Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 14 Kedatangan Toni


__ADS_3

Setelah kejadian yang menimpa Jasmine kecil. Ia menghindari pandangannya dan meraih lengan Jasmine serta menyeret anaknya agar masuk ke dalam kamar.


Zainab merasa bersalah, ia tidak bisa membela kedua anaknya sekaligus, Toni memang salah tapi itu dulu, sekarang anak lelakinya sudah bertobat dan kembali ke jalan yang lurus.


"Ibu, sepertinya Fatma tidak senang aku datang, maaf aku datang mendadak, aku tidak tahu bahwa Fatma ada di sini," ia menunduk.


"Biar Ibu yang meyakinkan adikmu itu, kamu masuk dan beristirahatlah, jangan sampai kalian mengingat hal yang telah lalu," ia menarik lengan anaknya agar mengikutinya ke belakang.


"Moms, ada apa sih? kenapa Mommy tiba-tiba panik dan ketakutan begitu?" Jasmine terheran.


"Bukan apa-apa sayang, sebaiknya kamu jangan keluar dari sini sebelum semuanya aman," ia menyuruh anaknya untuk duduk di pinggir ranjang.


Evans yang baru keluar dari kamar mandi yang berada di dalam kamar merasa heran dan bertanya-tanya kenapa istri dan putrinya terlihat cemas dan khawatir.


"Kenapa sih kalian?" tanyanya sambil celingukan.


Tak ada yang salah dengan kamar ini, pikirnya.


"Gak ada apa-apa kok mas, lebih baik kamu keluar saja!" suruh Fatma pada suaminya.


Evans hanya mampu mengendikkan bahu tanda ketidak tahuannya.


Kenapa dia bertingkah aneh? sepertinya aku belum lihat Fatma bersikap seperti itu.


Evans langsung keluar dan tidak ada apapun di sana, kosong tidak tampak penghuni lain dari si empunya rumah.


Plakkkk...


"Kenapa bengong?" tepukan di pundaknya sontak membuatnya berpaling dan terkejut bukan main.


"Bapak... mengagetkan saja," Evans mengelus dadanya.


"Lagian kenapa bengong sih? emangnya lagi cari apa?" pria tua itu masih menatap gerakan menantunya.


"Ini Pak, si Fatma yang nyuruh untuk kemari, tapi gak ada siapapun kecuali bapak yang tiba-tiba muncul," ia menjelaskan.


"Owh, pasti Toni, kakaknya datang dan berada di ruang belakang dengan ibunya. Aku yakin pasti istrimu masih menyimpan rasa trauma," Ahmad menghela nafasnya.

__ADS_1


"Kalau begitu biar aku bujuk dia agar mau menemui mas Toni," Evans harus bertindak.


Hari itu juga, kejadian silam yang membuat mereka renggang dan menjauh akhirnya mulai bisa berdamai dengan keadaan. Apalagi kejadian itu sudah hampir 20 tahun yang lalu, kini mereka mulai menjalin silaturahmi dengan baik. Walaupun Fatma tidak seutuhnya mempercayai saudaranya itu.


***


Hari demi hari berlalu, musim pun berganti seiring waktu yang berjalan dengan cepat. Sudah dua tahun mereka lewati dengan kehidupan yang penuh dengan berbagai macam Lika liku kehidupan, diantaranya nenek tercinta Ervin dan Nissa yang sudah meninggalkan dunia ini. Yang paling merasa terpukul adalah Malik. Sementara kedua kakaknya sempat melihat pemakaman ibu mereka. Malik tidak menyangka bahwa akan secepat itu kehilangan Sumiyati.


Kini di rumah besarnya sudah tidak ada lagi tawa dari bibir Sumiyati. Evans yang dulunya dekat dengan Sumiyati juga merasa kehilangan, ia beserta keluarganya menginap di rumah Malik ketika tahu wanita tua itu sakit parah. Kini Evans hanya bisa melihat makam Sumiyati yang masih basah. Satu persatu mereka semua meninggalkan pemakaman.


Jasmine mendekati Ervin, ia menghibur teman masa kecilnya. Akan tetapi, Ervin memilih untuk menghindari Jasmine. pria muda itu tidak mau kalau wajah sembabnya di lihat secara jelas oleh Jasmine.


Ervin tidak bisa merayakan kelulusannya karena masih berduka, ia juga merasakan kehilangan sosok nenek yang selama ini selalu menyayangi dirinya.


"Senyum dikit Vin!" seru Elisa yang akan mengabadikan anaknya memakai baju wisuda yang memegang toga.


Ervin memaksakan senyumnya, beberapa kali Elisa harus mengulang hal yang sama karena ekspresi anaknya yang terlalu kaku.


"Ah kalau begini terus kita udahan ajah foto-fotonya! kita pulang aja sekarang!" Elisa kesal dengan tingkah anaknya.


Mereka duduk berdampingan kecuali Ervin yang berdiri di depan panggung. Mahasiswa lainnya telah berkumpul di gedung yang sama. Akan tetapi, mereka memilih untuk menunggu kedatangan anggota keluarga yang lain.


Acara wisuda pun berjalan dengan lancar, mereka sekeluarga pulang kembali ke rumah. Ervin tertidur pulas setelah masuk ke dalam mobil. Selain kecapean, ia selalu kepikiran tentang neneknya yang meninggal selama beberapa hari ini.


Mereka sampai dan membangunkan anaknya, Nissa dan Kino bergantian menggendong anak balitanya.


Kini Malik dan Elisa sudah menjadi seorang Eyang, uban di kepala mereka pun bertambah banyak setiap harinya.


Seminggu kemudian, rencana yang Malik siapkan untuk Ervin harus tetap dipatuhi karena itu adalah janji yang tidak boleh diingkari. Ervin mengemas pakaian dan barang-barang yang ingin ia bawa. Mereka mengantarkan anaknya ke sebuah pelabuhan modern yang terdapat kapal penumpang yang bermacam-macam ukuran.


"Itu kapal yang akan kamu naiki!" tunjuknya pada Ervin.


"Haaa... yang bener aja Pa!" Ervin melongo melihat kapal yang tidak begitu layak di jaman teknologi modern seperti ini.


"Kapal kecil doang ya Pa?" Ervin menggerutu


"Di sana bukan tempat wisata ataupun pemukiman warga, jadi tidak ada kapal yang seenaknya bisa berlalu lalang, kapal itu Papa sewa hanya untuk kamu," Malik tersenyum kecil.

__ADS_1


Semoga kamu betah berada di sana! aku sudah tidak sabar untuk segera melihat kamu mandiri dan menjadi seorang pria yang kuat.


Elisa memeluk anaknya dengan erat, tak terasa ia meneteskan air matanya. Selama dua tahun kedepan ia tidak bisa bertemu dengan anaknya.


"Kamu harus nurut apa kata mas Toni! jangan sampai kamu dihukum di sana!" Elisa melepaskan pelukannya dan mengelus pipi anaknya dengan lembut.


"Iya Ma, aku akan berusaha semaksimal mungkin agar tidak mengecewakan kalian," ia tersenyum lebar.


"Saatnya berangkat nak!" Malik memberikan sebuah tas yang sudah anaknya siapkan tadi.


Perahu sudah semakin mendekati dermaga, dengan sigap Ervin melompat dan menoleh ke arah orangtuanya. Ia melambaikan tangan pada mereka. Entah mengapa setelah berada di atas kapal, hatinya merasa belum siap untuk berpisah dengan mereka.


"Mas... anak kita sudah besar," Elisa merengkuh suaminya. Mereka berpelukan sambil melihat Ervin yang pergi menjauh.


Di atas dek kapal hanya terdiri dari empat orang saja, dan penumpangnya hanya Ervin seorang.


"Mas... tolong pakai pelampungnya dulu!" seorang awak kapal melemparkan pelampung padanya.


"Memangnya jauh banget ya Pak? kenapa harus pakai pelampung segala?" Ervin berkerut.


"Hanya untuk jaga-jaga saja mas," sahutnya santai.


"Jaga-jaga gimana ya Pak?" Ervin masih tidak mengerti.


Sang awak kapal menghela nafasnya dengan panjang, ia merasakan keengganan untuk bercerita pada orang yang seperti Ervin.


Sepertinya anak ini belum tahu pasti kalau dia akan di kirim ke pulau mana.


"Jaga-jaga dari bahaya mas!" sahutnya lagi.


"Bahaya dari apa Pak?" Ervin masih bingung.


"Sebenarnya pulau ini.....


*


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2