
Zavier ******* pelan bibir tipis itu dan menahan kepala Shella agar tidak mundur ke belakang. Ia memejamkan matanya, menikmati ciuman itu, berbeda dengan gadis tersebut yang hanya diam mematung tanpa tahu harus berbuat apa.
Beberapa detik kemudian, Zavier melepaskan ciumannya. Ia tersenyum lega dan menempelkan keningnya ke kening Shella.
Napas mereka sama-sama memburu dan saling menerpa wajah lawannya masing-masing.
"Ka--kau-," ucap Shella, namun ia tidak bisa menyelesaikan perkataannya. Ia menatap ke arah wajah Zavier dengan sedikit syok, larat, syok berat.
"Ya," balas Zavier dan membuka matanya. Ia mengerling nakal, lalu menjauhkan wajahnya.
"Bibirmu, seksi," ucap pria itu dengan frontal.
Shella sontak menutup bibirnya dengan kedua tangan, lalu menatap tajam ke arah Zavier.
Lelaki itu terkekeh pelan, lalu kembali memajukan wajahnya, membuat kepala Shella otomatis termundur ke belakang.
Apa Zavier ingin menciumnya lagi? Oh, ia tidak boleh lengah sesaat.
Tapi, apa yang dipikir oleh Shella tidak terjadi, karena Zavier hanya menempelkan kening mereka kembali.
"I love you," ujar Zavier langsung.
Mata Shella sedikit terbelalak dan menatap ke arah Zavier lama. "Apa?" tanyanya dibalik telapak tangannya sendiri.
Detak jantung Shella tiba-tiba berdegup semakin cepat.
"I love you," ucap Zavier, lagi. Ia kemudian mengecup pelan telapak tangan Shella, membuat perempuan itu memandangnya dengan risih.
"Kau tahu arti dari 'love', kan?" tanya Zavier dengan dahi yang mengkerut karena melihat Shella hanya bergerak tidak nyaman di tempatnya.
"Kau sedang bercanda, kan?" tanya Shella dan sedikit memundurkan kepala Zavier. Namun, pria itu tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya.
Zavier menatap ke arah Shella dengan serius.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa, tapi kurasa aku sudah menyukaimu sejak awal, mengingat betapa cepatnya detak jantungku saat bertemu denganmu. Jujur saja, kau sedikit menarik di hadapanku sebagai seorang wanita," jelas Zavier panjang lebar.
__ADS_1
Yang mendengar hanya memiringkan kepalanya sedikit, belum mempercayai perkataan Zavier sepenuhnya.
"Aku sedang serius, baby. Jangan menatapku begitu," sahut Zavier ketika melihat Shella hanya mengangkat kedua alisnya.
"Oh, ya?" sahut Shella pendek. Dia berusaha untuk tetap jutek, walaupun ia sendiri tidak bisa membodohi tentang perasaan senangnya yang sudah membuncah keluar.
"Begitukah kau membalas ucapanku?" ujar Zavier tidak terima.
"Ya!"
"Oh, ayolah, baby," rengek Zavier dan memberengut tidak terima.
Shella ikut-ikutan memberengut tidak terima. "Jadi, kau ingin aku bereaksi seperti apa?"
"Aku ingin kau seperti ini." Zavier secara tiba-tiba menggengam telapak tangan Shella yang sedang menutup bibirnya sendiri.
"Seperti apa?"
"Seperti--" Zavier membuka paksa kedua telapak tangan itu dan menatap Shella tajam. "Ini."
Tidak seperti yang pertama, Shella yang sadar langsung sedikit memberontak dan berusaha menjauhkan Zavier. Namun, pria itu hanya bergerak sedikit, sebelum menekan bibir Shella dengan sedikit memaksa.
Ia kemudian mengalungkan kedua lengan Shella di belakang lehernya, berusaha membuat perempuan itu untuk sendiri mengalungkan tangan tersebut dan membalas ciumannya.
Entah apa yang dipikirkan oleh Shella, ia tanpa sadar akhirnya mengalungkan tangannya di sekitar leher Zavier. Gadis itu membalas ciuman hangat dari pria tersebut, membuat Zavier langsung menyeringai senang di balik ciuman menggairahkan itu.
Tapi beberapa detik kemudian, seringaian Zavier langsung menghilang dan digantikan dengan jeritan sakit.
"Lepas! Lepas! Aku tidak bisa bernapas," pekik Zavier dan langsung melepaskan ciumannya.
Ia memukul pelan kedua tangan Shella yang tiba-tiba berubah menjadi mencekiknya.
Zavier benar-benar akan dibunuh di dalam mobilnya sendiri.
"Maaf, maaf!" jerit Zavier dan mulai terbatuk-batuk.
__ADS_1
"Just go to hell," umpat Shella dan melepaskan cekikannya itu.
"Really? Aku benar-benar serius dengan perkataanku tadi, baby," rengek Zavier sembari menggerakkan otot-otot lehernya yang tiba-tiba menegang akibat perbuatan Shella tadi.
"Ya, ya, ya," sahut Shella pendek dan mendorong tubuh Zavier yang tiba-tiba semakin mendekat lagi.
"Ayolah. Aku benar-benar menyukaimu," balas Zavier lagi.
"Oh."
Jantung Shella semakin berdegup cepat, membuatnya harus menetralisir perasaannya sendiri. Takut-takut kalau pria itu dapat mendengarnya dengan jelas.
"Yang benar saja... bagaimana bisa aku jatuh cinta kepada wanita sinis sepertimu itu? Geez..."
"Huh?"
"Wanita yang menyukai kekerasan dalam hubungan apapun. Astaga, tidak bisa dipercaya."
"Ya."
Zavier kemudian merengut sebal karena hanya mendapat balasan singkat seperti itu. Ia memalingkan wajahnya dengan kesal, lalu menjalankan mobilnya tanpa berkata apapun lagi.
Benar-benar hari terburuk baginya.
Sementara itu, Shella yang berada di sampingnya hanya menatap keluar jendela. Bohong jika ia tidak gugup. Bahkan jantungnya saat ini menjadi tidak sehat setelah menerima semua aksi dari Zavier.
Dicium dua kali oleh dosennya? Ia tidak pernah terpikir dengan hal itu.
Mengingat ciuman memabukkan itu hanya membuat darahnya semakin berdesir cepat saja. Sebenarnya, Shella tadi sempat terlena dengan pesona Zavier, namun ia langsung tersadar dan mencekik leher pria itu.
Oh, sungguh memalukan.
Pria itu jatuh cinta padanya? Ck, Dasar pembohong....
8 May 2020
__ADS_1