My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 63 - Are You Zaviera?


__ADS_3

"I don't know who you are, but I'll warn you not to play with me, or you'll get the worst!" seru Zavier dan kakinya kembali maju satu langkah hingga tersisa jarak yang sedikit di antara mereka.


"Why? Are you scared?" balas orang itu santai dan melipat tangannya di depan dada.


Zavier sedikit mengerutkan dahinya. Suara itu bukan suara bariton pada lelaki umumnya, tetapi suara itu terdengar sedikit jernih layaknya suara perempuan.


Apa memang dia adalah seorang perempuan?


"I've been warning you!" tegas Zavier lagi.


"So, what? I don't care," balas perempuan itu tak kalah dinginnya dengan Zavier.


"You have choose the wrong person, lady," ucap Zavier dan menajamkan matanya.


"Oh, yeah? I don't fucking care about it."


Setelah mengucapkan kalimatnya, wanita itu maju selangkah ke tempat Zavier, lalu mengangkat tangannya dan menepuk pelan dada bidang itu. Tapi tiba-tiba di detik selanjutnya, wanita itu langsung menyerang Zavier dengan sebuah pisau lipat yang di simpan di sakunya.


"Wew, lady. Kau brutal juga," kekeh Zavier yang langsung menghindari serangan tersebut. Ia menahan salah satu lengan wanita itu yang hendak menyerang lehernya dengan sebuah pisau lipat.


Baru saja Zavier hendak kembali berbicara, wanita itu langsung menyerang perutnya dengan menggunakan lututnya, membuat Zavier sontak terjengkang ke belakang. Tapi, ia dengan cepat menarik lengan wanita itu hingga membuat mereka sama-sama terjatuh ke tanah.


Setelah itu, ia dengan gesit menendang pisau lipat yang sedang dipegang oleh wanita itu dan membuat benda tersebut terpelanting jauh dari mereka berdua.


"Aksimu tidak buruk juga," komentar Zavier dan menahan kaki wanita itu yang hendak menendangnya lagi dan berusaha untuk menggapai-gapai pisau lipat tersebut.

__ADS_1


"Oh, ya?" sahutnya datar. Wanita itu tersenyum di balik topengnya, hingga tiba-tiba ia mengangkat tangannya dan menunjukkan tanda pistol dengan menggunakan jari jempol serta jari telunjuknya, lalu mengarahkan tanda itu ke atas udara.


Shit, batin Zavier dan langsung menghindar dari tempatnya.


Suara tembakan kembali terdengar, membuat Zavier beraksi menghindari semua peluru itu.


Tidak menyia-nyiakan waktu, Zavier langsung saja ikut mengeluarkan pistolnya dan mengarahkan ke arah mereka.


Suara pistol yang ditembak dengan gesit terus terdengar. Zavier mengarahkan mulut pistolnya ke arah seorang pria, lalu menekan pelatuknya dengan cepat.


Dor.


Satu tewas karena ditembak tepat pada jantungnya. Lalu, Zavier berputar badan ke arah samping dan menyembunyikan tubuhnya di belakang mobil.


Ia menghela napas kesal, kemudian langsung mengambil granat yang selalu ia bawa di balik punggungnya. Ditariknya tuas benda tersebut, lalu dilemparkannya ke arah keempat musuh yang tersisa itu.


Tidak butuh waktu yang lama, suara ledakan terdengar memekakan telinganya, membuat Zavier sendiri sedikit tiarap di tanah karena terlalu terkejut.


Suara itu cukup keras hingga menimbulkan sedikit kerusuhan di sekitarnya. Dan yang pasti, para polisi yang biasanya berjaga di setiap tikungan jalan pasti akan mendengarnya.


Hening sesaat.


Setelah Zavier tidak mendengar suara apapun lagi, ia melongok keluar, lalu menghela napas lega karena mayat-mayat pria itu telah tergeletak di tanah.


Zavier memicingkan matanya untuk menghitung seluruh tubuh manusia itu, lalu mengernyit aneh ketika menyadari sesuatu.

__ADS_1


Dimana tubuh yang satunya lagi? Kenapa di tanah itu hanya tergeletak empat manusia yang mungkin sudah meninggal di tempat?


Zavier berdiri dari tempatnya dan berjalan ke arah tempat tersebut sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


Bahkan, kendaraan yang para musuhnya bawa tadi langsung terpental ke mana-mana akibat aksinya tadi. Ada sebagian yang telah hancur, ada lagi kendaraan motor yang terbelah menjadi dua dan membuat cairan minyak sedikit berceceran keluar.


Samar-samar, suara sirine polisi terdengar dari kejauhan.


Zavier mengernyit sejenak dan menajamkan pendengarannya. Setelah itu, ia memundurkan langkahnya, lalu dengan cepat membalikkan tubuhnya dan menahan sebuah tangan yang tengah menuju ke punggungnya sembari menggengam sebuah pisau tajam.


"Still alive?" tanya Zavier dan memojokkan wanita itu ke badan mobilnya yang sudah rongsok tak tertolong itu.


"Wow. it's amazing to see you have that deadly thing," ucap wanita itu dingin dan hendak menyerang Zavier lagi.


"Ya, benda yang bisa membunuhmu kapan saja, lady. Jadi, berhati-hatilah sedikit," sahut Zavier dan menangkap pergelangan tangan wanita itu. Ia langsung mengambil pisau lipat tersebut dari genggamannya dan diarahkannya ke ceruk leher sang wanita.


Zavier kemudian sedikit memiringkan kepalanya ketika merasakan wanita itu sudah tidak berniat untuk banyak memberontak lagi.


Dewi fortuna sudah berada di pihaknya.


Langsung saja Zavier membuka topeng yang menutupi wajah wanita itu dengan kesempatan yang tidak mungkin akan di sia-siakan olehnya. Dibukanya kain hitam sialan itu secepat mungkin karena waktu yang dimilikinya kian menipis.


Namun, bukannya senang melihat wajah musuhnya itu, Zavier malah membelalakan matanya terkejut.


Wajah yang sudah lama tidak dilihatnya sejak 13 tahun lalu, kembali muncul di depannya begitu saja. Sesaat, Zavier berusaha menolak penampilan tersebut, tapi tidak terjadi karena rasa rindu langsung menyeruak begitu saja di dalam benaknya.

__ADS_1


"Zaviera?"


__ADS_2