
"Dad! Kenapa kau membukakan pintu untuknya? Aku masih tidak ingin bertemu dengannya!" rengek Shella dan memajukan bibirnya kesal. Ia melangkah dan berjalan menuju ke sofa yang sedang diduduki oleh daddynya.
"Kenapa?" tanya William heran. "Apa ada masalah? Kita tidak mungkin menelantarkan dia secara menyedihkan di luar sana, kan?"
Shella memanyunkan bibirnya, lalu tanpa sadar menjilati bibirnya, membuat Zavier terpana dengan bibir seksi itu.
Surga dunia baginya.
"Ta--tapi, dia datang ke sini tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Dad, dia adalah pria jahat," rengek Shella dengan nada yang keras.
Zavier sedikit melirik aneh. Okay, apa dia memang terlihat jahat di depan mata Shella? Kalau begitu, Ini adalah sebuah penghinaan baginya.
"Apa yang aku perbuat hingga kau mengataiku 'jahat'?" tanya Zavier dengan nada tenang, walau tidak dapat dipungkiri jika ia sedang berusaha menahan hasratnya.
Kenapa Zavier terus membayangkan Shella yang setengah telanjang sedang berada di bawahnya? SIAL!
"Kau... d--dia, dad. Kemarin di mobil, Zavier menci--. Ah, tidak. Maksudku--. TIDAK, YANG PENTING DIA ORANG JAHAT, DAD," ucap Shella keras, membuat Zavier hanya menatapnya dengan tatapan 'are you crazy?' ke arah perempuan itu.
Bagi Zavier, sebuah ciuman seperti itu tidak masalah. Yang bermasalah besar adalah, jika ia berniat untuk memperkosa perempuan itu.
ZAVIER, KENAPA OTAKMU MENJADI SEMAKIN LIAR? Sisi lain dari Zavier tiba-tiba berteriak keras, membuat ia kembali tersadar dengan pikiran kotornya.
Sepertinya Zavier benar-benar membutuhkan banyak sabun untuk segera mencuci otaknya.
"Dad... tujuanku untuk datang ke rumah Shella adalah ingin mengajak perempuan itu untuk pergi sarapan," ucap Zavier pada akhirnya, membuat William yang tadinya terfokus pada perkataan Shella menjadi teralih padanya.
__ADS_1
"That's a great idea. Shella, pergi sekarang bersamanya. Ayo, cepat. Pasti anakku dan calon menantuku sudah sangat lapar sekali!" seru William senang tanpa mendengarkan jawaban Shella terlebih dahulu.
Bibir merah yang tipis itu setengah terbuka, terkesiap dengan jawaban ayahnya barusan. Ia meneguk salivanya kesal, sebelum membuang pandangannya ke arah Zavier.
"Aku tidak lapar. Kau saja yang pergi sendiri," jawab Shella dan memutar bola matanya dengan malas. Setelahnya, ia beranjak bangkit dari sofa seraya mencibir tidak jelas.
"Come on, baby. Aku sudah memesan tempat romantis hanya untuk kita berdua. Itu akan menjadi hal yang sia-sia jika kau tidak ikut denganku," balas Zavier dan menunjukkan tatapan permohonannya.
"Kalau begitu, pergilah bersama daddyku. Dia pasti akan sangat senang."
Zavier dan William sama-sama melotot lebar dan menatap ke arah Shella yang tampak sedang mencengir tidak bersalah. Mereka tertegun dengan apa yang baru saja perempuan itu ucapkan.
Really?
"Baby, apa kau barusan menyuruhku untuk berpacaran dengan daddymu?" tanya Zavier dan menatap ke arah Shella dengan tatapan tidak percayanya.
Kedua pria itu secara bersamaan menatap ke arah Shella dengan tatapan peringatan, membuat gadis itu hanya pasrah dengan keadaannya.
"Ta--tapi, dad. Aku tidak lapar." Shella kembali merengek. "Dan, dad. Aku memiliki kuliah pagi hari ini. Tidak mungkin, kan kalau--"
Ucapan Shella terpotong kala Zavier langsung mengucapkan kalimatnya.
"Jangan membohongiku, Shella. Aku adalah dosenmu jika kau lupa. Hari ini, kau tidak memiliki kuliah sore ataupun pagi," ucap Zavier yang semakin gemas dengan tingkah laku perempuan itu. Ia tersenyum penuh kemenangan.
Pipi Shella memerah, sadar bahwa dirinya telah ketahuan membohongi kedua pria di depannya.
__ADS_1
Ia merutuk bodoh.
Lord, bagaimana ia bisa melupakan jika Zavier merupakan dosennya?
"Well, a--aku memiliki tugas makalah yang masih belum di kerjakan. Jadi, kurasa akan lebih baik jika aku--"
"Oh my god, Shella. Jika kau menemaniku sarapan hanya untuk hari ini, akan kupastikan seluruh tugas yang pernah kuberikan padamu akan kulupakan semuanya. Aku janji," potong Zavier, lagi.
"Ya, Shella. Sebaiknya kau pergi sekarang! Jangan beralasan lagi," seru William dan memberikan tatapan berbinar-binarnya juga.
Gadis itu hanya memberengut kesal, seakan-akan Zavier dan William memang sedang bekerja sama untuk menjatuhkannya. Oh my god!
"Aku akan pergi sendiri dengan menggunakan mobilku, sedangkan Zavier sendiri menggunakan mobilnya. Setelah itu, kita akan bertemu di tempat makan tersebut," sahut Shella, membuat dua pria itu menatapnya dengan tatapan tidak terima.
"Pasangan macam apa itu?" tanya William, membuat Zavier turut menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Kita belum berpasangan, Dad!" seru Shella dan menggigit bibir bawahnya dengan keras, merutuki apa yang baru saja daddynya ucapkan.
Sial.
"Itu sangat tidak romantis, baby. Kau masuk ke dalam mobilku saja," tambah Zavier dengan mata sayunya.
Melihat itu, Shella mencebikkan bibirnya asal, kemudian menghela napasnya dengan kesal. "Jika kau bermacam-macam lagi, akan kupastikan kalau barangmu akan kupotong. Aku sedang tidak bermain-main dengan perkataanku," balasnya pada akhirnya.
Tidak apa-apa, untuk kali ini saja ia akan mengikuti ajakan Zavier.
__ADS_1
"Jangan begitu, Shella. Kau terlalu kejam. Aku masih ingin melihat cucuku yang mungil-mungil nanti," jawab William dan terkekeh geli pada kata terakhirnya.
"DAD!"