My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 55 - Got A Phone From Someone


__ADS_3

12:50 PM


Clayton memeluk Zavier dengan lama. Sementara itu, Christian yang sedang berdiri di sebelah mereka berdua hanya mendengus kesal.


"Dad, sudahlah. Aku yakin Zavier bisa mengatasi masalah di bisnisnya. Lagipula itu hanya kecelakaan mobil biasa dan tidak menyebabkannya langsung terbujur kaku di tempat," ucap Christian dengan mudahnya.


Clayton sontak menoleh dan menatap tajam ke arah Christian, sementara Zavier hanya memutar kedua bola matanya.


Setelahnya, Christian akhirnya mengedikkan bahunya tidak peduli. "My bad."


Tiba-tiba, suara pengumuman yang menyatakan bahwa pesawat dengan tujuan ke New York terdengar, membuat Zavier harus melepaskan pelukan daddynya dengan terpaksa.


"Katakan pada William jika aku sangat menyukai anaknya, sehingga aku pasti akan siap kapan pun untuk menerima Shella menjadi menantuku," ujar Clayton dan terkekeh kecil.


Zavier tersenyum tipis. "Okay, okay."


Ia memang sudah menjelaskan semuanya kepada Clayton. Tentang kecelakaan itu, tentang daddynya Shella, dan tentang bagaimana orang misterius yang ingin membakar pabriknya beberapa hari yang lalu.


"Kuharap kau bisa menyelesaikan masalah itu secepat mungkin," ucap Clayton lagi.


"No problem, daddy. Itu hanya salah satu masalah kecil jika dibandingkan dengan sekian banyaknya masalah bagiku."


***


Shella menggigit bibir bawahnya. Ia menatap lama ke arah ponselnya yang terus berbunyi, menandai bahwa ada telepon yang masuk.


Nama 'Aron' tertera di dalam sana.


Sejak lima belas menit yang lalu, pria itu terus meneleponnya tanpa henti, walau ia sudah beberapa kali menolak untuk menjawab.


Shella menghembuskan napasnya perlahan, lalu akhirnya ia menggeser paksa ikon berwarna hijau itu. Lagipula, kenapa ia harus takut hanya karena melihat nama yang tertera itu?


"Halo," sahut sebuah suara bariton dari sebelah sana.

__ADS_1


"Umm... hallo," ujar Shella dengan tenang, walau tidak bisa dipungkiri jika jantungnya saat ini sedang berdetak dengan cepat.


Ia hanya gugup.


"Temui aku di taman yang dulu kita sering kunjungi. Tidak apa-apa jika kamu tidak datang. Tapi, aku berharap kamu masih mau bertemu dengan aku karena aku sama sekali tidak menyadari kesalahan apa yang telah kuperbuat."


Belum sempat Shella mencerna setiap suku kata itu, suara telepon yang dimatikan dari seberang sana membuatnya langsung mengernyitkan dahi samar.


Ia terus menempelkan ponselnya di sebelah telinga, walau ia sudah tahu bahwa telepon itu sudah putus beberapa detik yang lalu. Shella terus mengapit benda itu di antara telinga dan bahu kanannya, sementara matanya menatap kosong ke arah novel yang berada di pangkuannya.


Apa pria itu baru saja memerintahnya?


Shella mencebik, lalu menjauhkan ponselnya dan melemparkan benda itu ke atas nakas. Ia menutup novelnya, lalu meletakkan buku itu kembali ke dalam lemari.


Kenapa dengan Aron?


Pertanyaan itu terus bermunculan dan memenuhi benaknya. Ia menjadi penasaran setelah mendengar kalimat Aron tadi. Terdengar sangat dingin dan datar, sangat berbeda dari sosok yang biasanya ia kenal.


Tapi, tunggu...


Karena kalimat 'tidak apa-apa' itu, Shella menjadi penasaran setengah mati saat ini.


Oh, god.


Pergi, tidak, pergi, tidak?


Shella mengacak-acak rambutnya dengan frustasi, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.


Ia memejamkan matanya sejenak.


Apa mungkin sebaiknya ia pergi ke taman itu untuk menemui Aron? Hmm... untuk yang terakhir kalinya?


Setelah berpikir sesaat, Shella akhirnya memutuskan untuk pergi ke taman itu sekarang.

__ADS_1


Tak lupa juga ia mengambil tas selempangnya, memasukkan benda berpipihnya, dan dompet yang mungkin akan ia butuhkan sewaktu-waktu.


Setelah selesai, Shella kemudian keluar dari kamarnya dan menuju ke lantai bawah.


"Dad, aku akan pergi keluar sebentar untuk menemui teman lamaku," ucap Shella kepada ayahnya yang sedang duduk diatas sofa.


William hanya mengangguk singkat. "Baiklah," sahutnya di balik sofa itu.


Shella membuka pintu gerbangnya dan menutupnya kembali. Namun, ia langsung menoleh ke samping kiri ketika menyadari ada seseorang yang sedang mengawasi gerak-geriknya dari jauh.


Kernyitan di dahinya terbentuk samar ketika melihat sosok hitam itu dengan cepat menghilang setelah menyadari Shella sedang melihatnya.


Ia kemudian mengedikkan bahu dan memutuskan untuk tidak peduli dengan sosok tersebut.


Dasar orang gila.


Beberapa menit kemudian, Shella akhirnya sampai di tempat tujuan. Ia celingak-celinguk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tanpa sadar, ia meremas tali tas selempangnya, lalu berjalan menyelusuri jalan setapak di taman itu.


"Hai, Shella," ucap sebuah suara bariton yang membuat Shella langsung menoleh ke asal suara.


Di sana, di tempat duduk yang selalu ia duduki bersama Aron, tengah diduduki oleh seorang lelaki yang nyaris tidak bisa dikenalnya lagi.


Pria itu tersenyum datar ke arahnya.


Shella sedikit bergidik ngeri seraya berjalan perlahan ke arah Aron. "Hai," sahutnya sedikit ragu.


Mata kantung pria itu terlihat menghitam seperti zombie, apalagi bulu-bulu halus yang tidak terawat dan mulai tumbuh di sekitar rahangnya membuat Aron tampak semakin mengerikan.


"Hi too. Sudah lama aku tidak bertemu denganmu. Kupikir kamu tidak akan sudi untuk datang ke sini lagi."


7 May 2020

__ADS_1


__ADS_2