Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 101 Nekad


__ADS_3

"Pak, lebih baik bapak jaga tempat ini! Biar aku yang mengejar maling itu!" Jeffrey menekan tombol agar pagar terbuka.


"Pak tutup lagi gerbangnya! Nanti maling bisa masuk!" Pekik Jeffrey sebelum berlari menjauh dari sana.


"Malingnya dimana sih?" Si Jef ngos-ngosan.


Dia melihat seseorang yang membawa senter dan bertanya tentang maling tadi.


"Mas, katanya ada maling? Mana malingnya?" Tanya Jeffrey penasaran.


"Tadi manjat pagar pak Malik mas, dia keluar dari sana. Makanya saya curiga terus mengejarnya. Tadi dia sempat kami adili di pos jaga kompleks. Tapi ternyata saya salah paham. Hampir saja kami mengeroyoknya kalau saja pak Hendro tidak memberi tahu kalau dia itu anaknya pak Malik," jelas Pria itu panjang lebar.


"Jadi yang keluar dari rumah pak Malik tadi anaknya? Mana dia sekarang mas?" Jeffrey deg-degan.


Dirinya khawatir kalau kena omel bos-nya lagi.


"Ada di pos keamanan kompleks mas. Bilangnya sih mau menunggu seseorang." Pria itu mengendikkan bahunya.


"Makasih ya pak. Aku buru-buru banget nih ke kamar mandi," Jefrey beralasan. Dia berputar arah untuk mengambil motornya yang terparkir di belakang lorong rumah Ervin. Jefrey berlari kencang agar Ervin tidak memarahinya. Dengan cepat dia langsung mengendarai motornya dan menyusul si bos.


"Lebih baik aku telpon dulu," gumamnya setelah sampai di lorong kompleks sebelah.


["Kemana aja kamu Jef?"] Ervin memekik.


["Jemput aku sekarang di keamanan kompleks rumah!"] Titahnya.


"Bos, maaf aku tidak bisa ke sana. Banyak CCTV, kalau bos besar tahu aku bisa dipecat. Lebih baik bos berjalan saja. Aku menunggu di lorong kompleks sebelah. Cepetan bos!" Jefrey langsung memutuskan panggilan.


"Kurang ajar ini curut, langsung matiin segala. Awas aja nanti!" Ervin memikirkan sebuah ide.


"Pak Joko, boleh tidak kalau saya minta antar ke kompleks sebelah? Nanti saya kasih duit deh pak. Kaki saya terkilir ketika berlari tadi," Ervin meringis mencoba menahan sakit walaupun itu hanya aktingnya semata.


"Ayo naik mas! Nggak dibayar nggak apa-apa kok," Pak Joko mengambil motornya yang terparkir rapi di tempatnya. Dia mengendarai motor tersebut dan berhenti di depan pos keamanan.


"Pak, saya pinjem topinya bentar. Nanti saya balikin ke pak Joko," Ervin membuka topi pak Khalid di depannya tanpa persetujuan dari si pria itu.


"Anak jaman sekarang," Pak Khalid geleng-geleng kepala.


Ervin langsung melompat dari motor setelah melihat Jefrey.


"Pak, makasih ya. Aku buru-buru banget nih, nanti aku kasih setelah pulang," Ervin berlari menghampiri karyawannya dan duduk di belakang.


"Cabut Jef!" Ervin tak sabar.

__ADS_1


Mereka mengarungi malam tanpa ada seorangpun yang tahu tentang Ervin yang keluar dari rumah.


Tak sampai setengah jam mereka sudah berada di kompleks perumahan elit kepunyaan Dendi.


"Pak, buka pintunya! Aku harus bertemu dengan Clara!" Ervin menekan tombol bel berkali-kali.


"Duh ngapain mas Ervin kemari?" Si sekuriti serba salah.


"Pak! Buka pintunya cepat!" Ervin tak sabar seraya mendorong pagar besi tersebut.


"Tunggu mas, saya telpon bos dulu."


Setelah mendapatkan respon dari majikannya, pintu gerbang tersebut terbuka lebar.


"Mas Ervin tunggu di sini dulu! Tuan bilang tidak boleh ada orang yang masuk rumah."


"Baiklah pak," Ervin menjawab malas.


Dia duduk di atas motor setelah mereka meletakkan motor di samping pos jaga.


"Clara ada di dalam kan pak? Aku hanya ingin bertemu dengannya. Bukan dengan om Dendi," Ervin menunggu tak sabar.


"Lho, mas Ervin nggak tahu kalau nona menghilang sejak sore tadi sepulang kerja?" Tanya si bapak.


"Jangan boong pak? Sejak kapan Clara ilang? Nggak mungkin dia hilang begitu saja. Bukannya ada sopir pribadinya? Kenapa dia bisa hilang segala? Nggak mungkin diculik kan?" Ervin mendadak khawatir.


"Lepaskan mas!" Bapak itu berontak.


"Bos jangan bar-bar ngapa?" Jef jengah dengan sikap panas baran bos-nya.


Ervin ditepuk dari belakang, Frank dan Dendi ternyata sudah berada di dalam gerbang.


"Kalian ngapain kemari?" Dendi berkacak pinggang.


"Om lupa kalau berjanji mempertemukanku dan Clara selama dua jam?" Ervin menagih janji.


"Bukannya lupa tapi Clara entah dimana. Ponselnya tidak bisa dilacak." Dendi terlihat putus asa.


"Royan, mana Royan om? Aku yakin kalau dia tahu tentang kejadian ini," Ervin yakin.


"Dia mencari Clara dengan anak buahku yang lain."


"Tapi, tunggu dulu kenapa kamu bisa kenal dengan Royan?" Dendi mengernyit.

__ADS_1


"Hah? Royan bekerja di sini bos?" Jeffrey menoleh pada Ervin. Bos-nya mengangguk.


"Wah ternyata kalian sudah ditipu Royan. Dia itu licik dan pintar berkelit, mana males kerja lagi," Jef jadi teringat masalalu.


"Apa maksud mereka Frank? Kamu memberikan aku seorang parasit?" Dendi menoleh pada tangan kanannya.


"Saya hanya menurut pada Toni tuan, Toni yang menyuruh saya agar mempekerjakan Royan. Saya tidak tahu sebelumnya dia kerja dimana," Frank menyesal karena tidak berhati-hati.


"Toni? Maksud kalian pak De Toni? Kalian kenal?" Ervin penasaran.


"Tentu saja aku kenal dengan Toni, dia kan sekampung denganku. Kamu lupa Vin asal-usulmu?" Dendi mencibir.


"Maaf om, aku tidak mau berdebat. Aku harus menemukan Clara, kalau begitu aku akan mencoba mencarinya dengan caraku," Ervin hendak melangkah pergi.


Tangannya ditarik kasar oleh Dendi.


"Kamu tahu Royan berhubungan dengan siapa aja?" Dendi kehabisan ide.


"Entahlah om, aku tidak yakin. Tapi kita harus tahu lokasi terakhir Clara. Dimana dia terlihat terakhir kali. Kita bisa mengecek CCTV yang ada di lokasi tersebut dan bisa mengetahui keberadaan Clara," Ervin memberikan pandangannya.


"Frank kenapa kita harus menunggu anak ini untuk mengatakan itu?" Dendi berbisik pada tangan kanannya. Dia menatap Frank dengan tajam.


"Laksanakan sekarang Frank!" Perintah Dendi.


Frank berlari ke garasi rumah, entah apa yang diperbuatnya. Ervin tidak mengerti dengan dua orang dewasa di depannya tadi. Mereka sepertinya banyak menyimpan rahasia besar.


"Tuan," Frank berlari tak sabar.


"Lokasi terakhir alat pelacak gadget ada di sini! Kita harus segera mengecek lokasi," Frank terburu-buru masuk ke mobil dan menyalakan mesin kendaraan.


"Om, aku ikut!" Ervin ingin masuk ke mobil tersebut.


"Lancang kamu anak muda! Pergi dari sini! Rumah ini bukan tempat untuk bermain-main. Pergi kalian!" Dendi menutup pintu mobil dengan keras. Gerbang terbuka lebar tanpa aba-aba dari Dendi karena pria itu yang menekan remote pagar jarak jauh yang tersimpan dimobil.


"Bagaimana ini bos? Kita pulang saja yuk! Mereka tidak akan tinggal diam. Pasti mereka menemukan Clara kembali," Jefrey menarik tangan bos-nya agar mau duduk di jok belakang.


Ervin terdiam seraya memikirkan keadaan. Dia tidak mau berdiam diri sebelum kekasihnya ditemukan.


"Royan, kita harus ...


*


*

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2