My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 42 - Her Strong Charm


__ADS_3

07:30 PM


Zavier mengamati Shella yang tertidur pulas di atas sofa panjang. Ia dengan perlahan menjangkau remote yang berada di atas meja dan mematikan TV yang dibukanya tadi. Mata coklatnya terus memandangi gadis yang berpakaian kaos polos itu.


Apa ia harus membiarkannya tertidur disini dan membuatnya mati kedinginan pada keesokan harinya?


Bahkan Zavier sendiri tidak sadar jika ia telah menghabiskan waktu hampir 4 jam di dalam rumah Shella. Waktu terasa menjadi berlalu begitu cepat ketika ia bersama dengan gadis ini.


Ia terus menatap wajah cantik itu, hingga tiba-tiba mulut Shella bergerak dan membuat Zavier berpikir gadis itu telah terbangun tidurnya. Namun, ternyata tidak.


"Jangan, jangan pergi," racau Shella dalam tidurnya. Kedua tangan itu tiba-tiba bergerak dan terus meraih-raih udara kosong di atas, membuat Zavier memindahkan tempat duduknya menjadi lebih dekat kepada gadis tersebut.


"Kumohon."


Setetes air mata mulai merebak keluar dari pelupuk Shella, membuat Zavier langsung terkesiap pada tempatnya sendiri.


Apa dia bermimpi buruk? batin Zavier.


Zavier meraih tangan Shella yang terus bergerak seakan-akan berusaha untuk menggapai sesuatu di atas sana. "Shh.... Tenanglah, aku berada di sini."


"Jangan pergi. Jangan," racau gadis itu dengan nada yang panik.


"Shh... Tidurlah. Aku tidak akan pergi ke mana-mana."

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Shella mulai tenang kembali. Zavier menghela napas lega ketika melihat gadis itu menghentikan rontaan di tangannya. Shella kembali tertidur pulas.


Zavier mengecup pelan kening Shella, lalu membopong tubuh mungilnya dari atas sofa. Ia akan membawa Shella masuk ke dalam kamar. Well, itu lebih baik daripada besok ia akan menjadi tersangka karena telah membiarkan seorang gadis mati kedinginan secara sengaja di rumahnya sendiri.


Pria itu berjalan menuju ke lantai atas dan terus melangkah tanpa tahu-menahu dimana letak kamar Shella berada. Ia terus berjalan melewati beberapa pintu coklat, hingga sampailah pria itu di depan pintu berwarna putih yang memiliki tulisan Shella's room di depannya.


Mungkin itu adalah kamar dari perempuan ini.


Zavier mendorong pintu berkayu itu dengan menggunakan kakinya. Kemudian tanpa malu, ia langsung berjalan masuk ke dalam kamar seorang perempuan. Aroma bunga Lavender yang entah darimana asalnya terasa menyeruak masuk ke dalam alat penciumannya. Aroma yang sangat sama dengan pemilik tubuh mungil ini.


Untuk yang kedua kalinya, ia membaringkan tubuh itu dengan hati-hati ke atas tempat tidur. Zavier berkedip sesaat, lalu menyelimuti Shella hingga ke bahunya.


Entah darimana dorongan itu berasal, Zavier menatap lama ke bibir merah yang tipis itu. Ia terus menatapnya, hingga akhirnya ia mulai mendekatkan wajahnya dan mengecup pelan bibir yang sungguh terlihat menggoda tersebut.


Tidak, ia tidak tahan.


Beberapa detik kemudian, Zavier melepaskan lumatannya. Ia terkekeh kecil ketika melihat perempuan itu masih saja tertidur nyenak. Damn it!


Ia mengatur napasnya yang sedikit tersenggal-senggal karena perbuatannya sendiri tadi. Ditempelkannya keningnya sendiri dan kening Shella hingga bersatu. Tanpa sadar ia tersenyum tipis dan terus memerhatikan bibir menggoda itu.


It's like hell.......


Ia menggeram kecil. Sial, jiwa setannya muncul. Ia harus menghentikan perbuatannya sebelum dirinya berbuat lebih jauh lagi.

__ADS_1


Zavier menjauhkan wajahnya dari Shella dan tersenyum. Entah kenapa, ia puas. Pria itu kemudian mendaratkan sebuah kecupan kecil di kening Shella, sebelum akhirnya sebuah senyuman tulus mengembang di wajah tampannya.


"Good night, my little girl."


****


 Zavier menjatuhkan dirinya di atas sofa, tidak peduli dengan tatapan curiga milik daddynya terus dihujamkan ke arahnya. Bagaimana bisa Clayton tidak curiga jika anak pertamanya ini terus tersenyum kecil seperti orang gila.


"Kenapa kau pergi ke rumah gadis itu? Apa yang kau perbuat hingga terus tersenyum gila sampai sekarang?" tanya Clayton dan menyesap perlahan kopinya.


"Wait a second. Dad, kau mengikutiku sejak tadi pagi? Bagaimana kau bisa tahu apa yang kulakukan tadi?" Raut wajah Zavier yang tadinya penuh dengan kegembiraan langsung berubah menjadi masam dalam sekejap. Ia memberengut kesal ke arah daddynya dan melipat kedua kakinya.


"Tidak mungkin aku mengikutimu. Daddy also has a job," ujar Clayton tetap tenang dan meletakkan cangkir kopi itu di atas meja di hadapannya. Sepasang mata itu terus memandangi Zavier yang berada di seberang meja tersebut. "Aku menyuruh seseorang untuk mengikutimu."


What the hell.... Okay, that's too great.


"Oh my God's sake, daddy. Sebenarnya, apa yang kau takutkan pada anakmu ini?"


"Aku tidak takut apapun. Aku hanya ingin melihat apa yang kau kerjakan selama ini." Clayton terkekeh ketika melihat Zavier kembali memberengut. "Dan ternyata, kau sudah terjerat dengan pesona dari perempuan cantik itu," tambahnya lagi.


"Tid----"


Baru saja Zavier hendak menbantah ucapan daddynya, Sang Ayah kembali melontarkan sebuah kalimat yang membuatnya langsung membelalakan matanya.

__ADS_1


"Jujur saja, daddy sendiri juga telah jatuh ke dalam pesona Shella. Aku menyukainya," ujar Clayton berterus terang.


7 May 2020


__ADS_2