My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 82 - He Is Very Annoying


__ADS_3

Zavier menatap tajam ke arah pintu yang sudah pernah ia lihat kemarin, sebelum tangannya yang terkepal erat mengetuk benda itu beberapa kali. Ia menghembuskan napas kasar, berharap bahwa ini adalah pilihan terbaiknya.


Dan, tak butuh waktu yang lama baginya, Zavier dengan wajah seriusnya menatap ke arah orang yang baru saja membuka pintu untuknya.


"Hei, aku tidak menyangka kau akan datang," sapa orang itu, namun sama sekali tidak terdengar ramah di telinga Zavier. Pria itu malah merasakan kepalanya mulai bermunculan asap dan api yang menguap-uap.


"Hei, kuharap kau tidak akan mengecewakan waktu berhargaku ini. Setidaknya kau harus memiliki berita yang penting," sahut Zavier, sebelum dirinya melenggang begitu saja ke dalam apartemen milik Aron.


"Tidak, aku tidak mungkin akan mengecewakan hatimu," sahut Aron seraya menutup pintu apartemennya.


Zavier menatap ke sekitar apartemen. Ia masih ingat dengan suara bedebum dari seberang telepon tadi, seperti ada sesuatu yang terjadi di apartemen Aron.


Hmm... keadaan barang-barang di dalamnya nyaris sama seperti saat ia berkunjung ke sini. Tampak barang-barangnya yang disusun rapi, terkecuali dengan ruangan tamu yang sudah terlihat sangat berantakan, seakan-akan pria itu baru saja selesai berperang hebat di dalamnya.


Okay, Zavier semakin yakin jika telah terjadi sesuatu di dalam apartemen ini!


Bahkan saat ia semakin berjalan ke dalam ruangan tamu, dirinya baru sadar jika ada beberapa pisau tajam yang tergeletak begitu saja di atas lantai. Ini mulai terlihat mengerikan.


"Apa yang terjadi?" tanya Zavier seraya duduk di atas sofa yang bentuknya sudah terlihat berbeda dari yang pertama kali. Beberapa bekas tusukan pisau terlihat samar di benda tersebut, disertai dengan sedikit ceceran darah yang menempel dan semakin memperburuk keadaannya.


"Kau tidak bisa menebaknya?" tanya Aron yang saat ini sedang berjalan menuju ke ruangan tamu dan duduk di atas sofa. Tampak pria itu sedikit meringis perih ketika dia duduk di atas sofa.


Oh, ya... Zavier baru menyadari jika bukan hanya apartemen ini yang berantakan, namun disertai dengan pemiliknya juga.

__ADS_1


Wajah Aron tampak sangat kusam dan seperti sudah tidak terawat selama beberapa hari. Rambut dan kemeja putihnya yang sudah dinodai oleh cairan merah terlihat sangat berantakan. Apalagi ada bekas luka yang terpampang sangat jelas di beberapa bagian tubuh pria tersebut, ada yang di leher, wajah, tangan, bahkan di kedua kakinya.


Ternyata, bukan hanya apartemennya saja yang berbeda, bahkan Aron sudah turut berbeda untuk hari ini.


"Kau berperang dengan kucing?" tanya Zavier spontan, membuat Aron langsung memutar bola matanya dengan malas. Pria itu melipat kakinya dan bola matanya terlihat bergerak melihat ke arah Zavier.


"Kucing? Are you kidding me?" jawab Aron seraya mendengus sebal.


Zavier menggelengkan kepalanya pelan, lalu kembali melihat pria itu dari atas kepala hingga ke ujung kaki. Ia bergidik horror sendiri.


Pria ini terlihat seperti baru saja berperang hebat dengan beberapa kucing liar.


Dan, dari keadaan yang ia lihat sendiri, Zavier dapat menyimpulkan bahwa Aron memang baru saja berperang dengan kucing.


Lalu, setelah beberapa saat, akhirnya para hewan itu ingin keluar dari apartemen pria tersebut, tapi ternyata diketahui oleh pria yang bernama Aron ini.


Okay, untuk yang terakhir. Zavier tahu bahwa kucing tersebut berperang dengan menggunakan cakaran tajamnya, sementara Aron yang tidak memiliki apapun hanya mengambil pisau tajam dari dapurnya. Mereka pasti berperang di atas sofa ruangan tamu ini. Lihat saja keadaan sofa ini, begitu mengerikan karena sudah terobek menyedihkan di beberapa bagian.


"Ya, menurut surveiku sejauh ini, aku menyimpulkan hal tersebut," sahut Zavier tanpa merasa bersalah.


No problem... It is a nice story, Zavier!


"Kucing?" sahut Aron untuk yang kedua kalinya, sebelum menggelengkan kepalanya penuh rasa kasihan. Ia sedikit merasa kasihan dengan kebodohan Zavier.

__ADS_1


"Kurasa otakmu terlalu dangkal, Zavier. Kau terlalu bodoh untuk seorang tuan mafia yang terkenal kekejamannya," tambah Aron lagi, dan ternyata perkataan itu berhasil menyulut emosi Zavier hingga ke ubun-ubun.


"Langsung ke intinya saja," sahut Zavier yang mulai sedikit geram.


"Aku takut otak bodohmu tidak dapat mencerna perkataanku dengan baik nanti," ucap Aron lagi, seakan-akan dirinya masih belum puas untuk mengejek Zavier.


Yah, padahal sebetulnya, ia memang masih ingin mengerjai pria bodoh ini.


"Diamlah," seru Zavier dengan mata yang mulai berkilat galak. Ia kemudian mendesis jengkel.


Aron mengangkat salah satu alisnya ke atas, sebelum dirinya menatap ke sekitar kaca apartemen miliknya. Ia sedikit memicingkan matanya untuk melihat pemandangan di luar, kemudian menggelengkan kelapanya tanda tidak percaya setelah menyadari sesuatu. Ia berdeham sesaat.


"Kau menyuruh bodyguardmu untuk menjaga dirimu dari sebelah gedung? Wah, kau takut denganku?" tanya Aron dan terkekeh pelan, membuat Zavier langsung mengumpat kecil dan menatap tajam ke arah pria tersebut.


"Aku hanya berjaga-jaga untuk hal buruk yang mungkin saja tiba-tiba bisa terjadi. Lagipula, senang kau bisa menyadari hal tersebut."


"Tentu saja. Aku tidak sepertimu yang sangat ***** dan bodoh," jawab Aron langsung.


"Ya, ya, ya. Apa kau iri dengan kebodohanku? Ck, kau terlalu pandai," balas Zavier juga, tidak menyadari bahwa Aron sudah tersenyum senang dalam hati.


"Tidak. Untuk apa aku cemburu dengan kebodohanmu? Itu adalah hal yang sangat tidak bermutu untukku," sahut Aron dan menggelengkan kepalanya.


Mendengar itu, Zavier hanya menghela napas jengkel.

__ADS_1


Apa dirinya dan Aron akan terus bertengkar di dalam sini? Great!


__ADS_2