My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 83 - The Secret Room (1)


__ADS_3

Apa dirinya dan Aron akan terus bertengkar di dalam sini? Great!


"Kau hanya membuang-buang waktuku yang sangat berharga, ******** sialan!" seru Zavier dengan tajam.


Aron mengangkat salah satu alisnya ke atas dengan sedikit tertarik. "Dan, ******** satu ini memiliki sesuatu untuk diperlihatkan kepadamu," ujarnya dan tiba-tiba saja terkekeh geli.


Zavier sedikit mengerutkan bibirnya, tidak mengerti hal apa yang sedang ditertawakan oleh Aron. Gila! Pria ini semakin gila.


"Apa yang kau miliki?" tanyanya heran. Ia sedikit memiringkan kepalanya dan menatap serius ke arah Aron.


"Sesuatu. Kau mau lihat?" ujar Aron, sebelum bergerak menaik turunkan kedua alisnya dengan cepat.


"Tidak, terima kasih," tolak Zavier langsung. Ia menggelengkan kepalanya dengan tatapan tajam.


'Sesuatu' yang dikatakan oleh Aron itu pasti adalah sebuah hal yang sangat tidak penting.


Aron bersedekap seraya mencebikkan bibirnya. Ia mendesah panjang. "Kau pasti akan menyesal nanti. Orang itu sedang ingin bertemu denganmu."


Orang?


Zavier mulai mengerutkan dahinya samar, lalu menatap tajam ke arah pria itu. Apa sesuatu yang disebut oleh Aron itu adalah seseorang? Tapi, siapa?


"Tidak, tunggu... bukankah tadi kau mengatakan akan bercerita tentang kejadian tempo waktu itu? Kenapa aku malah bertemu dengan seseorang?" ucap Zavier, sadar bahwa semua ini mulai terdengar sangat tidak masuk akal.


Apa pria ini baru saja membohonginya?


"Sudahlah. Kau lebih baik jangan terlalu ribut dan segera bertemu dengan orang tersebut. Aku yakin kau tidak akan kecewa. Percaya saja padaku," sahut Aron, lalu memutar kedua bola matanya dengan malas.

__ADS_1


"Aku tidak percaya padamu. Pesan yang kau kirim kepadaku tadi adalah perkataan yang dipenuhi dengan kebohongan, kan? Aku tidak yakin ada seseorang yang ingin menculik pria gila sepertimu," jawab Zavier dengan cepat.


Aron spontan mencibir jengkel. What the hell! Apa Zavier sedang berusaha untuk mengajak berantam dengannya?


Oh...


Dia adalah seorang pria tampan, sehingga mungkin saja ada seseorang yang ingin menculiknya. Dan, apa yang Zavier katakan tadi? Pria bodoh?


Zavier yang bodoh! Bahkan gadis cantik saja bisa diculik, apalagi pria seperti dirinya yang sungguh mempesona dan memiliki wajah yang tampan. Ck... Apa Zavier sedang iri dengan ketampanannya?


Tidak bisa dibiarkan.


"Untuk pertama-tama, aku mau bilang jika pria tampan sepertiku bisa diculik kapan saja. Dan, untuk yang kedua, aku mau bilang kalau bukan aku yang menembakmu. Untuk apa aku membahayakan nyawa Shella? Dan, apa kau yakin tidak ingin bertemu dengan orang itu? Dia sedang berada di dalam apartemenku," ujar Aron dengan nada yang datar.


"Aku tidak mungkin mengenal orang yang kau sebutkan itu. Memangnya, siapa dia?"


Tanpa sadar, Zavier sontak melebarkan kedua matanya dengan tidak percaya. Ia melotot tajam ke arah Aron dan mencebik sebal. Apa pria ini sedang mengelak perbuatan jahatnya? Padahal dirinya yakin sekali jika Aron-lah yang menembak mereka berdua.


Tapi...


Zavier kemudian berpikir sejenak, sebelum otaknya tiba-tiba mampu mencerna sesuatu. Ternyata, ada juga bagian perkataan dari Aron yang benar adanya. Tidak mungkin kan, kalau Aron yang menembak Shella karena pria itu tampak sangat mencintai gadis tersebut.


Jadi siapa?


Sebenarnya, ia bahkan masih meragukan perkataan pria itu, karena pada waktu yang sama dengan acara penembakan itu, Aron-lah yang terlebih dahulu mengancam akan menembaknya.


Sial...

__ADS_1


"Dimana dia?" sahut Zavier pada akhirnya. Namun, matanya tetap menatap ke arah Aron dengan tatapan penuh permusuhan.


"Kau tertarik?" Aron malah bertanya balik. Salah satu alisnya semakin terangkat tinggi dan ia tersenyum menggoda, membuat Zavier hanya mengerang panjang melihat kilatan mata kejahilan dari pria tersebut.


Ish... kenapa pria ini bertingkah menggelikan seperti itu? Apa Aron terlalu patah hatinya karena ditolak oleh Shella hingga akhirnya pria itu menyukai Zavier?


Ugh... Zavier akan beneran menjadi orang gila jika hal tersebut benar-benar terjadi.


"Aku hanya ingin melihat apakah kau sedang berbohong atau tidak," jawab Zavier dengan nada yang semakin dingin.


"Hah! Ikuti aku!" seru Aron, sebelum kembali menggelengkan kepalanya. Ia masih tidak percaya dengan segala kelakuan Zavier terhadapnya. Memangnya, apa yang ia perbuat hingga membuat pria ini semakin dingin terhadapnya?


Sialan! Seharusnya ia yang marah kepada Zavier karena telah membawa Shella ke dalam sebuah apartemen.


Aron kemudian beranjak dari sofa, diiringi dengan Zavier yang juga berdiri dari sofanya dan mengikuti pria tersebut dari arah belakang. Mereka terus berjalan hingga memasuki sebuah kamar tidur, yang Zavier yakini adalah kamar milik Aron.


What? Seseorang yang disebut oleh Aron itu berada di dalam kamarnya? Tunggu... hal ini benar-benar tidak beres.


"Dia berada di mana?" tanya Zavier yang mulai bergerak sedikit gelisah di tempatnya. Matanya yang tadinya menyelusuri kamar tidur itu beralih menatap ke arah Aron.


"Dia berada--" Aron menghentikan ucapannya, sebelum tangannya bergerak memegang sesuatu di dinding putihnya yang berada di dekat lemari. Ia seperti meraba-raba sesuatu di dinding dingin itu, lalu menekan sesuatu yang entah Zavier ketahui namanya. Mungkinkah sebuah tombol?


Namun, di detik selanjutnya, Zavier spontan melebarkan matanya saat melihat dinding yang berada di depannya tiba-tiba saja terbuka dengan lebar. Ia terlalu terkejut dengan semua ini.


Ruang rahasia.


"Di sini," tambah Aron dan tersenyum misterius.

__ADS_1


__ADS_2