My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 98 - Trying To Escape


__ADS_3

"Kau jangan berusaha untuk kabur, atau wajah cantikmu yang akan menerima akibatnya," tambahnya lagi seraya melirik ke arah Shella dengan tatapan peringatan.


Mendengar itu hanya membuat Shella bergidik ngeri di tempat duduknya.


Hell!!


Really?!


"Dan, oh ya, apa kau benar-benar tidak tahu siapa itu Zavier?" tanya Lina, sementara matanya berbinar menatap ke arah Shella. Namun, setelahnya, dahinya berkerut saat melihat mata Shella yang hanya menerawang kosong ke depan.


"Apa kau mau aku membuka lakbanmu?" tanyanya dengan hati-hati, dan ternyata itu berhasil membuat Shella kembali melirik ke arahnya.


Ia menatap dalam ke arah mata coklat itu, hingga entah kenapa, Shella langsung terpikir dengan Zavier. Ada sebuah pertanyaan yang menyusup ke dalam benaknya.


Mata itu, bukankah mata milik Zavier?


"Lina!" panggil pria yang berada di sebelah gadis itu, membuat Lina memutuskan pandangannya dari arah Shella dan menatap ke arah pria tersebut.


Tampak pria itu melihat ke arah Lina dengan tatapan memperingatkan, membuat gadis itu hanya berdecak sebal dan melepaskan rangkulannya. "Jangan melarangku, Andrew."

__ADS_1


Shella terus menatap ke arah mereka berdua dan ia sendiri dapat menyimpulkan bahwa nama pria itu adalah Andrew.


Setelahnya, Shella dapat melihat Andrew mencondongkan tubuhnya ke arah Lina, membuat gadis itu hanya terbelalak kaget dan tergagap. Pria itu seperti berbisik sesuatu di telinga kanan Lina, sebelum menatap ke arah Shella dengan serius.


Wow, pasangan yang aneh tapi cukup romantis.


Tapi, Shella tetap tidak mengalihkan pandangannya. Ia terus menatap ke arah mereka berdua tanpa ragu-ragu. Sebenarnya, mulutnya sudah terasa sangat gatal, apalagi kaki dan tangannya yang menjadi sakit karena ia sudah cukup banyak bergerak di tempatnya.


Shella dapat melihat jika Lina sedang menatap tajam ke arah Andrew, lalu gadis itu memukul pelan tangan kekar milik pria tersebut. Andrew tampak hanya terkekeh, sebelum ia menangkup seluruh wajah Lina dan mendaratkan bibirnya ke bibir Lina.


Tentu saja Shella terbelalak lebar, apalagi melihat Lina yang hanya oke-oke saja dan membalas ******* Andrew. Mereka terus mencumbu, mendesah, dan saling memejamkan matanya, seakan-akan melupakan Shella yang sedang terikat disini beserta dengan para penjaga yang lain.


Shella memalingkan wajahnya menahan malu, hingga akhirnya ia memilih untuk menatap ke arah para pria bertubuh kekar yang sedang berjaga di sudut ruangan. Raut wajah mereka tampak tenang-tenang saja, menandakan bahwa hal ini hanyalah hal biasa yang mungkin sudah terjadi setiap harinya.


Oh, God. Please help me out of this place.


Lalu, seakan-akan Tuhan sedang mendengarkan permintaaannya, ia tiba-tiba saja teringat dengan sesuatu. Ia memiliki sebuah peniti di dalam saku celananya. Dan, Shella bisa menggunakan benda itu sebagai bentuk pertolongannya dalam melepaskan diri dari borgol.


Oh, yeah!!

__ADS_1


Shella meraih saku celana di sebelah kirinya dengan susah payah, mengingat kedua tangannya yang sedang diborgol ke belakang. Tapi, ia tetap berusaha, hingga akhirnya usahanya membuahkan berhasil.


Gotcha... ternyata ia tidak butuh waktu yang lama untuk mengambil benda kecil ini.


Dan, ia juga sedang beruntung karena pasangan aneh yang berada di sampingnya sedang memiliki dunia sendiri, sehingga mereka tidak mungkin akan menyadari gerakan mencurigakannya tadi. Yah, tidak bisa dipungkiri jika Shella juga sempat cemas dengan gerakannya, mengingat ada beberapa penjaga yang berjaga di dalam ruangan ini. Namun, ternyata itu tidak mustahil, karena ia sama sekali tidak ketahuan.


Yash...


Shella kemudian menggenggam erat penitinya, seolah-olah benda itu hanyalah satu-satunya benda yang dapat menolongnya dari keadaan seperti ini.


"Ah, maaf Shella. Aku tidak bermaksud untuk mengacuhkanmu." Tiba-tiba saja, suara yang dipenuhi oleh rasa sesal itu berujar, membuat Shella menolehkan kepalanya dengan sedikit ragu ke arah samping.


Di detik selanjutnya, ia langsung menghela napas lega tanpa sadar ketika melihat pasangan itu sudah selesai melakukan pekerjaan mereka. Sungguh melegakan.


Pria yang berada di samping Lina hanya memutar bola matanya dengan malas, sebelum matanya beralih menatap ke arah Shella seraya tersenyum miring. Bibir Andrew kemudian bergerak tanpa suara, membuat Shella hanya menatapnya tanpa berkedip sama sekali.


Entah kenapa, Shella merasa ada firasat buruk yang mulai menggentayangi dirinya, hingga tiba-tiba saja, ia langsung membelalakan matanya dan tergagap di tempat. Bagaimana bisa? Holly crap!!


'Berencana untuk kabur, girl?' Begitulah kalimat yang dilontarkan oleh Andrew.

__ADS_1


__ADS_2