My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 21 - God, Damn It


__ADS_3

Di detik selanjutnya, Zavier bergerak menangkup seluruh wajahnya dengan kedua tangan, kemudian beranjak dari tempat duduknya. "Cari tahu siapa sebenarnya yang melakukan semua perbuatan ini."


"Baik, Tuan."


Pria itu melangkah menuju ke lemari berwarna putih dan memilih pakaian yang akan dipakainya. Tangannya kemudian mengambil sebuah setelan jas berwarna biru.


Setelah melihat-lihat dan merasa cocok dengan pilihannya, ia lantas berjalan ke kamar mandi seraya berkata. "Katakan kepada dokter jika aku akan keluar dari rumah sakit hari ini, Jason."


Jason yang berada di belakang Zavier langsung menganggukan kepalanya, memenuhi perintah bosnya. "Baik, Tuan."


Setelah Zavier menghilang di balik pintu, Jason memutar tubuhnya dan langsung berjalan keluar. Ia menutup pintu, lalu menghela napas lega sembari menatap ke arah para bodyguard yang lain. "Apa kalian tidak merasa jika hari ini sikap bos menjadi aneh?"


Salah seorang pria langsung menganggukan kepalanya dengan cepat. "Iya, kurasa juga begitu. Padahal sebelum bos masuk ke dalam ruangan gadis itu, ia tampak baik-baik saja. Namun setelah ia keluar dari ruangan itu, bos kita menjadi tampak berantakan," sahutnya. "Apalagi tadi bos langsung mau memecatku hanya karena mengatakan rambutnya yang terlihat berantakan."


Jason turut menganggukan kepalanya. Ya, tentu saja ini sangat aneh. Kenapa ia juga dimarahi hanya karena bertanya 'ada apa dengan telinganya yang memerah'?


So weird...


Pikiran Jason kemudian dengan cepat terarah pada satu hal. Dan tunggu..... Atau jangan-jangan, mereka ada apa-apa di dalam ruangan itu?


Jason langsung bergidik ngeri membayangkan hal itu. Apa yang mereka lakukan tadi di dalam sana?


"Apa mereka berbuat hal yang tidak-tidak di dalam ruangan itu?" tanya Jason langsung to the point. Mata hitamnya menatap ke arah para lelaki yang berada di depannya.


Mereka tertegun dan saling memandang satu sama lain, tampak sedikit ragu dengan ucapannya barusan.

__ADS_1


"Kalian masih ingat teriakan di dalam ruangan sana? Jika tidak salah, aku mendengar suara yang meneriakkan kata 'pelecehan' dan 'pemerkosaan'," papar Jason serius, seakan-akan membuktikan ucapannya tadi sangat meyakinkan dan tidak salah.


Semua yang berada di sana tiba-tiba terdiam dan meneguk salivanya susah. Pikiran mereka mulai melayang-layang, membayangkan hal-hal yang mungkin bosnya dan gadis itu lakukan.


"Oh ya, kaos milik bos tadi juga terlihat sangat kusut bukan? Lalu rambutnya yang berantakan karena sepertinya baru dibelai-belai oleh seseorang. Apa mungkin mereka....." Jason memutuskan kalimatnya dan kembali membayangkan hal tersebut. "Mungkin mereka sedang-----"


"Mungkin mereka sedang apa?" Tiba-tiba sebuah suara bariton bertanya dan memotong kalimat Jason yang belum selesai.


Jason mengernyitkan dahinya kesal. Kalimatnya bahkan belum selesai diucapkan, tetapi seseorang telah memotongnya dengan cepat. Ia menoleh dengan jengkel, hendak melihat wajah orang yang tidak memiliki sopan santun itu. "Mereka pasti sedang melaku----"


Di detik selanjutnya, kalimat Jason langsung terpotong begitu saja. Tanpa sadar, ia membelalakan matanya lebar, terkesiap ketika melihat wajah orang itu. Ia tergagap, sementara para bodyguard lain langsung menunduk hormat dengan rasa gugup yang luar biasa.


Belum sampai lima detik, ia kembali menarik kata-katanya sendiri. Ternyata, orang yang tidak mempunyai sopan santun ini adalah bosnya sendiri.


Good Jason, you make a new problem again.


Zavier yang sedang berdiri di ambang pintu langsung berkacak pinggang dan memicingkan matanya. "Mereka sedang melakukan apa di dalam sana?" Ia bertanya kembali dengan nada yang rendah. Mata coklatnya tampak menyorot rasa kejengkelan yang amat dalam.


"Saya tidak tahu, Tuan."


Zavier memutar bola matanya dengan kesal. "Apa kalian semua ingin kupecat sekarang?"


"Tidak, Sir," jawab mereka serentak, kecuali dengan Jason yang masih menetralkan rasa gugupnya.


"Jason, apa kau meminta untuk dipecat?"

__ADS_1


Pria itu mengangkat kepalanya ketika merasa namanya dipanggil dan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Tuan," balasnya dengan suara kecil.


"Kalau begitu kalian semua kembalilah bekerja. Aku tidak memperkerjakan kalian hanya untuk menggosip diriku di belakang," seru Zavier keras.


"Baik, Tuan."


Zavier memijit pelipisnya, lalu bergerak menutup pintu kamar itu dengan kasar, sehingga membuat suara berdemum yang cukup keras.


Padahal tadi Zavier kembali keluar dari kamar mandi saat ia baru saja menyadari bahwa dirinya telah melupakan sesuatu. Ia ingin memberi tahu Jason jika ia akan menyuruh beberapa bodyguard untuk berjaga di depan ruangan gadis itu. Tapi sialnya, kenapa bawahannya yang sungguh kurang ajar itu malah menggosip tentang dirinya?


Dan sekarang, niatnya sudah dibatalkan dalam sekejap.


Ia menjatuhkan dirinya di atas ranjang, lalu mendesah panjang ketika memikirkan kalimat bawahannya tadi. Apa? Rambutnya dibelai-belai?


Yang benar saja. Oh my lord...


Sialan Jason, hanya berkata seenak jidatnya saja.


Jika dibelai-belai, maka ia pasti akan menyukai hal itu. Tapi ini tidak, rambutnya malah dijambak hingga beberapa helai rambut coklat miliknya ini menjadi rontok.


And what did he say?


Mungkin mereka sedang berbuat hal yang tidak-tidak di dalam ruangan gadis itu? memikirkan itu saja langsung membuat Zavier mengerang kesal. Apa maksudnya coba?


Mungkin Jason berpikir jika dia telah berbuat macam-macam kepada gadis itu? Hell, dia tidak sejahat itu sialan.

__ADS_1


Suatu saat aku yang akan bermacam-macam denganmu Jason. Sekali lagi aku mendapati kau sedang menggosip tentang diriku, aku akan membuatmu menjadi abu pada saat itu juga, batinnya dengan tekad yang kuat sembari mengepalkan kedua tangannya.


30 April 2020


__ADS_2