My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 38 - He Kiss Me


__ADS_3

"Aku pergi dulu, Mr. Turner. Sampai nanti," ucap Shella begitu mereka sampai di depan gerbang. Gadis itu tersenyum tipis kepada Christian dan ayahnya Zavier, sementara Zavier sendiri hanya berdiri di samping Shella dengan suasana hati yang muram.


"Kau boleh datang ke sini lagi. Kami tidak melarangmu dan akan selalu membuka pintu untukmu," ujar Clayton dengan senyuman terbaiknya.


Sementara itu, Zavier kembali mencibir. Ini mansion miliknya, tetapi kenapa malah daddynya yang mengatur semuanya, bahkan tidak meminta izin terlebih dahulu darinya?


"Cepatlah, aku sudah mau telat," protes Zavier karena mereka mulai berbincang-bincang kembali. Dan yang lebih parahnya lagi, mereka bertiga selalu saja menjadikan dia sebagai topik utama.


Gosh...


"Dasar pria tidak sabaran," gerutu Shella.


"Baiklah. Ayo, cepat!" seru Shella dan berjalan duluan menuju ke mobil Zavier, meninggalkan pria itu di belakangnya.


Bukannya mengikuti langkah Shella, Zavier malah sedikit memiringkan kepalanya, menatap ke arah perempuan itu yang terus berjalan hingga berhenti di salah satu mobil merah kesukaannya.


"Katanya kau sudah mau telat, kan? Jadi kenapa kau masih berdiri di sana!" jerit Shella yang sedang berdiri di depan mobil Zavier, membuat pemiliknya hanya menghela napas jengkel. Gadis itu tampak sedang berkacak pinggang, kemudian mengoceh tidak jelas karena pria itu masih belum bergerak juga.


Sial, dasar pria gila ini.


"Bermacam-macam dengannya, kau mati di tanganku," ancam Christian ketika Zavier hendak melangkah menyusul gadis itu.


Pria itu menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas, menyunggingkan senyuman miring ke arah adiknya. "Kau yang akan kuhajar, bukan diriku."


Zavier melanjutkan langkah kakinya, tidak peduli lagi dengan semua umpatan yang dilontarkan Christian kepadanya.


"Kau lama sekali," gerutu Shella sembari mencebikkan bibirnya sebal.


Zavier hanya tersenyum, lalu menghidupkan mobil, diiringi dengan Shella yang langsung masuk ke dalam tanpa banyak bicara.


Pria itu kemudian duduk di balik kemudi, sebelum akhirnya ia menginjak gas dan pergi meninggalkan mansionnya.


"Jangan lupa dengan tugasmu. Ingat, batas pengumpulannya pada hari Jumat," ujar Zavier mengingatkan, membuat Shella langsung menatapnya dengan kesal.

__ADS_1


"Iya, Pak."


Zavier hanya mengernyitkan dahinya ketika Shella kembali menyebut dirinya dengan sebutan 'Pak'. Ia melirik perempuan itu dari kaca mobil, tetapi masih terfokus pada jalan di depannya.


"Maksudku, iya Zavier," ujar Shella sembari memutar bola matanya saat menyadari tatapan pria itu dari kaca mobil.


"Baguslah, dan sebentar lagi kita hampir sampai di kampus."


Perkataan itu membuat Shella semakin kesal dengan Zavier. Padahal dirinya masih sakit, tetapi kenapa dosennya yang satu ini tidak mau memberikan izin untuknya pada hari ini? Apa pria itu memiliki dendam padanya?


Aih, dua hari tidak pergi ke kampus sepertinya tidak masalah.


****


"Shella, kau tidak apa-apa? Aku khawatir sekali padamu. Dan kenapa kau bisa mengalami hal seperti itu?" tanya Christina secara beruntun ketika melihat temannya datang ke kampus dalam keadaan sehat.


Shella meletakkan tasnya di atas meja, kemudian duduk di samping wanita tersebut. "Darimana kau tahu?"


"Tentu saja aku tahu. Kau bersama dosen baru kita masuk ke dalam berita. Memangnya kau masih belum mengetahuinya?"


Ia sendiri juga hampir lupa dengan berita itu. Hell, pantas saja saat tadi ia sedang berjalan masuk ke dalam kampus, semua orang di sekitarnya langsung berbisik-bisik ketika melihat dirinya.


Dan tentu saja ia tidak menyukai hal seperti itu.


"Kau tidak apa-apa, kan?"


"Aku baik-baik saja."


Sepertinya untuk beberapa hari ini, Shella bersama dosennya akan menjadi terkenal di dalam kampus.


****


16.00 P.M

__ADS_1


"Mau kuantar pulang?" tanya sebuah suara bariton.


Shella yang sedang berjalan di trotoar sontak melambatkan langkahnya. Gadis itu mengernyit heran karena menyadari siapa pemilik suara itu.


Apa lagi yang lelaki ini inginkan?


"Tidak perlu," ujar Shella jutek tanpa menghentikan langkah kakinya.


Sial, Shella merasa lelaki itu juga mengikutinya dari belakang, membuatnya semakin merasa kesal dengan Zavier.


Beberapa menit kemudian telah berlalu dan pria itu masih belum pergi juga.


"Jangan mengikutiku," sergah Shella pada akhirnya.


"Memangnya siapa yang mengikutimu?" tanya Zavier balik.


"Kau," geram Shella marah. Gadis itu akhirnya menghentikan langkah kakinya dan menoleh dengan kesal, menatap ke arah pria tersebut.


Sementara itu, Zavier hanya mengembangkan senyumannya. "Aku ingin memberikanmu sesuatu."


"Apa?" ketus Shella sembari melipat kedua tangannya di depan dada.


Zavier tetap tersenyum, sebelum akhirnya pria itu dengan cepat mengecup sekilas pipi Shella.


Gadis itu terpaku di tempat, tertegun dengan apa yang Zavier lakukan barusan. Ia hendak memukul pria tersebut, namun tidak terjadi karena orang itu telah berlari meninggalkannya terlebih dahulu.


"I love you, Shella," ujar Zavier dengan keras, sebelum akhirnya sosok pria itu menghilang di balik trotoar.


What the ****.


Butuh beberapa waktu untuk membuat Shella tersadar. Ia memegangi pipinya yang baru saja dirampas dan merona merah.


He just kiss me, batinnya yang masih syok. Jantungnya sontak berdegup dengan cepat. Rasa hangat itu menjalar ke seluruh tubuhnya, menimbulkan sensasi aneh yang sudah lama tidak pernah dirasakannya.

__ADS_1


7 May 2020


__ADS_2