
"Ya, dan katanya, dia sudah menyukai seseorang dan ingin sekali mengerjarnya. Daddy sungguh penasaran dengan siapa yang membuatnya ingin bekerja keras sekarang," ucap Clayton dan menggeleng-gelengkan kepalanya, menyadari bahwa kedua anaknya sudah dewasa dan telah menyukai seseorang.
Mendengar itu langsung membuat raut wajah Zavier lantas berubah menjadi kusam.
That *******, rutuk Zavier dalam hati.
Sepertinya aku harus bersaing dengan Christian lagi untuk memperebutkan seorang wanita. Sialan kau, Christian brengsek.
Zavier yakin jika adiknya itu menyukai Shella dan bukan perempuan yang lain. Karena dalam seumur hidupnya ini, pria kekanak-kanakan yang tampak menyedihkan itu hanya tahu bagaimana caranya bermain wanita, bukan melihat seorang wanita dengan tatapan yang berbinar-binar, seperti saat kepada Shella.
---------------------------------------
"Jam berapa daddy pergi ke bandara besok? Aku akan mengantarkanmu," ucap Zavier, berusaha mengalihkan topik yang ia tidak sukai.
"Jam 1 siang," balas Clayton. Lalu seakan-akan teringat sesuatu, pria itu langsung menegakkan tubuhnya. "Aku mau tanya sesuatu. Kenapa kau ingin menjadi seorang dosen di kampus milik daddy? Terus, kenapa kau yang membayar seluruh biaya rumah sakit perempuan itu?"
"Lagipula, daddy tidak keberatan kan, kalau aku menjadi seorang dosen?" Zavier malah bertanya balik.
"Hmm... Tidak. Cuma ini terasa aneh bagiku karena biasanya kau menolak pekerjaan yang lain dan hanya ingin mengembangkan bisnis gelapmu. Apa mungkin ini semua gara-gara perempuan itu?" tebak Clayton tepat sasaran, membuat Zavier langsung menghela napas.
__ADS_1
Apa daddynya mempunyai kemampuan untuk membaca pikiran?
"Perempuan yang mana?" tanya Zavier, seolah-olah masih tidak mengerti dengan perkataan ayahnya.
"Kau tidak pandai untuk berpura-pura, Son. Aku tahu jika perempuan itu berkuliah di kampus milikku dan kelas yang kau ajari juga merupakan kelasnya juga. Gosh, hanya untuk meladenimu, daddy sampai harus memecat dosen lama yang baik itu."
Zavier akhirnya menganggukan kepalanya dengan terpaksa ketika menyadari bahwa ia tidak bisa mengelak perkataan itu lagi.
Sang Ayah, Clayton Turner dulunya adalah seorang mafia yang sangat terkenal dalam dunia kegelapan. Kekuasaannya, kekejamannya, hingga hati yang tidak memiliki belas kasihan itu membuat semua orang ketakutan dan tidak mau berbuat masalah dengannya. Semua sifat itulah yang diturunkan kepada Zavier.
Namun, sikap Clayton mulai berubah ketika tanpa sengaja ia bertemu dengan Alicia, mommynya Zavier. Sejak saat itu, Clayton perlahan meninggalkan dunia gelap tersebut dan belajar untuk mengelola rumah sakit dan kampus yang sebenarnya ia menolak untuk diwariskan itu untuknya. Warisan yang pernah ditolaknya dulu.
Setelah itu, Clayton mulai mengembangkan sebuah perusahaan di New York, 'Turner Corporation'. Sebuah perusahaan yang dapat memproduksi mobil dan cukup terkenal di seluruh dunia.
"Entahlah, Dad. Diriku yang terdorong untuk melindungi perempuan itu. Aku tidak tahu kenapa, hanya saja aku memiliki firasat buruk mengenai ini," ujar Zavier dan menundukkan kepalanya.
"Daddy mengerti. Aku juga pernah mengalaminya dulu. Itu tandanya kau sudah mencintainya," jelas Clayton dan terkekeh kecil.
Zavier memutar bola matanya malas. "Aku tidak percaya itu. Kenapa daddy selalu mengatakan hal itu?"
__ADS_1
"Perkataanku selalu benar. Percayalah, aku pernah mengalaminya saat bersama dengan mommymu. Itu adalah masa-masa yang menyenangkan dan aku sangat merindukan mommymu sekarang."
Sudah tua tapi masih saja romantis," batin Zavier sebal.
"Ya, ya, ya," balas Zavier malas.
Clayton hanya menghela napas, tidak tahu harus berkata apa lagi kepada anaknya yang sungguh keras kepala.
"Sudahlah. Aku pergi dulu. Masih ada urursan yang belum kukerjakan. But by the way, kopinya enak juga," ucap Clayton sembari terkekeh kecil dan mulai beranjak pergi dari tempatnya.
Sementara itu, Zavier hanya termenung pada tempatnya, bahkan dirinya tidak menyadari bahwa Clayton telah pergi dari ruang kerjanya. Matanya terus menatap kosong ke arah cangkir kopi yang diminum oleh ayahnya tadi.
Lalu, seolah teringat sesuatu, ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan dengan cepat mengetik sebuah kalimat di dalamnya.
Kau tidak perlu pergi ke kampus besok. Aku mengizinkanmu untuk beristirahat di rumah agar dapat mengobati luka di kakimu itu💕 See you tomorrow, my baby😉
Send.
Setelah mengirimkan pesan singkat itu kepada seseorang, tanpa sadar Zavier kembali menghela napas frustasi. Kenapa ia menjadi begitu mengkhawatirkan Shella?
__ADS_1
Apa perkataan daddynya itu memang benar?
7 May 2020