
Dengan tenang, Shella melangkahkan kakinya menuju ke rumah. Namun, tidak bisa dipungkiri jika otaknya terus tertuju pada ciuman yang diberikan oleh pria tadi.
Kenapa dengan pria itu? Gara-gara pria itu, Shella masih dapat merasakan perasaan aneh ini.
Shella kemudian berbelok ke kiri, dan kembali berjalan lurus. Beberapa meter lagi ia akan sampai di depan rumahnya.
Belum sempat gadis itu membuka gerbang rumahnya, suara klakson mobil berbunyi tiga kali, membuat Shella segera menoleh ke arah mobil itu.
Ia mengenalinya. Itu adalah mobil yang sama saat ia diantar oleh Zavier ke kampus. Dan sudah pasti pemiliknya juga merupakan orang yang sama.
Shella memalingkan wajahnya, seolah-olah dirinya tidak mengenali mobil itu. Ia membuka gerbang rumahnya dengan cepat, dan ketika ia hendak masuk ke dalam, sebuah tepukan ringan di pundaknya langsung membuatnya tersentak kaget.
"Jadi ini rumahmu?" gumam Zavier dengan nada yang kecil. Bahkan Shella nyaris tidak mendengar gumaman itu.
"Kenapa kau kesini?"
Shella membuka pintu gerbangnya dan masuk ke dalam. Zavier yang melihat itu juga langsung mengikuti langkah kaki Shella, lantas membuat perempuan itu mengernyit aneh.
"Siapa yang menyuruhmu untuk masuk ke rumahku?" tanya Shella, berusaha menghentikan langkah kaki Zavier yang terus berjalan melewati teras dan menuju ke dalam rumah.
"Memangnya aku tidak boleh ke rumah pacarku sendiri?" tanya Zavier balik sembari mengangkat satu alisnya.
"Memangnya aku mengizinkanmu masuk?" Tidak mau kalah, Shella juga bertanya kembali.
"Aku tidak memerlukan izinmu, karena bukankah kau juga tidur di mansionku? Kurasa kita sudah saling kenal dengan baik. Kau tidak ingat bahwa kita telah tidur di dalam kamar yang sama?"
__ADS_1
"You son of a *****," umpat Shella kasar dengan mukanya yang tiba-tiba berubah menjadi merah padam. "Kau lupa jika kau yang telah membawaku kesana?"
"Jadi, apa aku harus menelantarkan dirimu di jalan begitu saja setelah menyelamatkanmu? Oh, atau kau tidak puas dengan menginap satu malam saja?" tanya Zavier kemudian terkekeh geli.
"Kau benar-benar ******** gila," umpat Shella kembali. "Silahkan keluar sekarang, Mr. Turner. Atau aku yang akan menyeretmu keluar, aku tidak main-main dengan ucapanku."
"Coba saja jika kau berani," tantang Zavier yang membuat gadis itu langsung murka.
Shella berjalan mendekat ke arah pria itu. Ia hendak memberi pelajaran kepada orang ini yang telah berperilaku seenak jidatnya saja.
Tapi, seperti Tuhan masih belum menyetujui apa yang ia perbuat, karena baru saja ia hendak menjambak rambut Zavier, tanpa sengaja dirinya menginjak sebuah batu dan langsung terpeleset. Beruntungnya pria itu menangkapnya dengan sigap, sehingga wajah cantiknya tadi yang hendak mencium tanah tidak terjadi.
Waktu terasa berlalu begitu cepat, sehingga otak Shella menjadi lambat untuk menyadari apa yang telah terjadi pada dirinya.
Dan akibatnya, ia ditolong dengan posisi yang memalukan.
Oh, benar-benar minta dihajar.........
"Apa kau sedang ingin menggodaku, baby? Kurasa kau memang berencana untuk menyeretku keluar dengan cara memperlihatkan adegan terjatuhmu," ujar Zavier sembari menaik-turunkan kedua alisnya.
"Sialan kau, ********. Lepaskan aku dari tanganmu yang kotor itu!" seru Shella.
Zavier hanya menyunggingkan senyuman tipisnya, sebelum akhirnya beralih mengecup leher Shella secepat mungkin dan langsung melepaskan perempuan itu dari kedua tangannya.
BUK.
__ADS_1
"Kau *******! Kau benar-benar sengaja melakukan hal itu! *******!" umpat Shella kembali ketika merasakan wajahnya terkena kotoran tanah. Badannya sontak merasakan rasa sakit yang luar biasa, terutama pada bagian lutut karena ia mendaratkan kedua kakinya terlebih dahulu.
Beruntungnya ia sempat membuat perlindungan wajah dengan menggunakan kedua tangannya. Jika tidak, maka bisa dipastikan muka cantiknya ini akan mendapatkan luka yang parah.
Isakan tangis mulai terdengar keluar, sementara mata biru Shella berkaca-kaca memandang ke arah Zavier. Dan tidak sampai semenit, suara tangisan yang cukup keras mewarnai suasana itu.
Pria itu terkesiap. Rasa bersalah tiba-tiba kembali menyusup ke dirinya dan membuatnya menjadi cemas. Sungguh, padahal ia hanya ingin bercanda dengan perempuan ini. Astaga....
"Hei, hei. Berhentilah menangis," ujar Zavier khawatir. Ia menggoyang-goyangkan pundak Shella yang enggan untuk berdiri. Gadis itu masih dalam posisi tengkurup di tanah, membuatnya susah untuk menolong tubuh mungil tersebut.
"Hei, berdirilah. Aku hanya bercanda," ucap Zavier yang mulai kehabisan akal karena perempuan itu masih terisak-isak.
"Bercandamu sungguh keterlaluan!" jerit Shella dan semakin menangis keras, membuat beberapa orang yang berlalu lalang di depan rumah melirik ke arah mereka.
Zavier menghela napas gusar. Kenapa lagi dia yang disalahkan? Shit.
"Padahal dia yang menyuruhku untuk melepaskan tubuhnya," gumam pria itu yang ternyata masih bisa didengar oleh Shella.
"Jadi kau sebegitu bodohnya untuk mendengarkan perkataanku, hah! Kau benar-benar ingin membuatku terluka!" tuduh Shella semakin keras.
Zavier menggigit bibir bawahnya dan mengumpat kesal dalam hati.
Sebal.
7 May 2020
__ADS_1