
Zavier mengangkat salah satu alisnya ke atas. "Lebih tepatnya, seorang hacker yang sungguh kepo terhadap urusan pribadi orang lain."
Aron melirik malas ke arah Zavier dengan singkat, sebelum menjalankan mobilnya dan pergi dari tempat itu.
"Kau mau kemana?" tanya Zavier.
"Aku mau menuju ke suatu tempat, kau akan melihatnya nanti."
Setelah itu, hening sesaat.
Kedua orang tersebut tidak berniat untuk membuka pembicaraan, hingga tiba-tiba Zavier teringat dengan sesuatu dan langsung membelah keheningan yang cukup lama itu.
Ia berdeham sejenak. "Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu. Kenapa kau begitu baik kepadaku?"
Aron melirik sebentar, kemudian kembali memfokuskan pandangannya ke arah jalan. "Karena ayahmu-lah yang akan selalu membantuku saat aku sedang mengalami masalah, sehingga tak mungkin aku akan membalasnya dengan cara berbuat jahat kepada anaknya, kan?"
Mendengar itu, Zavier hanya sedikit ber-oh-ria.
Aron membelokkan mobilnya ke arah kiri. "Jadi begini, aku menemukan sesuatu yang tidak beres di dalam rekaman CCTV waktu itu. Ada seorang lelaki yang berpakaian jas hitam layaknya seorang pengusaha menarik perhatianku. Memang menurut para polisi jika tidak ada yang tampak mencurigakan di dalam rekaman itu, tapi melalui sudut pandangku, dia terlihat sedikit mencurigakan dari gerak-geriknya."
"Misalnya?"
"Aku tidak bisa menjelaskannya. Kau sendiri saja yang mengeceknya," ujar Aron dengan yakin. "Kurasa kau akan curiga dengan orang itu juga."
Mendengar ucapan Aron yang sangat yakin itu membuat Zavier sontak memejamkan kedua matanya sejenak. Lalu tak lama kemudian, ia kembali membuka matanya secara perlahan.
Zaviera, apa itu memang kau? batin Zavier yang mulai sedikit frustasi.
__ADS_1
Well, Zaviera merupakan kembaran dari Zavier. Ia adalah adik dari pria itu dan umur mereka hanya berbeda selama satu menit. Dulu, Zaviera memiliki wajah yang imut, lucu, dan cantik, nyaris sama seperti wajah Zavier yang memiliki wajah tampan, namun imut dan lucu juga.
Zaviera, bagaimana orang-orang tidak bisa menyukainya? Tentu saja perempuan itu memiliki daya tarik sendiri, begitupun dengan Zavier. Mereka juga merupakan kembaran yang tidak pernah akur dalam hal apapun.
Keluar dari semua itu, Zavier masih ingat hari tersebut, dimana hari adiknya menghilang tanpa diketahui penyebabnya.
Dia benar-benar menyesal karena telah lalai dalam menjaga adiknya.
Saat itu, Zavier bersama dengan Zaviera pergi ke taman yang berada dekat dengan rumah Shella. Mereka bermain di taman sana, hingga tiba-tiba, entah mainan apa yang sedang mereka rebutkan, Zaviera dan Zavier berkelahi hebat.
Zavier memarahi Zaviera, membuat perempuan itu juga ikut memarahinya. Dan setelahnya, tanpa berpikir panjang, Zaviera langsung pergi meninggalkan Zavier sendirian. Saat itu, pria tersebut juga tidak terlalu peduli dengan adiknya, sehingga ia memutuskan untuk segera kembali ke mansion.
Toh, Zaviera juga pasti mengetahui jalan pulangnya, pikirnya saat itu.
Namun sial, sampai malam pun adik kembarannya itu tidak pulang-pulang, membuat Zavier dan kedua orang tuanya menjadi khawatir setengah mati.
Dan di saat itulah, Zavier akhirnya kehilangan kembarannya, bahkan sampai sekarang pun ia masih menyesal telah meninggalkan Zaviera. Keluarganya sudah menganggap kembaran Zavier telah meninggal, walaupun tubuhnya masih belum ditemukan hingga sekarang.
Kuharap itu adalah kau, Zaviera, karena wajah wanita itu terlihat nyaris mirip dengan wajahmu yang dulu, batin Zavier.
"Kita sudah sampai," ujar Aron secara tiba-tiba, membuat lamunan Zavier langsung buyar seketika.
Cepat juga.
Pria itu melemparkan pandangannya ke sekeliling lingkungan, lalu mengikuti Aron yang sudah keluar dari mobil terlebih dahulu.
"Kenapa kita di sini?" tanya Zavier dan memperhatikan sebuah gedung berlantai tinggi yang sedang berdiri dengan gagahnya.
__ADS_1
"Ke apartemenku," sahut Aron, lalu berjalan melewati Zavier yang hanya tertegun di tempat.
"Kau tinggal di apartemen?"
Mereka memasuki lobi dan terus berjalan hingga sampai di depan lift. "Ya, ayahmu yang memberikanku apartemen ini."
Lift terbuka, membuat Zavier dan Aron sama-sama memasuki benda berkotak itu. "Wow, ternyata ayahku baik sekali."
"Well, begitulah. Aku juga heran kenapa Mr. Clayton bisa memiliki anak laki-laki yang sungguh ******** dan ***** ini, padahal ayahnya sangat belas kasih dan baik hati kepada setiap orang," gerutu Aron dan menekan angka 20 pada tombol lift.
"Sepertinya kau belum mengenal dirinya yang dulu, atau lebih tepatnya, sebelum dia bertemu dengan Ibuku. Kelakuannya itu juga sama sepertiku," sahut Zavier santai.
"Sepertinya, sikapnya tidak berbeda jauh dengan sikapnya yang sekarang. Asal kau tahu, Turner, aku kadang-kadang sangat membenci kelakuanmu terhadap Shella."
Zavier melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menoleh ke arah Aron. Tiba-tiba, lift berdenting dan pintu terbuka, membuat kedua pria itu langsung berjalan keluar.
"Memangnya aku berbuat apa?" tanya Zavier dan terus mengikuti langkah Aron yang sedang berjalan di lorong sepi.
"Kau baru saja menciumnya tiga kali untuk hari ini, Turner. Dan itu dilakukan di dalam mobilmu!" pekik Aron tidak senang.
Lalu, langkah mereka berhenti di depan pintu yang diketahui Zavier adalah apartemen milik Aron.
"Lagipula, Shella-ku tidak keberatan dengan apa yang kuperbuat itu," sahut Zavier mudah.
Setelah mengetik kode passwordnya, Aron langsung masuk ke dalam apartemennya, diiringi dengan Zavier yang ikut-ikutan masuk ke dalam.
Aron menggeram tidak suka. Apalagi ketika mendengar kata 'Shella-ku' yang diucapkan oleh Zavier dan tingkah lakunya yang tampak sangat tidak peduli itu, Aron dibuat kesal sekarang.
__ADS_1
"Shella hanya terkejut, bukan menerima ciumanmu. Kau yang menciumnya dengan memaksa," geram Aron dan menekan setiap nada kata-katanya.