
"Bagaimana bisa?" tanya Shella tertegun. Mata birunya tampak berkedip-kedip selama beberapa kali, menatap wanita paruh baya yang berada di depannya dengan tatapan terkejut.
"Saya tidak tahu Mrs. Taylor. Semua biaya Anda sudah dibayar dan ditanggung oleh seseorang," ujar wanita resepsionis itu dengan yakin. "Ruangan Anda berada di 702, kan? Saya sudah tidak salah mengecek."
Shella menatap wanita itu dengan ragu, namun pada akhirnya ia juga melangkah pergi. "Ah, baiklah. Kalau begitu, terima kasih. Aku pergi dulu."
Dengan perasaan yang masih campur aduk, ia berjalan meninggalkan tempat itu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Siapa?
Apa mungkin Clara yang membantunya untuk membayar biaya rumah sakitnya?
Tapi sedari tadi ia tidak mendapat notifikasi apapun dari kakaknya mengenai biaya ini. Atau mungkin Clara yang lupa mengatakan hal itu padanya?
Sebaiknya ia mengetik pesan kepada Clara, mengatakan bahwa ia berterima kasih kepadanya karena telah sedikit membantunya untuk hari ini.
Thank you, Kak. Kau yang telah membayar biaya rumah sakitku, kan?
Send.
Baru saja ia hendak menyimpan kembali ponselnya, pesannya langsung dibalas oleh Clara dengan cepat. Akhirnya Shella membaca pesan itu, namun balasan dari Clara sontak membuatnya mengernyitkan dahi.
Apa maksudmu? Sejak kapan aku membayarnya? Aku tadi saja terburu-buru pergi ke bandara, bahkan aku tidak sempat lagi memikirkan hal itu. Memangnya kenapa?
Ia spontan ternganga. Gadis itu tidak membalas pesan kakaknya dan langsung menutup ponselnya sembari melangkah keluar dari rumah sakit dengan ragu.
Kalau bukan kakaknya yang membayar itu, jadi siapa lagi yang dengan baik hatinya membayar lunas semuanya?
__ADS_1
It's werd.
Semilir angin malam tiba-tiba berhembus dengan damai ketika kaki jenjangnya menginjak pintu luar rumah sakit. Beberapa helai anak rambutnya bergoyang-goyang, mengikuti arus angin sejuk itu. Ia merapatkan jaket yang tadi ia bawa, kemudian berjalan menembus angin tersebut.
Sejenak, otaknya melupakan tentang biaya itu. Ia tersenyum tipis sembari melangkahkan kakinya dengan pelan. Sejuk, damai dan tenteram langsung masuk ke dalam dirinya, membuat tubuhnya seakan-akan terbawa oleh arus angin tersebut.
Rasanya, semua masalahnya juga seolah-olah terlupakan dalam sekejap. Semuanya, hingga ia merasa tidak ada masalah yang tersisa sedikit pun. Otaknya kosong tanpa isi, hatinya damai, dan Shella ingin selamanya menjadi seperti ini.
Tidak ada masalah dan juga tidak ada beban hidup.
Kapan terakhir kali ia menikmati hal ini?
Shella terus berjalan menuju ke arah rumahnya. Menikmati udara malam sepertinya tidak masalah, karena ia juga sedang berada dalam keadaan mood yang buruk. Lagipula, sepertinya jarak antara rumahnya cukup dekat dari rumah sakit......
Tunggu dulu, dia menginap di rumah sakit mana?
Kepalanya kembali menoleh ke belakang, sementara matanya terus mencari dan akhirnya menemukan sebuah tulisan nama rumah sakitnya di depan.
Shella hanya menatap sekilas setiap kata itu, kemudian kembali berbalik dan melangkah menjauh. Namun di detik selanjutnya, sebuah benda berat kembali menghantam dirinya.
Wait..... Turner's hospital?
What the...
How this could be?
Ia kembali membalikkan badannya untuk yang kedua kalinya, memastikan bahwa saat ini Shella sedang tidak salah melihat. Sepasang matanya mengerjap beberapa kali, memandang tidak percaya ke arah tulisan itu.
__ADS_1
Itu benar-benar tulisan Turner's Hospital.
Oh my...
Gadis itu langsung menggelengkan kepalanya beberapa kali, mengenyahkan pikiran aneh yang baru muncul di kepalanya.
Tidak mungkin tempat sialan ini milik Zavier. Aish, bisa saja itu nama orang lain, bukan nama pria tersebut. Kenapa juga Shella harus kepikiran sampai di sana?
"Just forget him, Shella," gumamnya sebelum akhirnya ia mulai berjalan dengan perlahan dan menjauh dari rumah sakit itu.
Gadis itu melangkah tenang, menelusuri jalanan yang nyaris sepi dan hanya diterangi oleh beberapa lampu jalan. Ya, bagaimana tidak, jarum pendek jam tangannya bahkan sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat dan beberapa menit lagi akan mendekati tengah malam. Tentu saja tidak ada orang lagi yang berkeluyuran keluar malam-malam, kecuali beberapa orang yang mungkin terdesak oleh keadaan dan juga dirinya sendiri.
Shella kemudian menundukkan kepalanya, memperhatikan langkah kakinya sendiri sambil menggenggam erat kedua tali tasnya. Ia menarik napas pelan lalu menghembuskannya dengan perlahan.
"Sedang sendirian hari ini?" Sebuah suara bariton membuat Shella langsung tersentak kaget. Gadis itu menghentikan kakinya dan mendongakkan kepalanya, kemudian tertegun dan menatap beberapa wajah pria itu dengan lama.
Hell...
Kenapa ia kembali bertemu dengan mereka? Benar-benar sial.
"Hei, kau masih mengingat kami?" tanya seorang pria berambut gondrong pirang yang masih bisa ia ingat wajahnya.
Mulut Shella terkunci rapat, tidak tahu harus mengatakan apa. Kakinya kembali melangkah, berusaha bertindak tidak peduli kepada wajah para sialan yang dibencinya.
Namun sepertinya ia mengambil jalur yang salah, karena baru satu langkah ia berjalan, salah seorang pria itu langsung membekap mulutnya dengan sekuat tenaga.
Shella memberontak, namun yang ia dapat hanyalah bekapan yang terasa semakin kuat. Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha tetap pada kesadarannya yang hampir menghilang. Tetapi, ia tidak memiliki tenaga yang cukup kuat untuk melawan obat aneh yang baru saja dihirup olehnya secara tidak sengaja.
__ADS_1
Dan, apa yang terakhir kali ia tangkap adalah kegelapan.
6 May 2020