
"Kamu itu sebenarnya selingkuh dengan pria lain yang lebih muda dari kamu kan?!" tuan D menunjuk wajah istrinya.
Firda yang mendengar perkataan suaminya terbelalak lebar. Dia memikirkan alasan yang tepat untuk menyahut perkataan suaminya tersebut.
"Kamu salah alamat! siapa pria yang kamu maksud?" Firda mencoba menjawab sedatar mungkin.
"Jangan lupa kalau aku bisa membunuh pria selingkuhan kamu itu!" ancam tuan D.
"Terserah kamu, aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan! aku kembali ke kamar sekarang juga!" Firda melangkah dan membuka pintu. Dia menutup pintu dengan kasar.
Dia menatap Clara yang berdiri mematung. Senyum liciknya terkembang sempurna di bibir tipisnya yang sudah menggelap.
"Kamu menguping pembicaraan kami?" Firda berbicara pelan.
Tidak ada sahutan dari Clara, tatapannya tajam menatap ibu tirinya itu.
"Baguslah kalau kamu tahu tentang ibumu yang murahan itu mati secara mengenaskan, dan orang mengenalnya dengan tidak hormat setelah kematiannya," Firda berbisik di telinga Clara.
Clara mengepalkan tangannya dengan erat. Matanya menyimpan sorot emosi yang membuncah. Dadanya naik turun karena napasnya terasa berderu.
"Tidak, Mommy tidak seperti apa yang kamu katakan! Mommy perempuan baik-baik dan penyayang," Clara menepis pernyataan ibu tirinya.
"Terserah kamu kalau tidak percaya. Tapi sebaiknya kamu tanyakan saja pada Daddy kesayangan kamu itu penyebab utama kematian ibumu tersayang," Firda melangkah pergi meninggalkan Clara seorang diri.
"Daddy, kamu harus bertanggung jawab atas kematian Mommy," gumam Clara seorang diri.
Clara mulai beranjak dari tempatnya berdiri, dia kembali ke dalam kamarnya dan bersiap-siap untuk menghadapi kenyataan dan kejadian esok hari yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Sementara tuan D masih di dalam ruangan kerjanya. Dia memungut berkas yang di lempar istrinya. Dia perlahan membuka berkas tersebut dan menelisik satu persatu. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal. Dia kemudian merobek berkas tersebut.
"Wanita ******! beraninya dia mengancamku seperti ini. Dia pikir dia itu siapa?!" tuan D melempar berkas yang disobeknya tadi ke sembarang arah.
Tuan D duduk dan bersandar pada kepala kursi. Dia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Tiba-tiba saja pikirannya mengingat kembali kecelakaan mobil yang dialami istrinya ketika Clara masih berusia delapan tahun.
Tuan D dan Diana istrinya bertengkar hebat karena tuan D di pergoki oleh istrinya tengah bercumbu dengan sekretaris barunya.
__ADS_1
"Jadi begini kelakuan kamu ketika di kantor?" Diana menggebrak meja kerja suaminya.
Si sekretaris langsung mengambil bajunya yang berceceran di lantai dan memakainya dengan terburu-buru.
"Ngapain kamu wanita la*ur? siapa yang menyuruh kamu keluar?" Diana menarik rambut wanita itu.
"Tenanglah dulu sayang! aku bisa menjelaskan semuanya," tuan D memakai celananya dan menghampiri istrinya.
"Aku bisa menjelaskan semua ini! ini tidak seperti dugaan kamu!" tuan D merengkuh tubuh istrinya agar tangan Diana terlepas dari rambut sekretarisnya.
Sekertaris yang baru bekerja beberapa minggu itu ketakutan dan gemetar. Dia tidak menyangka perselingkuhan yang dijalaninya selama seminggu ini telah ketahuan.
"Apa lagi yang mau kamu jelaskan? untung aku masih menyimpan kunci cadangan yang diberikan almarhum Papa dulu. Kalau tidak kelakuan menjijikkanmu itu tidak akan terbongkar," Diana menjambak rambut sekretaris.
"Lepaskan dia sayang! kasian dia kesakitan," bujuk tuan D mencoba melepaskan tangan Diana.
"Kamu kasian melihat wanita ****** ini kesakitan? sementara aku melihatmu bermain serong dengan wanita lain. Kamu tidak tahu rasa sakitnya seperti apa?" geram Diana.
Dia menampar pipi suaminya dan wanita itu bergantian.
Entah kenapa air mata tidak bisa ia tahan, akhirnya butiran air bening itu menetes dengan derasnya.
"Mulai sekarang aku akan mencabut kekuasaan kamu di kantor ini! kamu bekerja saja di tempat lain!" Diana memekik tertahan.
"Jangan harap aku akan membuat hidupmu tenang Di," setelah selesai menampar lagi kedua tersangka perselingkuhan itu, Diana melangkah keluar dan menutup pintu dengan keras.
"Diana tunggu!" tuan D mengejar istrinya namun sekretarisnya menarik lengannya untuk menghentikan langkahnya.
"Pakai baju kamu mas! aku akan keluar seolah tidak terjadi apa-apa," sekretaris itu merapikan penampilannya dan keluar seolah tidak ada sesuatu hal yang terjadi.
Tuan D memakai baju dengan terburu-buru. Dia kemudian berlari menyusul istrinya. Semua karyawan menatap mereka dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Diana sayang, tunggu aku!" tuan D menarik lengan istrinya.
Setelah berlari kencang akhirnya ia bisa merengkuh tubuh istrinya.
__ADS_1
"Maaf, maafkan aku! aku terpaksa melakukannya! sedari aku lajang aku tidak cukup hanya dengan satu wanita. Maafkan aku!" tuan D memeluk istrinya erat.
Mereka berpelukan di lobi perusahaan. Untunglah waktu itu bukan jam istirahat. Jadi karyawan yang berlalu lalang hanya beberapa saja.
"Pergi kamu! tinggalkan kami! kamu tidak usah kembali ke rumah!" Diana melepaskan diri dari dekapan suaminya.
"Tidak, aku tidak mau meninggalkan kamu! aku mencintaimu Diana," tuan D merayu istrinya.
"Kamu hanya menginginkan harta orang tuaku saja, tidak lebih D," Diana berlari keluar dan masuk ke dalam mobilnya. Pak supir langsung menghidupkan mesin kendaraan setelah mendapat perintah dari majikannya.
"Pak, kita pergi ke rumah Om Anwar saja!" suruh Diana.
"Baiklah Nyonya!" supir berbelok arah sesuai instruksi dari majikannya.
Sementara tuan D berlari ke parkiran dan merogoh kantong jasnya. Dia mengeluarkan kunci dan hendak menyusul Diana.
Mereka berkejaran di jalanan, namun tuan D masih belum bisa menggiring mobil Diana.
Klakson mobil bersahutan akibat ulah tuan D yang sembrono. Kini mereka sudah beriringan, namun di depannya ada sebuah kendaraan besar yang bermuatan kontainer. Tuan D bermanuver agar kendaraan besar itu tidak menabrak mobilnya. Tapi sayangnya naas, supir Diana yang mengerem mendadak karena terkejut langsung ditabrak oleh truk kontainer tadi. Mobil itu terlempar di pinggir jalan. Mobilnya terbalik dan ada percikan api. Semua orang panik dan berusaha untuk menghubungi pihak kepolisian. Tuan D yang menabrak pembatas jalan hanya bisa termenung melihat kendaraan yang di dalamnya ada si istri dan ibu dari anaknya.
"Tidak, Diana!" lirihnya sambil membuka pintu mobil yang sudah ringsek.
Namun, ledakan mobil yang terjadi membuyarkan usahanya. Dia terpaku di tempatnya setelah berhasil membuka pintu mobil.
Wajahnya menyiratkan kesedihan yang mendalam. Dia tidak menyangka pernikahan yang di jalaninya setelah sekian lama akhirnya harus berakhir di saat itu juga karena istrinya telah tiada.
"Diana... Diana," tuan D seperti orang linglung memanggil nama istrinya.
"Tidak, ini semua karena aku mengejarnya," tuan D menepuk kepalanya berulang kali.
Tuan D merasa bersalah, dia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri. Sementara di jalanan mulai ramai karena kerumunan orang yang ingin mengetahui apa yang terjadi.
Di belakangnya ada tepukan tangan. Tuan D menoleh dan terkejut karena ternyata dia adalah....
Bersambung
__ADS_1