
"Akan kuberitahu sekarang. Aku sebenarnya adalah--" Ucapan Zavier langsung terpotong ketika suara bel rumah tiba-tiba saja berbunyi nyaring. Ia mengumpat kesal dan menatap Shella dengan alis yang diangkat. "Siapa?"
Gadis itu hanya mengedikkan bahunya tidak peduli dan menyimpan kembali peralatan obat-obatannya. Setelah itu, ia mulai beranjak dari tempatnya sembari menatap tajam ke arah pria itu. Sedangkan, Zavier hanya terkekeh kecil.
Shella melangkah cepat, meninggalkan pria itu dengan hati yang masih panas. Ia membuka pintu rumahnya dan bertanya. "Siapa?"
Namun, mata biru itu tiba-tiba menyipit kala melihat sosok yang tidak asing baginya. Pria paruh baya dengan rambut yang hampir memutih, namun masih terlihat sehat dan tegap pada usianya. Tunggu dulu, jangan bilang.......
"Daddy?" tanya Shella dan langsung syok di tempat.
---------------------------
Karena terlalu syoknya, Shella hanya terdiam di tempat dan terus menatap lurus ke depan. Ia menatap tidak percaya ke arah sosok pria yang sekarang tengah menyunggingkan senyuman tipisnya. Pria itu tampak menenteng sebuah koper dan masih setia menunggunya untuk segera membuka pintu.
"Shella, apa kau tidak berniat untuk membukakan pintu kepada daddymu ini?" tanya sosok itu yang membuat Shella sontak mengerjapkan matanya.
"Ah, iya. Sebentar," ujar Shella terkaget dan bergegas berlari ke depan. "Kenapa daddy datang ke sini tanpa memberitahuku terlebih dahulu?"
William, ayah Shella, semakin melebarkan senyumannya. "Aku hanya ingin mengejutkanmu. Surprise!" ujar pria paruh baya itu yang membuat Shella langsung terkekeh geli.
__ADS_1
"Masuklah, Dad," ucap Shella setelah membuka pintu gerbangnya. Ia kemudian mempersilahkan ayahnya masuk sembari tersenyum senang. Setelah pria itu masuk, Shella kembali menutup pintu gerbangnya.
"Mungkin daddy bisa menaruh koper itu terlebih dahulu di ruang tamu atau--" Shella menghentikan ucapannya ketika menyadari sesuatu. Ia tiba-tiba tergagap di tempatnya dan berusaha untuk menyusul langkah kakinya ayahnya. Namun usahanya telat, karena pria itu sudah masuk ke dalam rumah.
Ia baru ingat jika Zavier masih berada di dalam rumahnya. Sial, daddynya pasti sudah berprasangka macam-macam terhadapnya.
"Dad. Tunggu aku!" ujar Shella tergesa-gesa dan langsung bergegas mengikuti ayahnya. Perempuan itu ikut masuk ke dalam rumah, kemudian mendapati bahwa ayahnya sedang terpaku di tempat sembari menatap ke arah Zavier. Sementara itu, Zavier juga melihat ke arah William dan tercengang.
Matilah dia.
"Siapa dia, Shella?" tanya William dan mengerutkan dahinya. Ia bergerak menaruh kopernya di atas lantai begitu saja dan langsung duduk di atas sofa yang berhadapan dengan Zavier.
Shella tanpa sadar menahan napasnya ketika melihat ayahnya memandangi wajah Zavier dengan lama. Lalu setelahnya, sepasang mata itu beralih melihat pada obat-obatan dan wadah air yang ditaruh di atas meja.
"Ya," ujar William dan masih dengan dahi yang berkerut. Ia menatap dalam wajah pria di hadapannya, membuat Zavier menjadi tegang pada tempat duduknya.
"Dad, I can explain this. He just--" Ucapan Shella berhenti kala melihat ayahnya mengangkat tangan, pertanda bahwa saat ini ia sedang tidak ingin mendengar penjelasan apapun. Shella hanya mendesah berat dan bergerak duduk di samping daddynya dengan ragu-ragu.
"Kau Zavier?" tanya William sekali lagi yang membuat Zavier menganggukkan kepalanya dengan cepat. Shella yang melihat reaksi lucu itu tanpa sadar langsung terkekeh kecil dalam hati.
__ADS_1
"Zavier. Siapa ya? Aku seperti pernah mendengar nama itu," ujar William, seakan-akan sedang berusaha untuk mengingat memori yang telah terkubur di dalam otaknya.
Shella dan Zavier secara bersamaan menoleh ke arah William, lalu mengernyitkan dahi mereka masing-masing.
"Apa kau merupakan anak dari Clayton?" tanya William sekali lagi.
Zavier menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, tapi bagaimana Anda bisa mengenal ayahku, ya?" tanyanya dengan sopan.
"Astaga, kau sudah sebesar ini? Tidak bisa dipercaya. Dulu, saat aku bertemu denganmu, kau hanya berumur 2 tahun. Kurasa kau sudah tidak mengingat diriku lagi," ujar William tiba-tiba. Ia melotot tidak percaya dan menatap Zavier dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.
"Umm... daddy mengenalnya?" tanya Shella dan terus menatap ke arah ayahnya. Ia masih tidak mengerti.
"Ya. Dia adalah anak dari teman daddy. Aku tidak tahu bahwa Zavier akan tumbuh hingga menjadi sebesar ini dan setampan ini," tukas William dan menepuk bahu Zavier beberapa kali.
Zavier hanya tersenyum bodoh, sementara otaknya berusaha memutar untuk mencari wajah daddy Shella yang terasa sangat asing baginya. Seingatnya, ia tidak pernah melihat wajah dari pria baruh baya itu. Mungkin sebaiknya Zavier akan menanyakan hal tersebut kepada ayahnya sendiri nanti.
"Daddy ada pertanyaan untuk kalian berdua," ucap William yang tiba-tiba merubah raut mukanya menjadi serius.
"Zavier, apa kau mengenal anakku? Jika iya, bagaimana kau bisa mengenalnya, dan jika tidak, kenapa kau bisa berada di dalam rumah ini?" tanya William tanpa jeda dan mengambil napas, membuat Shella dan Zavier secara bersamaan menegang di tempat.
__ADS_1
Shella menatap ke arah Zavier, sementara pria itu juga menatap ke arah Shella. Mereka saling menatap dengan otak yang terasa buntu untuk menjelaskannya.
7 May 2020