA!" pekiknya menahan sakit.
"Apa yang kau lakukan!!" jerit Zavier yang spontan memegangi harta bendanya. Matanya tampak menunjukkan kilatan rasa sakit yang amat dalam. Ia mengumpat kesal.
Sementara itu, perempuan tersebut sedikit terhuyung ke belakang akibat dorongan Zavier, sebelum dirinya terjerembab di atas sofa. Ia ikut meringis kesakitan.
Namun, setelah mendengar ringisan Zavier, Shella malah tersenyum lega dalam hati dan sedikit bersorak ketika mengingat kembali apa yang baru saja ia perbuat. Makan tendangan mematikanku itu, Zavier!
Good job, Shella!
__ADS_1
Pria itu terus meringis, hingga tiba-tiba saja kedua matanya melotot lebar saat melihat Shella hendak pergi dari apartemennya. Tanpa sadar, ia langsung menarik pergelangan perempuan itu dan menjatuhkan Shella di atas sofa, sebelum dirinya langsung mengurung tubuh mungil tersebut.
"ZAVIER!" pekik Shella terkejut dan spontan menatap kesal ke arah pria itu. Ia berusaha mendorong pria yang berada di atasnya sekuat tenaga, namun usahanya sia-sia. Ia akhirnya memukul-mukul dada bidang itu.
"Aku sesak, Zavier!" jerit Shella saat melihat pria itu semakin mendekatkan tubuh kekarnya ke arah dirinya.
"Ini hukumanmu, baby. Beraninya kau melakukan hal yang kejam itu padaku," ucap Zavier yang tampak masih menutupi rasa sakitnya. Ia mendekatkan dirinya ke lekuk leher Shella, sebelum menjatuhkan seluruh wajahnya di bawah sana.
Ugh... aroma yang memabukkan.
"Zavier!" erang Shella tertahan. Ia menolehkan kepalanya ke kiri, berusaha menghindari kecupan dari Zavier. Namun, sepertinya hal itu sia-sia saja karena pria itu menjadi lebih leluasa untuk menikmati lehernya.
"Hentikan!" pekik perempuan itu lagi, membuat Zavier yang tadinya sedang menciumi leher jenjang Shella beralih ke bibir merahnya.
"Kau berisik sekali, baby," ucap Zavier di sela-sela ciumannya. Ia ******* bibir tipis itu dengan senang hati.
"Lepas!"
Di detik selanjutnya, suara ponsel milik Zavier berdering, menandakan bahwa ada telepon yang masuk. Tanpa sadar, Shella menahan napas lega, lalu melirik ke arah mata coklat Zavier yang tengah terpejam dan sedang ******* bibir tipisnya.
Sial, Shella akan menggunakan keadaan ini untuk menghentikan aksi Zavier!
__ADS_1
"Zavier, ada orang yang sedang meneleponmu!" jerit Shella yang memekakan telinga di sela-sela ciuman tersebut, membuat pria itu yang tadinya sedang menikmati bibirnya langsung berdesis kaget.
"Apa?" tanya Zavier dan melepaskan ciumannya. Ia tampak terengah-engah akibat perbuatannya sendiri. Sedangkan otaknya menjadi sedikit lambat untuk mencerna perkataan Shella.
"Minggir," seru Shella, lalu menendang perut Zavier dengan sekali hentakan, dan berhasil. Pria tersebut langsung jatuh ke lantai sembari memekik sakit.
"Damn it, Shella!" umpatnya seraya meringis sakit. Ia kemudian memegangi punggungnya yang baru saja terasa seperti tersengat listrik.
Kesialan telah menimpa dirinya, karena punggungnya-lah yang terlebih dahulu mendarat di atas keramik licin ini.
"Ponselmu berbunyi, Zavier!" pekik Shella dengan kesal. Ia bangkit duduk di atas sofa, lalu menyapukan bibirnya dengan menggunakan salah satu tangannya. Shit, bibirnya membengkak.
Mendengar itu, Zavier hanya mendengus kesal, seakan-akan Shella-lah yang membuat ponselnya berbunyi dan menghentikan keseruannya.
Benar-benar sebuah benda berbentuk kotak dan berpipih yang membawa sial.
Zavier merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel miliknya dengan terpaksa, kemudian langsung mengangkat telepon tanpa melihat nama peneleponnya.
"APA!" sentaknya langsung.
"SEKALI LAGI AKU MELIHATMU BERCIUMAN DENGAN SHELLA, AKU TIDAK SEGAN-SEGAN UNTUK MENEMBAKMU MATI DARI SINI. INGAT ITU! SEKARANG, JAUHI SHELLA!"
__ADS_1