My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 96 - I Am Gonna Kill Him


__ADS_3

Pintu lift di depan mereka terbuka, membuat Zavier maupun Aron langsung melangkah memasuki benda tersebut. Zavier menekan tombol lantai satu pada lift tersebut, sementara Aron malah menekan lantai tiga.


"Kenapa lantai satu?" tanya Aron dan memprotes.


"Kenapa pula kau menekan lantai tiga?" Zavier juga bertanya balik. Ia menyipitkan matanya, bertepatan dengan pintu lift yang tertutup.


"Aku yakin sekali mereka sudah berjaga di lantai satu, pintu lobi dan pintu belakang apartemen ini. Jadi, kurasa kita harus melewati tangga darurat yang berada di lantai tiga," jelas Aron, membuat Zavier langsung menggelengkan kepalanya tidak setuju.


"Sama saja kita tetap akan turun ke lantai satu."


Mendengar itu, Aron mendelik kesal. Ia sebenarnya ingin menonjok muka Zavier, namun tidak bisa, mengingat selangkangannya masih sangat perih hingga saat ini.


This bastard!?


"Kubilang lantai tiga," seru Aron dengan tajam.


"Tidak, lantai satu," bantah Zavier. Ia memicingkan matanya ke arah Aron dengan tajam, membuat pria itu juga ikut menajamkan kedua matanya.


Pintu lift tiba-tiba terbuka, membuat Zavier dan Aron spontan melirik ke arah angka lantai yang tertera.


Lantai 3.


Melihat itu, Aron langsung saja melenggang pergi dari lift, membuat Zavier hanya ternganga lebar di belakangnya.


"Kau mau kemana?" tanya Zavier dengan nada yang dingin.


"Kau tahu betul dimana aku akan pergi," jawab Aron dan semakin mempercepat langkahnya. Sosok pria itu perlahan semakin menjauh dari pandangan mata Zavier, membuat ia hanya menghela napas kesal.


"Kembali ke sini. Jangan sok-sokan pergi ke sana! Hei!" bentak Zavier, namun sepertinya Aron sudah tidak bisa mendengar bentakannya lagi. Hal itu langsung membuat Zavier mengumpat kasar.


Dasar ********, bedebah, brengsek, biadab, motherfucker, umpat Zavier dalam hati. Ia mengepalkan kedua tangannya, dan sepersekian detik setelahnya, pintu lift di depannya tertutup secara otomatis.

__ADS_1


Zavier kembali mengumpat kasar dan menghunuskan tatapan tajamnya ke arah pintu besi itu. "Pintu sialan! Apa aku menyuruhmu untuk menutup terlebih dahulu? Aku benar-benar bersumpah akan menghancurkanmu setelah aku pergi menyelamatkan Shella," umpatnya.


Tanpa ba-bi-bu lagi, ia langsung menahan pintu itu, sebelum tubuhnya bergerak keluar dari kotak berkotak besi tersebut. Jika saja pintu itu bisa berbicara... idiot kau, Zavier.


 


"Aron sialan itu," ujar Zavier dan mengayunkan kakinya dengan segera. Ia menoleh kesana kemari, sebelum dirinya langsung menemukan pintu darurat. Pria itu spontan berjalan ke arah itu.


Zavier membuka pintu tersebut dengan menggunakan salah satu tangannya, hingga ternyata dirinya tidak mengalami kesulitan untuk mencari keberadaan Aron. Disana, kedua mata coklatnya sudah terlebih dahulu bertemu pandang dengan seseorang yang tengah berdiri santai dan menyandarkan tubuhnya ke dinding. Mata milik orang itu terlihat sedang menatap ke arahnya.


"Well, kau akhirnya mengikuti jejakku juga," ujar Aron dengan pandangan yang mengejek. Ia sedikit menjulurkan lidahnya ke arah Zavier, sebelum dirinya dapat merasakan tarikan yang cukup mematikan pada sebelah telinga kanannya.


Apa pria ini gila? Tidak waras? Kenapa pula Zavier harus menjewernya sekarang?


Aron sontak mengaduh sesaat, lalu kembali menatap ke arah Zavier dengan tatapan tidak percayanya.


"Kau benar-benar ******** terbrengsek di dunia, Aron!" pekik Zavier tidak terima, sebelum dirinya melepaskan tarikannya itu ketika melihat telinga Aron sudah sangat memerah akibat aksi nekatnya tadi.


Aron mengelus telinganya. Ia merintih sakit seraya menusuk Zavier dengan tatapan tajamnya yang diketahui telah setajam silet.


Oh my god, padahal tadi ia sudah berbaik hati menunggu Zavier di tangga darurat ini, karena Aron memang sudah tahu jika Zavier akan menyusulnya cepat ataupun lambat. Dan, tapi apa yang ia dapat sekarang? Kekerasan dan pelecehan seksual.


"Kurasa kau benar-benar tidak pernah berkaca, Zavier! Apa benar aku adalah ******** terbrengsek di dunia seperti yang kau maksud tadi? Sepertinya, tidak. Ingat! Kau-lah yang mencebloskan Shella ke dalam masalahmu. Bahkan gadisku saja tidak mengetahui apa-apa," ujar Aron dengan tatapan yang berkilat-kilat.


Oh, ia ingin sekali meremukkan wajah jelek itu!


Zavier tanpa sadar mengernyit heran. Ia menggertakkan giginya dan mengeram, persis seperti anak kucing yang sedang mengamuk di tong sampah. Gadisku? Apa Aron baru saja mengatakan jika Shella adalah gadisnya?


*******!!


Aron kemudian tersenyum miring saat melihat Zavier sudah mengepalkan tangannya dengan geram, sebelum ia langsung menjambak rambut Zavier dan bergerak turun tangga, meski pria tersebut sudah memberontak dan mengumpat kasar.

__ADS_1


"ARON! APA YANG KAU LAKUKAN!" bentak Zavier, membuat Aron semakin memperkuat jambakannya, berusaha membuat pria itu mengikuti langkah kakinya yang akan menuju ke lantai satu.


"Diam dan ikuti saja langkahku!" sahut Aron, mengabaikan ringisan-ringisan sakit dari Zavier.


Sebenarnya, Zavier masih bisa melawan Aron untuk saat ini. Namun, mengingat mereka berdua sedang menuruni tangga ini, ia membatalkan niatnya, takut-takut kalau Aron akan langsung mati di tempat jika ia dengan nekat membantingnya ke atas lantai.


Bukankah dia sudah sangat baik hati?


Ternyata, tak butuh waktu yang lama untuk mereka berdua sampai di lantai satu. Untuk yang pertama-tama, Aron terlebih dahulu melepaskan tangannya dari rambut Zavier, membuat pria itu hanya berdesis sakit seraya mengusap-usap kepalanya penuh rasa kasihan. Untuk yang selanjutnya, Aron sedikit membuka pintu darurat itu, lalu mengamati keadaan sekeliling.


Okay, tidak aman...


Ada beberapa pria bertubuh besar yang menjaga di setiap sudut ruangan, dan itu sudah pasti mereka berdua akan kesulitan untuk keluar dari gedung apartemen ini.


"Zavier," panggil Aron. Ia lalu menoleh ke arah Zavier, sebelum tiba-tiba saja dirinya tersenyum licik dan terlihat penuh arti.


Hingga di detik selanjutnya, Aron langsung membuka pintu darurat itu selebar mungkin, membuat Zavier hanya menatap bingung ke arahnya.


Tapi, sepertinya kebingungan itu tidak bertahan lama ketika dirinya merasakan tarikan yang amat kuat pada kerahnya, sebelum Zavier langsung terlempar keluar dari pintu. Ia terjatuh di lantai, membuat dirinya terbelalak kaget dan menatap ke arah Aron dengan tidak percaya.


"Good luck. Kuharap kau bisa memancing mereka semua," bisik Aron, kemudian dengan cepat menutup pintu darurat tersebut, meninggalkan Zavier beserta dengan para penjaga bertubuh tegap yang sedang berdiri di luar.


And, god!


Perkataan Aron membuat Zavier langsung menyadari sesuatu.


Ternyata Aron baru saja menjadikannya sebagai umpan.


Ia melirik ke arah sekitar, lalu hanya cengesan tidak bersalah ketika semua tatapan dari orang-orang di sekitarnya terlihat telah terarah padanya. Ya, semua gerakan yang mereka kerjakan itu berhenti dan sekarang sudah terfokus ke arah posisinya dengan bingung, apalagi melihat dirinya yang tengah berselonjor di atas lantai.


ARON!!

__ADS_1


__ADS_2