
"Jangan-jangan nona punya rencana lain," Frank menatap punggung Clara sampai tak terlihat lagi.
Frank tidak peduli apa yang akan nona mudanya lakukan. Dia kemudian pergi ke luar rumah dan naik ke rooftop untuk beristirahat.
"Aku ingin tahu siapa yang lebih cepat dalam menyelidiki supir baru itu," seorang wanita paruh baya tersenyum licik.
Dia mengintip di balik pintu dapur setelah mengambil minuman dingin di kulkas.
Tanpa berpikir panjang dia menghubungi seseorang.
["Kamu jangan mau kalah sama orang suruhan suamiku! Pokoknya kamu harus rekrut supir itu agar dia bisa membantu kita di rumah ini!"]
["Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau jangan terburu-buru? Kenapa sekarang malah kamu bersemangat sekali?"]
Sepertinya orang yang wanita hubungi tersebut berubah kesal.
["Sudah jangan banyak omong! kalau kamu masih mau duit jangan lupa perjanjian kita!"]
Wanita itu langsung memutuskan panggilan sebelum suara di seberang menyahut perkataannya.
"Dasar manusia parasit, bisanya cuma nebeng," kesalnya.
Wanita itu melangkah naik ke tangga dan masuk ke kamarnya.
"Mas belum tidur?" Dia terkejut karena suaminya masih memegang ponselnya dan berselancar di dunia maya.
"Belum tengah malam, jadi aku tidak bisa tidur," jawabnya tanpa menoleh sedikitpun pada si istri.
Wanita tersebut tidak menyahut dan berbaring di sebelah suaminya.
Tuan D tanpa basa-basi berbicara terus terang.
"Jangan harap kamu akan mendapatkan sepeserpun harta warisan dariku. Walaupun suatu saat aku mati kamu tidak akan pernah mendapatkannya," ucapnya tanpa tedeng aling.
"Kamu ngomong apa sih mas? Kita ini masih suami istri, apa pantas kamu berkata seperti itu?" Wanita itu spontan menoleh.
Matanya nyalang menatap tajam suaminya.
"Aku sudah berkali-kali memperhatikan gerak-gerikmu. Aku juga sudah memperingatkan bahwa aku sudah tahu semuanya," Pria tersebut menoleh pada istrinya.
"Jangan pikir aku tidak tahu apa rencanamu selanjutnya," tatapan matanya penuh dengan aura kebencian.
"Pria itu hanya 'selingkuhanku' tidak lebih," sahut istrinya dengan nada tertekan.
"Selingkuhan sekaligus partner untuk menghancurkan aku? Haha," Tuan D tertawa mengejek.
"Sudahlah aku malas meladeni kamu. Dari dulu selalu aku yang disalahkan. Aku berselingkuh karena kamu tidak pernah mau menyentuh aku lagi," Dirinya tidak terima.
"Karena aku sudah jijik menyentuhmu. Kamu tidak aku cerai sudah untung bisa makan enak dan hidup di rumah mewah. Jadi jangan sekali-kali merencanakan sesuatu yang buruk pada keluarga ini," ancamnya.
__ADS_1
"Aku juga butuh kehangatan mas, jadi jangan halangi kesenanganku. Kalau kamu masih mau aku menutup mulut tentang kejadian itu, kamu harus tutup mata dan telinga kalau aku berselingkuh," wanita itu tidak mau kalah.
"Suatu saat nanti aku akan membalas perbuatanmu ini," Tuan D geram mendengar wanita itu berbicara tentang kejadian di masalalu.
"Sudahlah mas, kita ini saling membutuhkan. Jangan diperpanjang lagi, aku ingin tidur," wanita itu berbaring membelakangi suaminya.
***
Pagi hari yang sedikit berbeda karena mendung mulai terlihat.
Seorang pria tengah memakai kacamata hitam dan membawa tongkat. Pakaian yang dia kenakan lusuh, rambutnya acak-acakan. Dia sedang duduk di depan pagar rumah Ervin yang tertutup rapat. Sekuriti tidak mengusirnya, bahkan pria itu mendapatkan perhatian khusus dari pak sekuriti dan memberikannya makanan.
"Maaf ya pak, kalau saya merepotkan," ucap pria tadi.
"Tidak mengapa pak, saya dipesan oleh tuan rumah kalau ada yang butuh pertolongan jangan di cuekin, nanti mereka akan membantu sebisanya," Sekuriti tersebut menyampaikan amanah dari pemilik rumah.
"Anak saya sedang sakit pak, saya tidak punya uang untuk berobat," mau tidak mau pria itu bercerita.
"Kalau begitu kebetulan sekali karena tuan rumah ini punya beberapa Apotek. Nanti saya sampaikan ya pak!" mereka berdua mengobrol terhalang oleh pintu pagar.
"Ervin, kamu mau kemana lagi?" terdengar suara sayup-sayup.
"Nah itu dia tuan muda rumah ini," seru sekuriti.
"Saya malu untuk mengatakannya pak," pria tersebut tertunduk dalam.
Suara klakson mobil berbunyi nyaring, sekuriti dengan cepat membuka pintu pagar rumah.
"Mas, ada bapak-bapak sedang kesusahan. Dia duduk di ujung sana!" tunjuknya pada seorang pria yang tengah berdiri mematung.
"Kenapa memangnya pak?" Ervin menoleh sekilas.
"Butuh obat untuk mengobati anaknya yang sakit mas," jawab sekuriti.
"Owh itu hal kecil, kebetulan aku juga harus ke Apotek," Ervin menutup kaca mobilnya.
Pria itu kemudian turun dari kendaraannya dan mengajak seorang pria yang tengah memperhatikan dirinya.
"Naiklah pak, akan aku bawa ke apotek untuk mengambil obat yang bapak perlukan," Ervin mengajak pria tersebut.
"Benarkah?" Pria itu berbinar-binar bahagia.
Dia masuk ke mobil dan kendaraan itu langsung pergi meninggalkan kediaman mewah keluarganya.
Hampir satu jam, mereka sudah tiba di depan sebuah apotek yang dikelola oleh Ervin.
"Jeffrey, bawa bapak ini untuk mengambil obat yang dia butuhkan. Berikan secara gratis!" suruhnya pada orang kepercayaan.
"Terimakasih banyak ya pak atas kemurahan hatinya," Pria itu tersenyum dan mengikuti langkah Jefrey.
__ADS_1
Matanya meneliti sekeliling ruangan. Dia mengangguk berulang kali.
"Jadi supir itu tidak ada maksud untuk mencari kesalahan tuan D? Dia bukan polisi maupun anggota geng. Rumahnya mewah dan punya apotek juga. Aku harus mencari tahu apa tujuannya kenapa harus menyamar menjadi supir," batinnya.
"Pak, kenapa melamun?" Jefrey menepuk pundak pria tersebut.
"Maaf pak, saya bingung mau pilih obat apa," ucapnya malu.
Jefrey menanyakan perihal sakit yang dialami anaknya. Pria itu mengarang sebuah cerita. Jefrey pun mengambil obat yang diperlukan dan menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang.
"Terimakasih banyak atas bantuannya, saya permisi dulu ya mas, sampaikan terimakasih banyak pada bos juga," Pria itu melangkah pergi.
Dia menyetop sebuah taksi yang lewat setelah jauh dari Apotek.
"Akhirnya lega juga," ucapnya sambil melepaskan rambut palsu dan kumis beserta janggut yang memutih.
Supir taksi menatap tak percaya, ternyata penumpangnya menyamar sebagai orang tua yang tidak punya.
"Saya pikir bapak tidak punya uang untuk membayar ongkos taksi ini. Makanya saya mau berhenti sekedar berbuat baik. Tapi ternyata hanya samaran," supir tersebut tersenyum.
"Ini perintah dari seseorang, saya terpaksa melakukannya karena uang," pria itu menyengir.
Pria itu menelpon seseorang.
["Hey si supir Clara itu tidak ada hubungannya dengan suamimu. Aku juga tidak tahu apa tujuannya menyamar jadi supir di rumahmu itu,"]
["Benarkah? Kamu tidak bohong, kan?"]
["Tentu saja, aku sudah menyelidikinya tadi pagi. Aku berbicara langsung dengan pekerjanya. Sepertinya dia bukan orang yang tepat untuk bekerjasama dengan kita,"]
["Kalau begitu biar aku sendiri yang akan menginterogasi supir itu. Ya sekalian pendekatan dengan brondong,"]
["Jangan macam-macam kamu! Aku bisa membunuhmu kalau kamu berselingkuh. Ya selain suamimu pastinya. Tapi aku yakin suami kamu masih tidak mau menyentuhmu. Hahaha,"]
Wanita itu memutuskan panggilan telepon.
"Wanita ini memang seenaknya," Pria tersebut tersenyum sinis pada ponselnya.
Sementara di Apotek, ada seorang pria yang sedang menunggu. Dia duduk pada salah satu kursi, dan memperhatikan sekeliling.
"Orang kaya sih kalau punya apotek besar begini. Tapi mungkin saja ada rahasia lain di balik tempat ini. Atau jangan-jangan pemiliknya punya obat-obatan terlarang?" batinnya berspekulasi.
Royan memanggil sebuah nama, pria itu menyahut dan berdiri menghampiri Royan.
*
*
*Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, komen, favorit, rate ⭐ 5, dan vote Mingguan gratis ya kak. Terimakasih banyak karena sudah mau membaca karya ini.