Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 10 Rencana Malik yang Gagal


__ADS_3

"Pasti dia orangnya yang telah memberikan aku minuman yang berbeda dari orang lain," Ervin menerawang mengingat wajah seorang wanita.


"Awas aja besok kalau ketemu di kampus, aku akan memberikannya pelajaran," Ervin berendam kembali dengan memasukkan kepalanya di bathtub.


Sepuluh menit berlalu, badannya sudah tidak terasa panas lagi. Ia keluar dari bathup dan memakai handuk kecil yang melingkar di pinggang.


"Akhirnya seger juga," ia seketika menguap setelah mengeringkan rambutnya dengan hair dryer otomatis.


Ia berbaring dan memejamkan mata. Malam ini ia lalui dengan perasaan yang tenang walaupun tadi ada percekcokan dengan ayahnya sendiri.


***


Asap kopi pagi ini tampak kian mengepul ke udara.


Cahaya mentari pun seolah tak mau kalah untuk menghapus jejak-jejak embun pagi disetiap rerumputan.


Malik menunggu anaknya di meja makan, ia seakan tak sabar untuk mengirim Ervin ke suatu tempat yang paling tepat untuk anaknya belajar mengendalikan emosi diri.


Dertt, derrrt.


Getaran smartphone mengalihkan perhatiannya.


Ia tersenyum lebar ketika melihat nama yang tertera.


"Assalamualaikum mas, seharusnya aku yang menelepon duluan," ia menyengir lebar.


Suara diseberang telpon menjawab salam dari Malik.


"Maaf ya Lik, sepertinya untuk dua tahun ini aku belum bisa menerima kedatangan orang-orang. Aku harus menyelesaikan masalahku dan mengunjungi Ibu dan Bapak di kampung. Aku merindukan mereka," jelas suara di telpon panjang lebar.


"Benarkah mas? aku sih gak masalah mas, asalkan mas sudah tahu maksudku apa. Aku juga tidak memaksa mas, kan aku yang memerlukan bantuan, mas," ia meringis.


"Iya Lik, siapkan saja mental anakmu dulu! selama dua tahun aku yang akan mengajarinya dengan caraku bertahan hidup," ia terkekeh geli.


"...."


"Kalau begitu sudah dulu ya Lik, sebentar lagi jemputan akan datang," setelah mengucapkan salam pria di ujung telepon memutuskan panggilan.


Malik menjawab salam dan menghela nafasnya dengan panjang. Kesabarannya akan diuji lagi dan lagi oleh kelakuan anaknya itu.


Elisa yang membantu si Mbok membawakan makanan ke atas meja makan hanya bisa meringis melihat reaksi suaminya sendiri.


"Jangan disesali mas, mungkin memang belum waktunya Ervin meninggalkan kita untuk belajar di sana," ia tersenyum kecil. Ia paham akan perbincangan Malik dan seseorang tadi di telpon.


"Morning Mam and Pa," Ervin melangkah ke meja makan dan mencium kening kedua orangtuanya.

__ADS_1


Salah satu kebiasaan yang ia lakukan sedari kecil.


"Morning sayang," sahut Elisa membalas.


Sementara Malik hanya terdiam dan menelisik raut wajah anak lelakinya.


"Kamu kenapa? tumben sekali riang gembira kayak anak kecil," ucapnya ketus.


"Gak ada apa-apa Pa, aku hanya ingin merayakan kedatangan seseorang," ia tersenyum lebar.


Mereka sekeluarga sarapan dengan khidmat, sementara Sumiyati disuapi oleh si Mbok di kamarnya.


Setelah selesai Ervin pamit untuk berangkat ke kampus. Ia menyuruh pak supir untuk mengeluarkan motor besarnya. Hari ini ia ingin sekali mengendarai motor itu.


Dengan memakai kemeja kotak-kotak berwarna merah yang kancingnya terbuka, celana jeans biru yang ketat dan rambut yang ia kuncir diatas menyerupai pemain bola, sepatu kets yang ia kenakan menambah kesan penampilannya yang dinamis dan sporty. Apalagi ada tas yang bertengger di punggungnya. Ervin turun dari motor dan melangkah ke fakultasnya. Ia merasa tidak nyaman dengan pandangan gadis-gadis yang selalu menatapnya seolah ia adalah santapan yang lezat.


Ada seorang gadis mendekatinya dan merasa kesal akan sikap Ervin sebelumnya ketika bertemu di sebuah club.


"Kamu kenapa pulang cepat sih? padahal kita kan belum sempat bersenang-senang," ia mengerucutkan bibirnya.


"I don't care," sahut Ervin cuek.


Ia kembali melanjutkan langkahnya dan tidak peduli pada gadis itu.


Awas saja nanti kamu Ervin, bersiaplah untuk mendapatkan pelajaran setelah ini karena telah berani menolakku.


"Hey, my brother!" sapa seorang pria.


"Hey, brengs*k, sepertinya kalian bersenang-senang tanpaku malam itu," ia menyunggingkan senyumnya.


"Ha...ha, benar sekali bro. Lagian kamu gak mau mencicipi mereka dulu sebelum pulang," ia merangkul pundak Ervin.


"Dih, najis amat mau bergumul dengan cewek seperti mereka," ia menatap temannya, menghina.


"Kenapa kamu seolah baru tahu kita sih, kita kan udah terkenal bad boy," ia terkekeh geli.


Mereka semua terdiam setelah dosen masuk ke ruang belajar. Semua Mahasiswa duduk di bangkunya masing-masing.


Sore hari


"Eh, anterin aku pulang dong Vin! rumah kita kan sejalur?" tiba-tiba saja seorang gadis bergelayut manja di lengannya yang kokoh.


"Sorry aku gak bisa mengantar cewek sembarangan," ia menepis lengan gadis itu.


Ervin memakai helmnya dan ia memutar kunci motor besarnya. Dengan cepat ia bermanuver dan pergi menjauh.

__ADS_1


"Kasian sekali sih dicuekin sama cowok terpopuler di kampus," gadis tadi dicemooh oleh pria di belakangnya yang baru saja melihatnya ditolak oleh Ervin.


"Jangan sembarangan ngomong, aku itu tidak ditolak, aku hanya perlu waktu lebih lama untuk mendapatkan sahabat kamu itu!" ia berkacak pinggang, matanya nyalang menatap pria di depannya.


"Buktinya semalam dia memilih untuk pulang dan tidak mau menemani kamu," pria itu mencibir gadis di depannya.


"Jangan pernah mengungkit kejadian semalam," ia mendengus kesal dan pergi meninggalkan pria itu seorang diri.


Ervin masih di jalanan, semua kendaraan bermotor saling menyalip untuk mengejar waktu. Di depan sana ada seorang gadis muda yang sedang berjalan sendirian, gadis itu seakan menikmati keindahan jalanan kota yang berdebu.


Dengan senyum yang merekah, gadis itu menyebrang jalan dengan spontan tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan. Ervin tersentak dan mengerem laju motornya dengan mendadak.


Ia tidak bisa menghentikan laju motornya dengan seketika, oleh karenanya ia membelokkan motornya dengan cepat dan ia pun melompat agar badannya selamat. Motornya menabrak sesuatu yang keras.


Duagh... Bruaaakk.


Suara hantaman benda keras dan padat berbunyi nyaring membuat gadis itu terkejut dan berjongkok di pinggir jalan. Kepalanya ia himpit diantara kedua pahanya.


Ervin berguling di aspal jalanan yang kotor dan berdebu. Badannya tak ada yang lecet akan tetapi rasa pegal dan nyeri sangat terasa sekali. Ia berdiri dengan susah payah tanpa bantuan siapapun. Ia mendekati gadis muda yang sembarangan menyebrang tadi.


Mereka menjadi bahan tontonan orang-orang yang berlalu-lalang. Motornya ia biarkan tergeletak begitu saja di pinggir jalan raya.


Beruntung Ervin berguling di pinggir jalan dan tak ada mobil yang melintas.


"Hey, kamu buta apa! kalau menyebrang lihat-lihat dong be*o!" Ervin memekik tertahan. Emosinya sudah berada di ubun-ubun.


"Ini jalan raya! bukan jalan bapakmu!" sentaknya lagi.


"Sorry, my bad," ucap gadis itu pelan masih dalam posisinya.


Ervin menyuruh gadis itu untuk bangun dan melihat apa yang sedang terjadi.


"Bangun gak? atau aku panggilkan pihak keamanan untuk mengusir kamu dari lingkungan ini! DASAR MENYUSAHKAN ORANG!" teriaknya.


Gadis muda itu memberanikan diri untuk berdiri, namun matanya masih terpejam tak berani ia buka.


"Lihatlah ulahmu itu!"pria itu berkacak pinggang.


Gadis muda itu mulai berkaca-kaca, seketika pandangan mereka beradu dan deg....


Sebuah kenangan melintas di benak keduanya.


"Kamu..." pekik mereka bersamaan.


*

__ADS_1


*


*Bersambung


__ADS_2